Kumparan Logo

PK Entertainment Ungkap Alasan di Balik Harga Tiket Konser yang Terasa Mahal

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi menonton konser. Foto: Dok. Kemenparekraf
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menonton konser. Foto: Dok. Kemenparekraf

Promotor konser PK Entertainment menjelaskan mengenai berbagai pertimbangan yang ada dibalik harga tiket konser. Co-Founder & COO PK Entertainment Group, Harry Sudarma, mengatakan penentuan harga tiket ternyata tidak hanya diputuskan promotor, tetapi juga harus melalui persetujuan pihak artis hingga manajemen regional.

“Apa pun yang kita lakukan, apa pun yang kita desain, apa pun yang kita announce, itu tidak akan pernah tidak melalui approval dari regional promotor ataupun artis management ataupun artisnya itu sendiri,” ujar Harry saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Menurut Harry, harga tiket konser di Indonesia sebenarnya sudah tidak jauh berbeda dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Namun, kondisi ekonomi masyarakat, seperti UMR dan GDP membuat harga tersebut terasa lebih berat bagi penonton di Indonesia.

instagram embed

“Kalau kita sadari akhir-akhir ini harga tiket di Indonesia sebetulnya dibandingkan dengan region South East Asia tidak jauh berbeda. Yang membuat jadi berbeda adalah GDP dan UMR kita yang membuat itu menjadi lebih berat,” katanya.

Ia menjelaskan, ada banyak faktor yang memengaruhi harga tiket konser, mulai dari bayaran artis, biaya produksi, hingga konsep pertunjukan yang semakin megah, terutama untuk konser K-Pop.

“Variabelnya banyak banget. Harga artisnya, production-nya, apalagi kalau kita bicara K-Pop selalu lebih megah,” lanjutnya.

PK Entertainment Group ungkap beberapa projek konser hingga film terbaru di company anniversary ke-11 tahun di Setiabudi, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Di sisi lain, Harry juga menyoroti perubahan perilaku penonton konser saat ini yang didominasi Gen Z. Menurutnya, tren “FOMO economy” membuat keputusan membeli tiket konser kini tak hanya soal menyukai artis, tetapi juga dorongan agar tidak merasa tertinggal tren.

“Banyak sekali Gen Z sekarang behavior-nya terhadap pembelian tiket itu jadi bukan hanya karena artisnya besar atau artisnya keren, tapi lebih ke ‘ini FOMO nggak ya? Kalau misalnya, 'I’m not part of this, am I missing out?’” ujar Harry.

Meski dinilai mampu menciptakan hype besar untuk konser tertentu, fenomena tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi promotor. Harry menyebut virality kini sangat memengaruhi penjualan tiket dan antusiasme penonton.

“Begitu ada artis yang sangat viral, sangat trending, kemudian kita bawa konsernya, results-nya juga oke, amplifikasinya luar biasa besar. Tapi begitu ada artis yang mungkin virality potential-nya kecil, conversion wallet share-nya jadi nggak terbentuk,” tutupnya.