kumparan
28 Juni 2018 21:16

Muhadkly Acho Hobi Main Werewolf

Muhadkly Acho
Muhadkly Acho di kumparan. (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan)
Muhadkly Acho tengah keranjingan memainkan board game bernama Werewolf. Aktor yang memulai kariernya sebagai komika itu mengaku telah menggemari permainan tersebut sejak tiga tahun belakangan.
ADVERTISEMENT
"Itu permainannya kayak kumpul sama teman-teman. Nanti pemainnya dibagi dua, ada yang tim orang baik, ada yang jahat. Tapi, kita enggak tahu mana yang baik, mana yang jahat. Tugas kita adalah mencari tahu, menginvestigasi who's the Werewolf," tutur Acho ketika bertandang ke kantor redaksi kumparan baru-baru ini.
Pembagian peran dalam permainan tersebut dilakukan menggunakan kartu. Setiap pemain tak akan mengetahui peran yang didapatkan secara acak oleh satu sama lain.
"Kartunya nanti dibagi-bagi, kita enggak tahu dapat yang mana. Misal dapat role Werewolf, berarti kerjaan kita tiap malam makanin orang. Bisa saja dapat role-nya Seer, dia menerawang untuk cari tahu siapa Werewolf," papar Acho.
"Bisa jadi dapat role Bodyguard, yang meng-cover orang dan, kalau digigit Werewolf, dia bisa enggak mati. Jadi, ada hampir 40 role yang ada dalam satu set kartu itu," sambung lelaki berusia 34 tahun itu.
ADVERTISEMENT
Acho sejak dulu memiliki sekumpulan kawan untuk memainkan Werewolf. Sejumlah komika, menurut pemain film 'Surga yang Tak Dirindukan 2' itu, turut tergabung dalam kumpulan yang berisi 20 lebih orang tersebut.
"Sama teman-teman stand up comedian juga, sama Arie Kriting, sutradara Anggy Umbara. Banyaklah, baik yang dari dalam maupun luar stand up comedy. Dulu ini kami mainkan dari zaman masih di komunitas," ucap Acho.
Muhadkly Acho
Muhadkly Acho di kumparan. (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan)
Saking keranjingannya, Acho hampir setiap hari memainkan Werewolf. Ia bahkan memiliki grup khusus untuk bermain Werewolf bersama teman-temannya di aplikasi berbalas pesan.
"Tiga tahun terakhir sering banget sampai gue itu punya WhatsApp group-nya. Kami bisa main di WhatsApp group. Enggak mesti pakai kartu karena kami sudah hapal. Kami tinggal bikin skenarionya gitu, siapa jadi siapa," ungkapnya.
ADVERTISEMENT
"Ada satu yang jadi moderator. Dia kerjaannya membagi role lewat japri (jaringan pribadi). Habis itu, kami debatnya di grup, mencari tahu siapa Werewolf. Ketika mau ada pembagian kekuatan, misal mau menerawang siapa, itu dijapri lagi," lanjutnya.
Lelaki kelahiran Jakarta, 16 Oktober 1983 tersebut merasa permainan tersebut membuatnya ketagihan, meski tak ada hadiah bagi sang pemenang maupun hukuman bagi yang kalah.
"Enggak ada. Lebih keledek-ledekan saja sih, kami. Kayak yang, 'Oh, ternyata lo segitu doang,' atau, 'Ah, ternyata lo gampang dikelabui.' Tapi, kan itu malah bikin ingin ngebalas dan ngajak main lagi," katanya.
Telah selama tiga tahun belakangan memainkan Werewolf, apakah Acho tak kunjung merasa bosan?
"Belum bosan, karena game ini enggak ada pakemnya. Kalau game itu kan kadang-kadang harus begini atau begitu, nah, ini tuh enggak ada karena ini seni menginvestigasi orang saja gitu, seni mencari tahu siapa yang berbohong dan siapa yang jujur. Itu enggak akan pernah merasa bosan, sih," tandasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan