Menyandingkan Karier Joko Anwar dan Anggy Umbara

Begitu mendengar nama Joko Anwar dan Anggy Umbara, kita tentu akan teringat pada hasil karya keduanya. Sudah banyak film yang telah mereka garap.
Film yang dibuat oleh Joko dan Anggy bahkan mampu meraup jutaan penonton. Hal itu misalnya bisa terlihat dari pencapaian jumlah penonton film ’Pengabdi Setan’ dan ‘Warkop DKI Reborn’.
Kali ini kumparan menyandingkan perjalanan karier Joko Anwar dan Anggy Umbara. Pertama kita membahas Joko.
Meski kini dikenal sebagai salah satu sutradara kenamaan di Indonesia, ternyata Joko tidak memiliki latar belakang pendidikan di perfilman. Ia merupakan lulusan ITB dengan jurusan Teknik Penerbangan.
Pria berusia 42 tahun ini sebenarnya sudah tertarik dengan dunia seni peran dari sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, ia menulis dan menyutdarai pertunjukan drama.
Namun sayangnya, Joko tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah film karena terkendala biaya. Setelah lulus kuliah, ia bekerja di The Jakarta Post.
Dari situ mulai terbuka pintu bagi Joko untuk terjun ke dunia perfilman. Kala itu, ia mendapat tugas untuk mewancarai produser dan sutradara Nia Dinata.
Nia yang terkesan dengan Joko akhirnya mengajak pria kelahiran Medan itu untuk menulis proyek film yang diberi judul ‘Arisan’. Film itu sukses dan menuai banyak pujian.
Setelah sukses sebagai penulis, Joko mengembangkan sayapnya menjadi sutradara lewat film ‘Janji Joni’ yang dirilis pada 2005. Ia mengatakan film itu terinspirasi dari pengalaman pribadinya ketika kuliah di Bandung.
Pada tahun 1998, Joko kala itu sedang asyik menikmati film yang dibintangi Brad Pitt. Tapi, ia tak bisa menyaksikan film tersebut hingga tuntas.
“Tayangan filmnya berhenti sebelum ceritanya tuntas,” kata Joko.
Film yang dibintangi Nicholas Saputra dan Mariana Renata itu meraih kesuksesan. Misalnya saja meraih Best Movie di MTV Indonesia Movie Awards tahun 2005. Selain itu, ‘Janji Joni’ juga berhasil masuk dalam seleksi beberapa festival film internasional, seperti Sydney Film Festival.
Usai ‘Janji Joni’, Joko kembali menuai pujian lewat film ‘Kala’ yang dirilis pada 2007. Film yang dibintangi oleh Fachry Albar ini berhasil memenangkan beberapa penghargaan, salah satunya di New York Asian Film Festival.
Setelah itu, Joko menggarap film ‘Pintu Terlarang’, yang tayang pada 2009. Film ini mendapat respons positif dari para kritikus.

Film ‘Pintu Terlarang’ tidak hanya masuk dalam seleksi beberapa festival internasional, tapi juga memperoleh penghargaan sebagai Film Terbaik di Punchon International Fantastic Film Festival 2009.
Kesuksesan kembali diraih Joko lewat film ‘Pengabdi Setan’ yang rilis pada 2017. Tidak hanya menjadi film terlaris para 2017, tetapi juga menggondol banyak penghargaan dan prestasi yang mencengangkan.
Salah satu penghargaan yang berhasil diraih ‘Pengabdi Setan’ adalah Festival Film Indonesia 2017. Film tersebut juga berhasil menjadi box office di negara lain, seperti Malaysia, Singapura, dan Meksiko.
“Di Thailand dan Meksiko masuk 10 besar top box office, ngalahin beberapa film Hollywood kayak The Shape of Water," ucap Joko.

Kini Joko tengah disibukkan dengan pembuatan film ‘Gundala’, yang proses produksinya akan dimulai pada bulan ini. Meraih kesuksesan di film ‘Pengabdi Setan’, menjadi beban tersendiri buat Joko ketika menggarap ‘Gundala’.
“Tentunya beban lebih berat, karena aku ingin film terakhir aku, film terbaik aku. Jadi, setelah aku bikin satu film, aku enggak mau tidak berhasil dari film yang sebelumnya," tutur Joko.

Sementara, Anggy sebelum terjun menjadi seorang sutradara dikenal sebagai personel grup band rock Purgatory. Ia menjadi seorang DJ di band tersebut.
Selain itu, pria berusia 35 tahun ini juga rajin membuat puluhan video klip artis Indonesia, seperti Dewa 19, Agnes Monica, hingga ST 12. Meski begitu, Anggy tak bisa lepas dari dunia seni peran.
Maklum Anggy dari sejak kecil sudah dikenalkan oleh ayahnya, Danu Umbar mengenai perfilman. “Di badan gue mengalir darah musisi sekaligus sutradara,” ujarnya.
Anggy pertama kali menggeluti profesi sebagai sutradara pada 2012 lewat film ‘Mama Cake’. Namun sayangnya, film perdananya tersebut tidak meraih kesuksesan di pasaran.
Meski begitu, Anggy tidak menyerah untuk terus berkarya. Sebab, ia bisa merasakan kebebasan dalam berkreasi.
“Makanya gue ketagihan (di film),” kata Anggy.
Setelah ‘Mama Cake’, Anggy menyutradarai film 'Coboy Junior The Movie' yang rilis pada 2013. Film tersebut cukup sukses dengan meraih jumlah penonton sebanyak 683.604.
Kesuksesan diperoleh Anggy ketika menyutradarai film ‘Comic 8’. Film itu paling laris ditonton pada 2014 dengan jumlah penonton sebanyak 1.624.067. Film ini juga mendapatkan penghargaan dari Festival Film Bandung 2014 dalam kategori 'Penata Editing Terpuji'
Kesuksesan kembali didapatkan oleh Anggy ketika menyutradarai film ‘Warkop DKI Reborn’. Film ‘Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1’ berhasil menjadi sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan raihan 6.856.616 penonton.

Film ‘Suzanna’ menjadi karya terbaru Anggy. Pria kelahiran Jakarta ini mengaku sangat tertarik dengan ceritanya yang menarik.
"Ambil cerita yang menarik, bisa ada passion buat gua mengerjakannya. Kayak Suzanna itu menarik, legenda untuk diangkat lagi asyik sih,” ucap Anggy.
Keputusan Anggy mengambil film 'Suzanna' karena dari kecil ia sudah terbiasa menyaksikan sosok hantu perempuan itu.
“Menurut saya itu film paling seram di Indonesia, tapi lucunya juga ada. Suzanna juga seorang legenda," kata Anggy.
Begitulah perjalanan karier Joko Anwar dan Anggy Umbara. Nah, siapa sutradara favoritmu, Joko atau Anggy?
