Kumparan Logo

Membandingkan Karier Pasangan Suami-Istri, Jay Z dan Beyonce

kumparanHITSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jay Z dan Beyonce (Foto: Instagram @beyonce)
zoom-in-whitePerbesar
Jay Z dan Beyonce (Foto: Instagram @beyonce)

Jay Z dan Beyonce adalah pasangan musisi Amerika yang selalu punya gebrakan baru di industri musik atau bisnis. Setelah pada 4 April 2008 keduanya menikah secara diam-diam, kini mereka telah memiliki 3 orang anak, Blue Ivy Carter, dan si kembar Rumi dan Sir Carter.

Tahun 2018 ini, 8 nominasi menjadikan Jay Z artis dengan nominasi terbanyak di Grammy Awards 2018. Artinya ia menjadi pemecah rekor setelah di tahun lalu 9 nominasi menjadikan sang istri, Beyonce, sebagai artis dengan nominasi terbanyak di Grammy Awards 2017.

Maka dari itu, kumparan (kumparan.com) mencoba membandingkan awal karier, karya bermusik, prestasi bermusik, dan karya di luar musik pasangan musisi fenomenal asal Amerika ini.

1. Awal Karier

Jay Z (Foto: Facebook @JayZ)
zoom-in-whitePerbesar
Jay Z (Foto: Facebook @JayZ)

Penyanyi Jay Z harus menjual narkoba sejak remaja untuk mendapatkan uang, Ia kemudian mulai mengenal dunia rap setelah menjadi murid di Sekolah Menengah George Westinghouse dan bertemu dengan 2 rapper senior, The Notorious B.I.G dan Busta Rhymes.

Di awal karier, Jay-Z muda sudah berkontribusi di beberapa lagu milik rapper ternama era 90an, seperti ‘The Originators’ milik Jaz O, ‘Da Graveyard’ milik Big L, dan ‘Time To Build’ milik Mic Geronimo.

Single solo pertama yang berjudul ‘In My Lifetime’, dirilis di tahun 1995 dan album perdananya yang bertajuk ‘Reasonable Doubt’, dirilis satu tahun setelahnya. Baik single mau pun album perdana, Jay Z rilis secara independen menggunakan label yang ia ciptakan bersama Damon Dash, Roc-A-Fella Records.

Keberanian Jay Z muda, akhirnya mengantarkan album tersebut bertengger di posisi 248, ‘500 Greatest Albums of All Time’ versi RollingStone Magazine.

Beyonce (Foto: Facebook Beyonce)
zoom-in-whitePerbesar
Beyonce (Foto: Facebook Beyonce)

Sementara Beyonce, mulai tertarik terjun ke dunia hiburan sejak duduk di bangku SD. Ia pertama kali menyita perhatian masyarakat di kota kelahirannya, Houston, Amerika, ketika berhasil membawakan lagu 'Imagine' milik John Lennon di usia 7 tahun.

Berawal dari pertemuan dengan rapper LaTavia Roberson di tahun 1990, Beyonce kemudian mendirikan sebuah girl band bernama Girl’s Tyme di tahun 1992.

Girl band inilah yang pada tahun 1996 akhirnya bertransformasi menjadi Destiny’s Child, dan melambungkan nama Beyonce lebih tinggi lagi di industri musik dunia.

Hanya butuh 1 tahun sebelum akhirnya Destiny’s Child merilis single perdana berjudul ‘Killing Time’. Lagu tersebut kemudian sukses terpilih menjadi soundtrack dari film ‘Men In Black (1997).

Di tahun yang sama, mereka merilis album bertajuk ‘Destiny’s Child’ dengan single andalan ‘No, No, No’ yang langsung berhasil memenangkan 3 piala di ajang Soul Train Music Awards 1997.

Mereka berhasil menang lewat kategori 'Best R&B/Soul Album of the Year', 'Best R&B/Soul or Rap New Artist', dan 'Best R&B/Soul Single' untuk lagu 'No, No, No'.

2. Karya musik

Jay Z (Foto: Facebook @JayZ)
zoom-in-whitePerbesar
Jay Z (Foto: Facebook @JayZ)

Produktivitas Jay Z saat muda, dalam menciptakan karya-karya berkualitas di era 90an sangatlah tinggi. Setiap tahun mulai dari 1996 sampai 1999, Jay Z sukses merilis 4 album.

Mulai dari ‘Reasonable Doubt’ (1996), ‘In My Lifetime, Vol. 1’ (1997), ‘Vol. 2... Hard Knock Life’ (1998), dan ‘Vol. 3... Life and Time of S. Carter’ (1999).

