Kumparan Logo

Musik Indonesia Berjaya, Wijaya 80 Tetap 'Apa Adanya' di Tengah Arus Algoritma

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sal Priadi dan Wijaya 80 rilis lagu Bulan Bintang, Garis Menyilang. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sal Priadi dan Wijaya 80 rilis lagu Bulan Bintang, Garis Menyilang. Foto: Dok. Istimewa

Industri musik pop Indonesia tengah memasuki masa keemasannya. Dalam beberapa tahun terakhir, musisi lokal tidak lagi menjadi tamu di rumah sendiri, melainkan tuan rumah yang mendominasi tangga lagu.

Berdasarkan data Spotify yang dihimpun kumparan, konsumsi musik lokal di platform tersebut meningkat secara signifikan. Di atas kertas, tren musik K-Pop dan Barat kini mulai ditinggalkan pendengar Indonesia. Alhasil, karya musisi Indonesia menduduki posisi puncak dalam daftar Top 50 Indonesia.

Di tengah tren tersebut, kolektif musik Wijaya 80 hadir dengan prinsip yang teguh. Hezky Joe, personel Wijaya 80, melihat keberhasilan musik Indonesia hari ini sangat dipengaruhi oleh perubahan peta distribusi yang jauh lebih demokratis dibanding dekade sebelumnya.

"Ada demokratisasi via algoritma TikTok dan Reels. Media sosial sekarang memangkas peran gatekeeper seperti label-label besar di zaman dulu," ujar Hezky Joe kepada kumparan, Sabtu (6/6).

embed from external kumparan

Menurutnya, nasib sebuah karya tidak lagi berada di tangan segelintir orang industri, melainkan di tangan netizen dan algoritma yang bergerak organik.

Hezky menambahkan, kekuatan visual dan emosi yang singkat menjadi kunci utama sebuah lagu bisa meledak di pasar.

"Sebuah lagu dari musisi independen bisa viral hanya karena potongan 15 detik audionya dipakai untuk latar belakang video emosional atau tren estetik," jelas Hezky.

embed from external kumparan

Meski menyadari kekuatan viralitas, Wijaya 80 tetap menaruh perhatian besar pada integritas karya dan sisi produksi. Mereka tidak ingin sekadar ikut-ikutan tren yang sedang naik daun.

"Kalau dari produksi musik kita berusaha selalu se-original mungkin dalam meramu komponen musiknya, khususnya agar warna musik juga tidak hilang lewat lirik-liriknya yang tidak biasa," ujar Hezky.

Strategi Pemasaran yang Adaptif

Meski fokus pada orisinalitas, Hezky Joe mengakui bahwa strategi pemasaran tetap harus beradaptasi dengan teknologi masa kini. Hezky Joe, Eriksen Jayanto, dan Ardhito Pramono, tidak menutup mata terhadap efektivitas platform digital.

"Soal marketing, biasanya kami akan mendorong di media sosial seperti di TikTok dan lain-lain," tambahnya.

Grup musik Wijaya 80. Foto: Dok. wijaya80s

Bagi Hezky, media sosial jadi jembatan yang paling efisien untuk mempertemukan karya idealis dengan pendengar yang tepat.

"Kekuatan 'kolektif' dan sharing itu penting. Orang Indonesia itu komunal. Kalau mereka suka satu lagu, mereka tidak menyimpannya sendiri," ujat Hezky Joe.

"Mereka akan membagikannya ke Instagram Stories, menjadikannya latar belakang video TikTok, atau memasukkan ke playlist bersama teman-teman mereka," lanjut Hezky menutup perbincangan.