Kumparan Logo

Musikal Senja Teduh Pelita Digelar, Suguhkan Karya Maliq & D'Essentials

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertunjukan Musikal Senja Teduh Pelita di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Jumat (3/7). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukan Musikal Senja Teduh Pelita di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Jumat (3/7). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Musikal Senja Teduh Pelita resmi memulai rangkaian pertunjukannya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pertunjukan itu digelar mulai 3 hingga 12 Juli 2026.

Dipersembahkan oleh Indonesia Kaya dan Jakarta Movin berkolaborasi dengan Maliq & D’Essentials, musikal ini menyuguhkan kisah science fiction yang bercerita tentang sekelompok anak yang berusaha membangun kembali dunia setelah peradaban runtuh.

Musikal Senja Teduh Pelita melibatkan 32 pemeran, di mana 11 di antaranya merupakan anak-anak dan 200 insan kreatif. Tak hanya menyajikan aransemen dari karya milik Maliq & D’Essentials, pertunjukan ini juga memadukan tata panggung, multimedia, tata cahaya, tata kostum, koreografi, dan tata musik.

Semua elemen tersebut dipadukan dan dirancang sedemikian rupa untuk menghidupkan dunia Pasukan Pelita di atas panggung.

Pertunjukan Musikal Senja Teduh Pelita di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Jumat (3/7). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Sekitar 20 Lagu Karya Maliq & D'Essentials Dibawakan

Musik karya Maliq & D’Essentials dalam pertunjukan ini seluruhnya diaransemen dan dibawakan secara langsung oleh Wishnu Dewanta Orchestra, dengan pendekatan musikal yang disesuaikan untuk mendukung karakter, alur cerita, dan dinamika para tokoh anak di atas panggung.

Tak kurang 20 lagu karya Maliq & D’Essentials, termasuk Senja Teduh Pelita, Himalaya, Aurora, Jalan Pulang, hingga lagu dari album baru Begini Begitu, diinterpretasikan menjadi bagian dari perjalanan emosional para tokohnya.

Sementara itu, dari segi visual, pertunjukan ini mengeksplorasi penggunaan projection mapping, permainan laser, serta set panggung modular yang dapat berubah dan bertransformasi mengikuti perpindahan ruang dan perjalanan cerita.

Dunia Musikal Senja Teduh Pelita juga dihidupkan melalui teknik puppetry yang menghadirkan berbagai satwa eksotis Indonesia seperti rusa, burung camar, dan elang. Sementara adegan laut divisualisasikan lewat laser, efek visual, dan koreografi ensemble yang membentuk ikan-ikan serta kunang-kunang.

Pertunjukan Musikal Senja Teduh Pelita. Foto: Dok. Indonesia Kaya

Billy Gamaliel soal Musikal Senja Teduh Pelita

Billy Gamaliel selaku Program Manager Indonesia Kaya mempercayai bahwa seni pertunjukan memiliki kekuatan untuk menghubungkan generasi sekaligus mengajak masyarakat berefleksi. Karena itu, baginya Musikal Senja Teduh Pelita ini bisa mendorong hadirnya karya musikal lain yang lebih berkualitas.

"Melalui Musikal Senja Teduh Pelita ini, kami ingin terus mendukung lahirnya karya-karya berkualitas dan memberi ruang berkembang bagi talenta muda, yang memperkuat ekosistem seni pertunjukan Indonesia,” kata Billy.

Sementara itu, Nuya Susantono, produser sekaligus sutradara Musikal Senja Teduh Pelita menyampaikan bahwa gelaran ini tak luput pula dari peran serta karya dari Maliq & D’Essentials.

“Kisah yang terjadi di Musikal Senja Teduh Pelita adalah sebuah universe yang lahir dari inspirasi atas kejeniusan bunyi dan aksara khas Maliq & D’Essentials yang indah, dekat, dan penuh refleksi atas hidup yang kita jalani," tutur Nuya.

Pertunjukan Musikal Senja Teduh Pelita di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Jumat (3/7). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Cerita Musikal Senja Teduh Pelita

Musikal Senja Teduh Pelita sendiri membawa penonton ke masa depan ketika dunia porak-poranda akibat perubahan iklim, pengelolaan energi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan, pandemi, serta peperangan antarbangsa.

Populasi manusia menurun drastis, tanah subur dan air bersih menjadi langka, hingga suatu hari seluruh orang dewasa menghilang dan meninggalkan sembilan anak menghadapi dunia yang telah mereka wariskan.

Di tengah situasi tersebut, seorang anak bernama Arah, yang diperankan secara bergantian oleh Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar, membentuk Pasukan Pelita, sekelompok anak dengan kemampuan yang saling melengkapi untuk bertahan hidup sekaligus mencari orang tua mereka yang menghilang.

Bersama Kala (Xandrea Tabythaputri dan Clioichi Junio Eigo), ahli sejarah dunia; Volta (Sahlendra Syarief), ahli listrik dan mekanika; Langit (Mavisha Reakana), pembaca bintang; Hara (Emily Olivia), ahli tumbuh-tumbuhan; Palu (Nayaka Maleakhi), ahli membangun; Raga (Nadindra Gynta), pemanjat andal; Binbin (J. Rizhan), yang memahami bahasa hewan; serta Lagu (Annabella Farizky), yang memiliki kepekaan terhadap musik dan suara, mereka memulai perjalanan mencari harapan baru di tengah dunia yang nyaris kehilangan segalanya.

Dalam perjalanan tersebut, mereka menemukan sebuah teluk yang masih utuh dan belum tersentuh kerusakan, yang kemudian mereka beri nama Teluk Pelita.

Di tempat itu mereka dihadapkan pada pilihan yang jauh lebih besar, melanjutkan pencarian orang-orang yang mereka cintai atau membangun kehidupan baru di Teluk Pelita.

Perlahan mereka menyadari bahwa ancaman terbesar bagi masa depan bukan hanya dunia yang telah rusak, tetapi juga keserakahan yang dapat tumbuh di dalam diri manusia.