Meski ‘Reasonable Doubt’ (1996) hanya berada di posisi 23 Billboard Top 200, tapi album ‘Vol. 3... Life and Time of S. Carter’ (1999), berhasil sukses memuncaki tangga lagu Amerika tersebut.

Masa keemasan Jay Z ada di era 2000-an awal. Dari tahun 2000 sampai 2009, Jay Z yang di era ini juga menikah dengan Beyonce, sukses menelurkan 7 album.

Mulai dari ‘The Dynasty: Roc La Familia’ (2000), sampai ‘The Blueprint 3’ (2009). Semua album Jay Z di era tersebut, laku terjual di pasaran hingga ratusan bahkan jutaan kopi.

Memasuki masa sebagai rapper senior, Jay Z yang sudah memiliki banyak bisnis, tetap konsisten bermusik. Bahkan setelah memiliki 3 orang anak, Blue Ivy Carter, dan si kembar Rumi dan Sir Carter, Jay Z mampu menelurkan 2 album, ‘Magna Carta Holy Grail’ (2013), dan ‘4:44’ (2017). ‘4:44’ (2017).

Dua karya milik Jay Z itu juga digadang-gadang sebagai album paling revolusioner karya rapper senior era 90an, di era milenial.

Formation World Tour sukses digelar Beyonce di 49 negara (Foto:  Official account Instagram Beyonce @Beyonce)
zoom-in-whitePerbesar
Formation World Tour sukses digelar Beyonce di 49 negara (Foto: Official account Instagram Beyonce @Beyonce)

Di lain sisi, ketika di awal karier Beyonce tergabung di Destiny’s Child, karyanya di era 90an semua berasal dari girl band tersebut. Lahir di akhir era 90an, membuat Beyonce dan Destiny’s Child hanya mampu menelurkan 2 album, ‘Destiny’s Child’ (1998) dan ‘The Writing’s on the Wall’ (1999).

Meski begitu, kedua album tersebut sangatlah fenomenal. Terbukti dari album debut ‘Destiny’s Child’ (1998) yang sukses diganjar sertifikat platinum oleh Asosiasi Industri Rekaman Amerika (RIAA).

Era 2000an menjadi titik awal karier solo Beyonce di blantika musik dunia. Meski masih menelurkan 2 album, ‘Survivor’ (2001) dan ‘Destiny Fulfiled’ (2004), bersama Destiny’s Child, ia sudah mulai berani mencuri perhatian seorang diri dengan merilis album solo bertajuk ‘Dangerously In Love’ pada tahun 2003.

Kesuksesannya bersolo karier jelas membuat Beyonce semakin haus untuk berkarya, hingga akhirnya Destiny’s Child bubar di tahun 2006. Ia lalu menelurkan album ‘B’Day’ di tahun yang sama.

Dua tahun berselang, Beyonce kembali merilis album bertajuk ‘I Am... Sasha Fierce’ (2008), yang menyita perhatian dunia. Sembilan tahun berselang, di tahun 2017 album ‘I Am... Sasha Fierce’ bahkan masih berada di posisi 55 tangga lagu Australia.

Meski telah menjadi ibu 3 anak, sepertinya produktivitas Beyonce dalam bersolo karir justru semakin meningkat. Terbukti dari 3 album yang ia telurkan dari tahun 2011 sampai 2016 bertajuk, ‘4’, ‘Beyonce’, dan ‘Lemonade’.

Lagi-lagi, semua album Beyonce di era milenial membuktikan bahwa umur bukan penghalang bagi seorang musisi untuk berkarya dan berprestasi.

3. Penghargaan musik

Blue Ivy, Jay Z, dan Beyonce (Foto: REUTERS/Mario Anzuoni)
zoom-in-whitePerbesar
Blue Ivy, Jay Z, dan Beyonce (Foto: REUTERS/Mario Anzuoni)

Selama berkarier, Jay Z telah berhasil memenangkan 89 penghargaan dari 209 nominasi, termasuk 21 Grammy Awards, 8 MTV Video Music Awards, 7 BET Awards, 3 American Music Awards, dan 2 Billboard Music Awards.

Tahun ini, Jay Z mencatatkan rekor setelah berhasil masuk sebagai nominasi di 8 kategori Grammy Awards 2018 lewat album ‘4:44’. Meski harus bertarung dengan banyak musisi muda, seperti Kendrick Lamar, Bruno Mars, dan Ed Sheeran, nyatanya karya Jay Z memang terbukti masih hebat dan layak untuk didengarkan dan diapresiasi.

