Kumparan Logo

Penyanyi Folk Afghanistan, Fawad Andarabi, Tewas Dibunuh oleh Taliban

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pasukan Taliban berpatroli di landasan pacu sehari setelah penarikan pasukan AS dari Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Selasa (31/8). Foto: Stringer/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pasukan Taliban berpatroli di landasan pacu sehari setelah penarikan pasukan AS dari Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Selasa (31/8). Foto: Stringer/REUTERS

Penyanyi folk dari Afghanistan, Fawad Andarabi, dipaksa untuk keluar dari rumahnya dan dibunuh oleh Taliban di kediamannya di Andarab, area dekat Kabul. Dikatakan bahwa hal tersebut terjadi pada Jumat (27/8).

Anak dari Andarabi, Jawad, membenarkan kabar tersebut. Ia menceritakan bahwa sang ayah dibunuh secara sadis oleh Taliban.

"(Ayah) ditembak di bagian kepala. Dia tidak bersalah. Dia hanya penyanyi yang senang menghibur orang," ungkap Jawad dikutip The Associated Press.

embed from external kumparan
embed from external kumparan

Mantan Menteri Dalam Negeri, Massoud Andarabi, juga angkat bicara mengenai kematian Fawad Andarabi. Menurutnya, tindakan Taliban sangat kejam dan tidak bisa dibenarkan.

"Kebrutalan Taliban berlanjut di kawasan Andarab. Hari ini mereka membunuh penyanyi folk, Fawad Andarabi yang hanya senang membawa kebahagiaan bagi kawasan ini. Dia memang tidak akan pernah tunduk pada Taliban," tuturnya.

embed from external kumparan
Pasukan Taliban berjaga sehari setelah penarikan pasukan AS dari Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Selasa (31/8). Foto: Stringer/REUTERS

Pembunuhan Fawad Andarabi membuat banyak orang takut Taliban akan memimpin dengan cara yang kejam. Hal itu sudah pernah terjadi ketika Taliban menguasai Afghanistan pada 1996 sampai 2001.

Kasus ini juga berbanding terbalik dengan apa yang pernah disampaikan oleh humas Taliban, Zabiullah Mujahid. Ia pernah mengatakan, Taliban tidak mau menggunakan kekerasan untuk menegakkan hukum Islam di Afghanistan.

"Musik itu dilarang di Islam. Kami akan membujuk orang untuk tidak melakukannya, bukan memaksa atau menekan mereka," kata Mujahid dikutip New York Times.

embed from external kumparan