Kumparan Logo

Penuhi Undangan Bakul Budaya, Rianto Bagi-bagi Ilmu soal Tari Lengger Banyumasan

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rianto, maestro Tari Lengger Banyumasan, mengajar Tari Lengger Sekar Melati. Foto: Bakul Budaya FIB UI
zoom-in-whitePerbesar
Rianto, maestro Tari Lengger Banyumasan, mengajar Tari Lengger Sekar Melati. Foto: Bakul Budaya FIB UI

Komunitas inklusif Bakul Budaya FIB UI (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia) menjadi tuan rumah bagi kehadiran Rianto (43), salah seorang maestro tari Indonesia berkelas Internasional, pada 17 Mei lalu.

Atas undangan Bakul Budaya, Rianto pun membagi ilmu dan pengalamannya di bidang tari, khususnya Tari Lengger Banyumasan, yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah.

Rianto, yang berdomisili di Tokyo, Jepang, mengatakan bahwa ini kali pertamanya menginjakkan kaki di kampus UI Depok. Rianto mengaku akan menjalani sejumlah aktivitas selama berada di Indonesia, tentunya di bidang tari.

"Saya pernah punya empat murid tari yang belajar Bahasa Jepang di UI. Tapi, selama ini, saya belum pernah ke UI. Ini yang pertama kali buat saya," tutur penari, koreografer, dan pengajar tari itu dalam keterangan resminya.

Rianto, maestro Tari Lengger Banyumasan, disambut oleh Ketua Umum Bakul Budaya FIB UI, Dewi Fajar Marhaeni. Foto: Bakul Budaya FIB UI

Kegiatan bersama Rianto di Pelataran FIB UI diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan "Indonesia Raya" tiga stanza, berdoa, dan ucapan sambutan dari Ketua Umum Bakul Budaya FIB UI, Dewi Fajar Marhaeni.

"Kami, Bakul Budaya, bersyukur dan berbahagia Mas Rianto, yang merupakan maestro Tari Lengger Banyumasan, bersedia membagi ilmu dan pengalaman kepada kami. Ini anugerah bagi kami. Apa yang selama ini kami inginkan, akhirnya terwujud secara dadakan, di tengah kepadatan jadwal Mas Rianto," tutur Dewi.

"Menghadirkan Mas Rianto dengan Tari Lengger Banyumasan, sesuai dengan misi Bakul Budaya, yaitu Melestarikan Budaya dan Merajut Kebhinnekaan," sambungnya.

Rianto Mengajar Tari Lengger Sekar Melati

Setelah itu, dipandu oleh Wiwik, Ina, dan Endang dari Bakul Budaya, Rianto bersama para peserta melakukan pemanasan dengan membawakan Senam Keluhuran Nuswantara. Senam yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut dicipta oleh Anter Asmorotedjo (koreografinya) dan Pardiman Djoyonegoro (musiknya).

Selama kira-kira satu setengah jam, Rianto mengajarkan Tari Lengger Sekar Melati untuk 60 anggota Bakul Budaya yang hadir. Tari tersebut merupakan salah satu jenis Tari Lengger Banyumasan, yang berakar pada budaya bertani masyarakat Banyumas dan ditarikan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Tari Lengger Sekar Melati terdiri dari tujuh bagian. Gerakannya beragam dan dalam tempo cepat. Rekaman musik khas Banyumas mengiringi gerakan itu.

"Tarian ini aslinya panjang. Tapi, untuk mengajar seperti sekarang ini, saya pakai yang versi lima menit," ucap Rianto.

Rianto mengajar dengan bumbu humor yang menyegarkan. Misalnya, untuk mengiringi setiap gerakan geol, ia meminta para peserta menyuarakan bersama seruan khas Bakul Budaya, "Gak Geol Gak Gaul."

Rianto merasa gembira atas apa yang dilihatnya dalam kegiatannya mengajar untuk para anggota Bakul Budaya.

"Kakak-kakak dan Dedek-dedek (sebutan akrab untuk para anggota Bakul Budaya) bisa menangkap dengan baik apa yang saya ajarkan," ujarnya.

Tari Lengger Sekar Melati sendiri diciptakan oleh Rianto pada masa pandemi Covid-19.

"Saya, sebagai lengger, dengan tubuh saya ini, merasa harus bisa berbuat sesuatu, menyembuhkan dunia dengan tubuh saya. Dalam filosofi lengger, tubuh kita merupakan penghubung Bumi dengan Langit. Dengan tubuh kita, kita bersyukur, berdoa. Maka, saya mencipta Lengger Sekar Melati," bebernya.

Sekar Melati diambil dari Penembahan Melati, yaitu kegiatan ritual tradisional para lengger, dalam arti penari Lengger Banyumasan, untuk memperoleh indang atau kekuatan spritual dari leluhur.

"Baru sesudah kira-kira 20 tahun, pada 2016, saya merasakan akhirnya indang ada dalam tubuh saya," ceritanya.

Dalam kesempatan itu, Rianto juga membagi ilmunya mengenai sejarah dan makna Tari Lengger Banyumasan serta pengalamannya sebagai seniman Tari Lengger Banyumasan.

"Saya bangga, terharu. Bakul Budaya bagai bongkahan berlian di tengah Metropolitan. Bakul Budaya mau nguri-uri (melestarikan) budaya," ujarnya.

Menanggapi Rianto, Emma Wuryandari, satu dari dua pengajar tari Bakul Budaya, mengatakan, "Untuk melestarikan budaya, dengan hadirnya Mas Rianto, Bakul Budaya berharap bisa berperan aktif memperkenalkan lengger dan mengajak ber-lengger di area Depok dan sekitarnya."

Sekilas tentang Rianto

Di kampung halamannya Banyumas, Rianto memiliki komunitas dan tempat belajar lengger bernama Rianto Dance Studio dan Rumah Lengger.

Dalam berkarya, Rianto memilih Tari Lengger Banyumasan. Di dalam dan luar Indonesia, ia terkenal sebagai penari, koreografer, dan pengajar Tari Lengger Banyumasan. Ia mengulik bukan dari sisi bentuk tari dan teknik menarinya saja, melainkan juga dari sisi mendalami sejarahnya dan menghayati filosofinya.

Menurut Rianto, merujuk ke "Serat Centhini," (abad ke-17), Tari Lengger sudah ada sejak berabad-abad lalu.

Di dunia internasional, Rianto telah menyuguhkan Tari Lengger Banyumasan di mana-mana. Pementasan tari kontemporer ciptaannya yang berjudul "Medium" juga sudah disajikannya di berbagai tempat di dalam dan luar Indonesia.

Perjalanan hidup Rianto pun menginspirasi sineas kawakan Tanah Air tingkat internasional, Garin Nugroho, untuk membuat film "Kucumbu Tubuh Indahku." Ia sekaligus menjadi pemeran utamanya. Film tersebut dirilis pada 2019.