Menghidupkan Kembali Studio Rekaman Lokananta Melalui Bedah Buku

Menjadi perusahaan rekaman tertua di Indonesia sejak tahun 1956 tentu tidak mudah. Itu adalah alasan mengapa Lokananta terus mencari cara untuk bertahan hidup.
Acara bertajuk 'Tribute to Lokananta' pun digelar di Galeri Indonesia Kaya,Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat (27/1). Acara itu dihadiri oleh Kepala Lokananta dan ketiga penulis buku. Keempat pembicara ini pun bertutur bagaimana sepak terjang Lokananta sebagai perusahaan rekaman tertua yang namanya mungkin sangat jarang didengar oleh kuping masyarakat Indonesia.
"Waktu saya pertama kali ke Solo, saya sengaja mendatangi spot yang banyak anak mudanya. Saya pura-pura jadi turis dan bertanya kepada anak muda di sana di mana lokasi Lokananta. Jangankan lokasi, banyak yang tidak tahu Lokananta itu apa," cerita Miftah selaku Kepala Lokananta.

Kemirisan itulah yang membuat Dzulfikri Putra Malawi, Fakhri Zakaria, dan Syaura Qotrunada selaku penulis menerbitkan buku 'Lokananta' pada Oktober 2016. Ketiganya bekerja sama dengan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) cabang Surakata untuk menerbitkan buku tersebut.

Menjadikan Lokananta sebagai creative space adalah salah satu cita-cita Miftah untuk memajukan kembali Lokananta. Hal itu menjadi salah satu strategi bisnis Miftah agar musisi-musisi Indonesia mau berkarya dan merekam lagu-lagu mereka di studio yang terkenal seluas lapangan sepak bola itu. Dengan begitu, perputaran uang Lokananta akan terus mengalir.
"Orang harus aware dulu kalau Lokananta itu masih ada. Ketika dia tahu potensinya apa dan ketemu dengan calon rekanan, ngobrolnya pasti sudah enak dan bisa straight to the business," ucap Miftah.
Selain membedah isi setiap bab dari buku tersebut, tribut ini juga turut menampilkan dua musisi., yakni Junior Soemantri yang membuka acara sesi pertama diskusi dan Vega Antares yang didapuk untuk mengisi sesi kedua.
