Membandingkan Tangan Dingin Rizal Mantovani dan Joko Anwar

Beberapa waktu belakangan, film bergenre horor dan thriller sedang kembali digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Sebut saja beberapa film horor dan thriller Indonesia yang kembali meramaikan bioskop-bioskop di Indonesia seperti, ‘Danur’, ‘Pengabdi Setan’ dan ‘Keluarga Tak Kasat Mata’.
Ketika berbicara tentang sutradara film yang memacu adrenalin ini, nama Rizal Mantovani dan Joko Anwar pasti sudah tidak asing di telinga para penggemar film horor dan thriller lokal.
Rizal Mantovani adalah seorang sutradara yang saat ini sudah berusia 50 tahun. Memulai kariernya sebagai salah satu dari 4 sutradara film ‘Kuldesak’, yang dirilis pada tahun 1999. Kemudian nama Rizal mulai melejit setelah sukses menyutradari film ‘Jelangkung’ pada tahun 2001.
Film ‘Jelangkung’ sendiri pada masanya, berhasil membangkitkan animo masyarakat untuk menonton film horor yang sebelumnya sempat redup di era 1990-an.
Kesuksesannya itu, membuat Rizal semakin mantap melaju sebagai sutradara film-film seram di Indonesia. Terbukti dari 24 film yang disutradarai, 13 di antaranya adalah film yang bergenre horor atau thriller.
Sedikit berbeda dari Rizal, nama Joko Anwar awalnya tidak dikenal sebagai seorang sutradara spesialis horor dan thriller. Karier sutradara asal Sumatra Utara yang berusia 9 tahun lebih muda dari Rizal Mantovani ini, mulai menanjak setelah sukses menjadi sutradara di film drama komedi remaja yang dibintangi oleh Nicholas Saputra, berjudul ‘Janji Joni’ pada tahun 2005.

Namun, kenapa nama Joko Anwar kini dikenal sebagai sutradara yang piawai memprakarsai sebuah film bergenre horor dan thriller?
Semua berawal dari film ‘Dead Time: Kala’ yang disutradarai pada tahun 2007. ‘Dead Time: Kala’ merupakan film bergenre thriller noir pertama di Indonesia, yang digadang-gadang sebagai sebuah lompatan besar dalam sejarah perfilman Indonesia oleh para kritikus film.
Thriller noir sendiri adalah genre film yang biasanya mengangkat tema seputar tindak kriminal yang menekankan pada keambiguan moral dan hasrat seksual.
Selain itu, film horor dan thriller lainnya yang ia sutradarai seperti, ‘Modus Anomali’, ‘Pintu Terlarang’ dan reboot dari film horor 1980-an, ‘Pengabdi Setan’. Sejak adanya film tersebut, film horor tanah air sekarang ini mampu menumbuhkan kembali animo masyarakat untuk menonton film horor dan thriller.
Ada beberapa perbedaan dan kemiripan jika membandingkan gaya film yang disutradarai baik oleh Rizal atau Joko.
Film-film seram karya Rizal Mantovani biasanya lebih menekankan pada kengerian hantu-hantu lokal seperti pocong dan kuntilanak. Selain itu, dari film-filmnya seperti, ‘Jelangkung’, ‘Taring’, ‘Firegate: Piramid Gunung Padang’ dan ‘Jenglot Pantai Selatan’ terlihat kalau Rizal senang mengangkat tema yang berkisar di aktivitas-aktifitas mistis tanah air.
Berbeda dari Rizal, Joko Anwar lebih suka film horor dan thriller yang memiliki background cerita yang aneh, sedikit rumit dan tak biasa. Sebut saja film ‘Dead Time: Kala’ dan ‘Modus Anomali’.

Film tersebut yang memiliki plot dan background yang agak berbelit-belit, namun mengundang rasa penasaran dan kagum dari masyarakat yang menontonnya.
Jika ingin melihat persamaan mereka berdua, baik Rizal atau pun Joko adalah sutradara yang lebih dari sekadar hebat. Mereka tidak hanya berhasil menjadi sutradara film-film yang bergenre horor dan thriller, tapi juga berhasil menyutradarai film-film bergenre lain seperti, drama, komedi dan action.
Coba lihat saja film-film Rizal yang diangkat dari novel atau tokoh nyata seperti, ‘5 cm’ (dari novel karya Donny Dhirgantoro), ‘Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh’ (dari novel Dewi ‘Dee’ Lestari) dan yang terbaru adalah ‘Chrisye’ (film biopik tentang musisi Chrisye).
Ketiga film itu, berhasil memikat masyarakat penikmat film Indonesia dan menumbuhkan trend-trend , serta gebrakan baru baik di kehidupan nyata atau dunia perfilman.
Sementara Joko Anwar, melalui perannya sebagai penulis pada film-film drama komedi yang apik seperti ‘Arisan’, 'Janji Joni’ dan ‘Quickie Express’, mampu membuat para penikmat film Tanah Air terpingkal-pingkal.
Tak hanya itu, lewat skenario yang ditulisnya itu, ia juga mampu mengangkat nama-nama seperti, Tora Sudiro (Arisan dan Quickie Express) Nicholas Saputra (Janji Joni) hingga Aming (Quickie Express), menjadi tenar seperti sekarang.
Atas kerja kerasnya selama kurang lebih puluhan tahun sebagai sutradara, Rizal Mantovani memenangkan banyak penghargaan. Mulai dari Sutradara Terpuji di Festival Film Bandung 2013 dari film ‘5 cm’, Sutradara Terbaik di Video Musik Award 1993 dari video clip 'Cuma Khayalan’ (Oppie Andaresta), dan Sutradara Film Terbaik di Bali International Film Festival 2003 dari film 'Kuntilanak 3'.
Begitu juga Joko Anwar, selama menjadi sutradara, ia telah banyak memenangkan berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri seperti, Best Movie di MTV Movie Award 2005 dari film ‘Janji Joni’, Jury Prize di New York Asian Film Festival 2007 dari film ‘Dead Time: Kala’.
Lalu Joko juga berhasil memenangkan penghargaan pada ajang Network of Asian Fantastic Film (NAFF) di Korea Selatan, pada tahun 2012 dari film ‘Modus Anomali’.
