Kumparan Logo

Menikmati Pameran Karya Seni Interaktif 'Terra Nexus' di Art & Bali 2025

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pameran new media art "Terra Nexus" di Art & Bali 2025, Nuanu Creative City, Bali.  Foto: Dok. Nuanu Creativity City
zoom-in-whitePerbesar
Pameran new media art "Terra Nexus" di Art & Bali 2025, Nuanu Creative City, Bali. Foto: Dok. Nuanu Creativity City

Di sebuah sudut pameran, berbagai bahan pembuatan sambal tersambung ke sebuah komputer melalui kabel-kabel dan circuit board. Ketika bahan-bahan sambal itu disentuh, muncul suara-suara yang bernada dari speaker komputer.

Instalasi itu mengundang rasa penasaran beberapa pengunjung. Mereka mengerumuni sudut pameran milik Utami Atasia Ishii dan bertanya apa yang sedang ia tampilkan.

Seniman Utami Atasia Ishii dan instalasi "How Do You Taste? Series No. 004" di pameran Terra Nexus, Art & Bali 2025 di Nuanu Creative City, Bali. Foto: Dok. Nuanu Creative City

Utami, atau yang akrab disapa Tami, adalah salah satu peserta pameran berjudul Terra Nexus di ajang Art & Bali 2025, sebuah gelaran seni internasional di Nuanu Creative City, 12-14 September 2025.

Di instalasi itu, Tami menampilkan visual mikroskopik sambal, video pembuatan sambal, dan bahan-bahan pembuatan sambal seperti cabai, tomat, hingga bawang yang disambungkan dengan perangkat lunak pembuatan musik.

Bahan-bahan pembuatan sambal itu menjadi semacam tuts yang ketika dialiri listrik dari sentuhan tangan manusia, diterjemahkan jadi nada yang dibunyikan oleh speaker.

Melalui karya instalasi berjudul "How Do You Taste? Series No. 004" ini, Tami mengajak pengunjung kembali mengapresiasi sambal dengan perspektif yang tidak biasa.

"Saya makan sambal mungkin hampir setiap hari, tapi saya kok kurang memperhatikan, ya," ujar Tami kepada kumparan. "Kalau dilihat biasa, ya, mungkin sambal hanya terlihat merah. Tapi di hasil foto-foto mikroskopiknya, ada detail-detail kecil yang indah, bahkan bisa menjadi referensi lukisan."

Seniman Utami Atasia Ishii, di depan karyanya, How Do You Taste? Series No. 004, dalam pameran Terra Nexus di Art & Bali 2025, Nuanu Creative City, Bali. Foto: Gadi Kurniawan Makitan/kumparan

Dari karya ini, Tami ingin menyampaikan bahwa sesuatu yang tampaknya remeh, ketika dialami dari perspektif yang lain, bisa menghasilkan persepsi yang baru.

Keseharian Seorang Ayah hingga Sound Horeg

Di samping kanan-kiri instalasi milik Tami, ada karya seniman Popo Mangun, yang dalam pameran ini bereksperimen dengan material keramik.

Bertajuk "House of Home 2.0", karya ini merupakan lanjutan dari pameran tunggalnya di Jakarta, "House of Home", yang menggunakan media lukisan.

Di karya lanjutan ini, Popo berusaha mengabadikan rutinitasnya sebagai seorang ayah dari bangun tidur hingga tidur lagi. Ia menorehkan pola-pola grafis di atas keramik, yang merupakan media yang sering ditemukan di rumah kebanyakan orang.

"House of Home 2.0" karya Popo Mangun di "Terra Nexus" Art & Bali, Nuanu Creative City, Bali. Foto: Dok. Nuanu Creative City

"Yang ada di sini adalah pola dalam siklus hidup saya," ujar Popo. Seniman yang berdomisili di Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini menghabiskan waktu cukup lama untuk mencatat kesehariannya, lalu menentukan rutinitas apa saja yang konsisten ia lakukan, dan akhirnya menentukan simbol-simbol apa yang mewakilinya.

Di depan instalasi Popo dan Tami, seniman Dadi Setiyadi menampilkan "Daun to Earth". Di instalasi berbentuk pohon ini, pengunjung bisa menuliskan harapan-harapannya untuk Bumi dan menggantungkan kertas berbentuk daun di ranting pohon itu.

Instalasi itu seakan menjadi simbol terhubungnya harapan-harapan pengunjung ke Bumi. Setiap orang yang menuliskan harapannya juga bisa menyumbangkan sejumlah uang yang nantinya akan disalurkan ke pihak yang membutuhkan.

Seniman Dadi Setiyadi di depan karyanya, Daun to Earth, dalam pameran Terra Nexus di Art & Bali 2025, Nuanu Creative City, Bali. Foto: Gadi Kurniawan Makitan/kumparan

Di area lain, Mukhamad Aji Prasetyo, seniman asal Jawa Timur, menggunakan sirkuit elektronik dan sensor sebagai medianya. Siluet akrilik yang menyerupai hewan-hewan dipasang di dinding, melapisi sirkuit elektronik dan sensor yang ada di belakangnya.

Saat siluet itu disinari oleh senter dari handphone pengunjung, muncul bunyi-bunyian dengan berbagai macam frekuensi.

"Kicau Kacau" karya Mukhamad Aji Prasetyo di "Terra Nexus", Art & Bali 2025, di Nuanu Creative City, Bali. Foto: Dok. Nuanu Creative City

Aji, yang juga merupakan dosen seni rupa di Makassar, menggunakan karya berjudul "Kicau-Kacau" ini sebagai kritik terhadap berisiknya"sound horeg" yang oleh penggemarnya dianggap normal.

Mendekatkan Aktivitas Apresiasi Seni ke Orang Awam

Tami, Popo, Dadi, dan Aji adalah sebagian dari 30 seniman yang berpartisipasi dalam Terra Nexus.

Kurator Terra Nexus, Mona Liem, melihat seni ber-genre new media art seperti yang ada di Terra Nexus ini sebagai jembatan antara karya seni dengan orang-orang awam.

Di sini, pengunjung yang biasanya dilarang menyentuh apa pun di museum, justru didorong untuk berinteraksi dengan karya seni secara fisik.

Mona pun mengapresiasi siapa saja yang datang ke pameran ini.

"Nggak cuma orang yang berpengetahuan seni. Yang datang ke sini untuk main-main, juga tidak apa-apa. Yang datang ke sini untuk foto-foto untuk Instagram, nggak apa-apa juga," ujarnya. "Ini adalah gerbang bagi orang-orang untuk lebih tertarik mengapresiasi karya seni."