Prestasi serupa sebetulnya bukan hal baru bagi rapper sehebat Jay Z. Ia yang digadang-gadang sebagai raja rap era milenial, pernah masuk sebagai nominasi di 9 kategori dalam perhelatan Grammy Awards 2014.

Sayangnya, saat itu Jay Z hanya berhasil menang 2 kategori, 'Best Rap Song' lewat lagu ‘Holy Grail’ dan 'Best Music Video' lewat lagu ‘Suit & Tie’, hasil kolaborasinya dengan Justin Timberlake.

Beyonce dalam Peter Dundas. (Foto: REUTERS/ Mike Blake)
zoom-in-whitePerbesar
Beyonce dalam Peter Dundas. (Foto: REUTERS/ Mike Blake)

Sedangkan sang istri, Beyonce, telah berhasil memenangkan 305 penghargaan dari 835 nominasi yang di dapat, termasuk 24 MTV Video Music Awards, 22 Grammy Awards, 11 Billboard Music Awards, 8 American Music Awards, dan 4 World Music Awards.

Karena tak merilis album baru di tahun lalu, Beyonce memang tak berhasil masuk ke Grammy Awards 2018. Namun pada perhelatan Grammy Awards 2017, nama Beyonce berhasil masuk nominasi di 9 kategori.

Meski hanya memenangkan 1 kategori, ia harus mengakui kehebatan Adele yang di tahun itu memborong banyak piala Grammy Awards. Namun Beyonce tetap harus berbangga hati atas torehan rekornya tersebut.

Tapi Beyonce sebelumnya sudah pernah mendapat penghargaan yang lebih spektakuler. Ia berhasil memenangkan 6 kategori dari 10 nominasi di Grammy Awards 2010 lewat albumnya yang paling fantastis, ‘I Am... Sasha Girl’.

4. Karya di luar musik

Jay-Z (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Jay-Z (Foto: Wikimedia Commons)

Bakat berbisnis Jay Z memang sudah tumbuh sejak remaja. Setelah di tahun 1995 membuat sebuah label Independen Roc-La-Familia di tahun 2005, ia menciptakan sebuah clothing line bernama 'Rocwear'.

Bisnis tersebut menjual berbagai pakaian untuk pria, wanita dan anak-anak. Dari jerih payahnya membangun 'Rocwear', akhirnya Jay Z mampu menjadi salah satu pemilik dari '40/40 Club', sebuah bar olahraga yang berlokasi di New York, Atlantic City, dan Chicago.

Demi menghidupi keluarga kecilnya pada tahun 2013, ia juga menjadi salah satu pemegang saham di klub basket asal New Jersey, Brooklyn Nets dan executive producer di game konsol NBA 2K13.

Tahun 2014, Jay-Z kembali menaruh sahamnya di perusahaan champagne asal New York, 'Armand de Brignac'. Selain itu pada tahun 2015, ia juga sukses mengakuisisi perusahaan media teknologi asal Norwegia, Aspiro, yang mengoprasikan aplikasi musik daring, Tidal.

Saat ini, ia juga sibuk mempromosikan album terbarunya, ‘4:44’ (2017) lewat aplikasi musik tersebut.

Selain berbisnis nama Jay Z juga kerap kali tampil di berbagai bioskop di seluruh dunia. 'Street Is Watching' (2008), 'Paper Soldiers' (2002), dan 'Documentary: American Made' (2013), adalah 3 judul dari beberapa film yang pernah dibintangi Jay Z.

Beyonce (Foto: Instagram @beyonce)
zoom-in-whitePerbesar
Beyonce (Foto: Instagram @beyonce)

Sementara Beyonce, memiliki kecintaan terhadap bisnis karena berasal dari keluarga pengusaha, dan punya ketertarikan pada dunia kecantikan dan fashion. Beyonce merilis 3 parfum, 'Heat' tahun 2010, 'Heat Rush' tahun 2011, dan 'Pulse' tahun 2013.

Pada tahun 2014, Beyonce menanda tangani kontrak untuk menciptakan proyek baju olahraga bersama perusahaan retail asal Inggris, Topshop. Proyek ini diberi nama 'Ivy Park' dan dirilis secara resmi pada tahun 2016.

Selain aktif berbisnis, Beyonce juga aktif berkecimpung di dunia sosial. Setelah Badai Katrina yang menimpa Amerika di tahun 2005, Beyonce membentuk Survivor Foundation untuk para korban di kampung halamannya, Houston, Texas, Amerika Serikat.

Sampai saat ini, yayasan tersebut masih berjalan dan telah membantu banyak korban yang terrimpa musibah di Amerika.