Perjalanan Kelompok Penerbang Roket Menemukan ‘Galaksi Palapa’

Pada 31 Oktober lalu, grup musik rock asal Jakarta, Kelompok Penerbang Roket (KPR), merilis sebuah mini-album bertajuk ‘Galaksi Palapa’. Mini album tersebut berisikan lima lagu yang berjudul ‘Ekspedisi 69', 'Dusta', 'Berita Angkasa', 'Alfa Omega' dan 'Ironi'.
Dengan konsep musik space rock berdistorsi penuh echo dan reverb yang mengawang, album ‘Galaksi Palapa’ laku keras dipasaran. Para personel KPR, I Gusti Gede ‘Viki’ Vikranta (drum), John ‘Coki’ Paul Patton (bas gitar, vokal) dan Rey Marshal (gitar, vokal) pun sempat berbagi kisah tentang mini-album mereka tersebut.
Coki menceritakan awal mula terciptanya album ‘Galaksi Palapa’ yang amat terkonsep dan sukses menjadi fenomena baru di skena indie Indonesia. Ternyata, album tersebut sudah direncanakan satu tahun setelah album ‘Teriakan Bocah’ (2015) rilis.
“Materi album ‘Galaksi Palapa’ memang sudah ada lama, tapi dari 2016 sampai 2017 kami banyak kegiatan, jadi enggak punya waktu untuk urus ini 'kan,” kata Coki di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (14/11).

Rey pun menambahkan bahwa ia dan para personel lain KPR sudah sempat terlebih dahulu merekam semua lagu di album ‘Galaksi Palapa’ sebelum merilisnya secara resmi dengan format piringan hitam dan cakram padat (CD). Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, para personel KPR merasa tidak sreg dan ingin mengulang proses rekaman dari nol.
“Pas 2015 kita memang rekam live di SAE, tapi setelah dua tahun, pas 2017 kami coba denger lagi, kok kayaknya kurang, ya. Akhirnya kami coba untuk cari tempat baru untuk rekaman ulang,” kata Rey.
Karena itu, para personel KPR mengajak serta Abah Jaya eks Roxx untuk menjadi personel ke empat yang membantu proses rekaman album ‘Galaksi Palapa’. Jaya jugalah yang akhirnya menyuruh KPR untuk melakukan sesi live recording ulang di Musica Studios.

Meski harus take ulang, para personel KPR mengaku tidak kesulitan dan bisa merampungkan lima lagu dalam kurun waktu satu setengah hari. Abah Jaya pun punya sumbangsih besar dalam beberapa aspek yang membuat album ‘Galaksi Palapa’ dapat rampung dalam waktu singkat.
“Materi sebenarnya memang sudah solid sejak pertengahan 2016 itu sih. Fungsi Abah itu lebih ke arah menjaga kualitas recording saja,” ucap Coki.
“Sama masalah pengaturan waktu sih. 'Kan biasanya kalau lagi garap kami kayak sebat dulu, ini kami bisa jadi lebih fokus gitu,” tambahnya.
Menelisik semua lagu di album ‘Galaksi Palapa’, grup musik yang pernah tenar berkat lagu ‘Mati Muda’ itu sepertinya ingin menyampaikan sebuah pesan sosial menggunakan narasi khayal khas cerita dongeng.
Coki pun mengungkapkan ide utama sebelum akhirnya mencetuskan konsep yang tepat untuk album ‘Galaksi Palapa’.
“Gue merasa kayak sekarang tuh ada banyak orang yang bisa membeli kuasa dan ya, mereka diikuti semua orang. Kenapa itu terjadi? Karena orang berkuasa ini enggak bisa dilawan kalau lo sendirian,” kata Coki.

Tidak mau secara lugas menyampaikan pesan tersebut melalui lirik lagu, Coki mulai mengajak rekan-rekannya utuk membuat sebuah kisah khayal yang tepat. Lantas, seperti apakah kisah yang para personel KPR khayalkan di album ‘Galaksi Palapa’?
“Gue kepikiran untuk membuat dongeng, kisah tiga astronot yang mencari bumi baru untuk manusia yang pengin selamat dari bumi kita yang sudah dipenuhi orang-orang penuh kuasa. Seperti itulah kira-kira,” ujar Coki.
Hingga saat ini memang personel KPR belum berniat memasukkan album ‘Galaksi Palapa’ ke digital platform. Meski terkesan kuno, Rey punya alasan tersendiri terkait idealismenya hanya merilis ‘Galaksi Palapa’ dalam bentuk piringan hitam dan cakram padat.
“Kami berkolaborasi dengan seniman muda asal Banjarmasin, Agung Budi, untuk menuangkan ide besar ‘Galaksi Palapa’ ke dalam ilustrasi. Sehingga cara paling sempurna untuk menikmati album mini ini adalah dengan format fisik; dengarkan musiknya dan nikmati artwork-nya,” tutup Rey.
