Pengalaman Nugie Bertemu dengan Suku Dayak di Pedalaman Kalimantan

Lama tak terdengar kabarnya, musisi Agustinus Gusti Nugroho (45) atau yang akrab dipanggil Nugie, membawa cerita seru tentang hobinya berpetualang. Selama ini Nugie memang dikenal sebagai salah satu musisi yang gemar travelling. Kecintaannya kepada alam, tak hanya ia tuangkan melalui sebuah karya bermusik, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, banyak aksi nyata yang ia lakukan sebagai salah satu relawan WWF.
Ditemui kumparan beberapa waktu lalu, Nugie sempat menceritakan berbagai pengalaman serunya selama travelling. Tiap perjalanan bukan sekadar jalan-jalan, tapi selalu ada misi.
"Nah, kebetulan kebanyakan travelling yang saya lakukan selalu ada misinya, seperti lingkungan hidup dan kemanusiaan. Kalau liburan (sama keluarga) misinya untuk memperkenalkan anak pada suatu budaya gitu," ungkapnya saat ditemui di kawasan Tomang, Jakarta Barat.
Dari sekian banyak lokasi yang ia kunjungi, pelantun 'Burung Gereja' ini mengaku lebih suka ke hutan ketimbang laut ataupun gunung. Alasannya, Nugie tak mau sembarangan untuk naik gunung. Maksudnya?
"Sejak kecil, saya anggap gunung itu adalah sebuah tempat yang sakral. Buat saya kalau saya merasa belum siap (naik gunung) ya jangan dilakukan. Nggak tahu kenapa tapi saya seperti ada suara seperti itu, kalau sama gunung saya tunduk. Sampai kaki gunung aja saya nggak pengen buat terus menjelajah sampai puncak," bebernya.
"Makanya saya suka banget menjelajah hutan. Karena buat saya hutan Indonesia itu eksotis dan banyak space yang nggak bisa kita temuin di belahan dunia manapun," lanjutnya.
Kecintaannya menjelajah hutan juga berpengaruh dalam hidup musisi kelahiran 31 Agustus 1971 ini. Baginya hutan bisa mengubah sudut pandangnya terhadap hidup. Hutan mengajarkan bagaimana manusia harus hidup berdampingan dan harmonis dengan alam.
"Dalam hutan itu dapat ditemukan masyarakat adat yang sangat erat hubungannya dengan alam. Mereka yang mengajarkan saya bagaimana kita (manusia) harus bisa hidup berdampingan dengan alam dan bukan mengeksploitasi. Itu pengalaman yang sangat luar biasa," ujarnya.
Salah satu pengalaman menarik yang pernah dirasakan oleh adik musisi legendaris Katon Bagaskara ini adalah saat ia pergi ke daerah Berau, Kalimantan Timur.
"Di sana ada suku dayak yang hidupnya sudah ratusan tahun dan mencari nafkahnya yang masuk ke goa-goa yang ngambil sarang burung walet, yang mungkin sekarang sudah banyak diternakkan. Tapi mereka masih sangat alami, dan bagaimana cara mereka bertahan hidup di alam yang keras buat saya menjadi 'wah gila nih Indonesia emang nggak main-main'. Bukan dilihat dari kesejahteraan yang kayak orang kota tapi mereka sejahtera versi mereka sendiri," kenangnya.
Yang menyenangkan, lanjut Nugie, pertemuannya dengan suku Dayak ternyata diterima dengan tangan terbuka. Bahkan Nugie dipersilakan untuk tinggal di salah satu rumah milik suku Dayak.
"Karena saya datang dengan misi yang sama dengan mereka yaitu memperjuangkan daerah atau wilayahnya untuk menjadi hal yang steril dari eksploitasi, jadi ya saya diterima dengan tangan terbuka," katanya.
Nugie juga tidur di rumah mereka, sehingga hubungan emosionalnya semakin kuat. "Begitu juga waktu di laut, bersama dengan suku Bajo. Jadi kalau ditanya soal pengalaman, lumayan banyak kalau saya harus jabarin satu persatu. Saking banyaknya saya sampai skip karena semua saya lakukan sejak tahun 1998," ungkapnya.
Lalu adakah keinginan Nugie untuk membawa kedua anaknya, Arkazora Nugraha dan Brigitta Nikaia Nugroho, merasakan sensasi berbeda seperti ayahnya? Pemain film 'Sang Pemimpi' ini langsung menggelengkan kepala.
"Kalau untuk daerah yang ekstrem, saya masih nggak berani ngajaknya. Karena anak saya masih kecil dan istri saya juga nggak bisa beradaptasi dengan alam liar. Jadi buat saya mending saya sendiri aja saat ini bersama teman-teman seperti tim WWF gitu," tutupnya.
