Kumparan Logo

Presiden Smile Up Mundur, Kompensasi Kasus Johnny Kitagawa Tetap Lanjut

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Logo Smile-up Japan Foto: Smile Up
zoom-in-whitePerbesar
Logo Smile-up Japan Foto: Smile Up

Presiden dan Direktur Perwakilan Smile Up, Noriyuki Higashiyama, memutuskan mundur. Smile Up adalah nama baru dari agensi Johnny & Associates yang kini fokus menangani kompensasi dan kasus pelecehan yang melibatkan mendiang owner Johnny Kitagawa.

Selain Higashiyama, Managing Director Smile Up, Akira Abe, juga ikut mundur. Keduanya akan resmi keluar pada 1 Oktober 2026 setelah kontraknya habis. Posisi presiden dan direktur perwakilan bakal diisi oleh Masayuki Yamada, pengacara yang menangani kasus dan proses kompensasi ini; sedangkan managing director akan diisi oleh Takayuki Jin.

"Pada rapat Dewan Direksi yang diadakan 28 September 2026, kami memutuskan untuk mengubah susunan Dewan Direksi kami, sesuai dengan berakhirnya masa jabatan mereka," tulis Smile Up dalam keterangan resminya.

Sesuai dengan laporan bulanan selama tiga tahun terakhir, dewan direksi Smile Up secara serius terus membahas arah masa depan perusahaan yang mengkhususkan diri mengurus kompensasi untuk korban pelecehan Johnny Kitagawa.

Pergantian jajaran direksi ini, salah satunya diambil karena kemungkinan bakal ada prosedur hukum dan penilaian ahli yang dibutuhkan dalam proses pengurusan kompensasi. Mereka memastikan, perubahan struktur ini tidak berdampak pada prosedur penanganan kasus ini.

"Ini tidak berarti bahwa perusahaan kami akan mengakhiri responsnya terhadap masalah pelecehan seksual, dan kami akan terus menjalankan prosedur yang diperlukan agar tuntas terkait kompensasi bagi korban, termasuk kasus-kasus yang masih dalam proses litigasi," lanjut pernyataan tersebut.

Smile Up juga masih menerima deklarasi kompensasi bagi korban dan perawatan kesehatan mental melalui layanan konsultasi mereka. Mereka mengecam segala bentuk pencemaran nama baik kepada para korban, termasuk yang telah melaporkan diri atau kerabat mereka sebagai korban.

Kasus Johnny Kitagawa

Johnny Kitagawa, penemu band Arashi dan pemilik agensi hiburan Johnny & Associates Inc. Foto: AFP/BEHROUZ MEHRI

Pada September 2023 lalu, Higashiyama untuk pertama kalinya memberikan pernyataan dan membenarkan tuduhan pelecehan seksual yang menjerat pendiri agensi Johnny & Associates, Johnny Kitagawa. Diperkirakan Kitagawa telah melakukan pelecehan kepada sejumlah besar remaja calon bintang selama kurun waktu 1970-an hingga 2010-an.

Sebulan kemudian, Higashiyama mengumumkan lagi bahwa agensi Johnny & Associates bakal mengubah namanya menjadi Smile Up dan menjalankan visi mendapatkan kembali kepercayaan penggemar. Di periode ini, mereka juga mendirikan entitas terpisah bernama Starto Entertainment yang bertugas mengawasi operasional manajemen artis mereka.

Tercatat setidaknya Smile Up telah menerima konsultasi dan laporan dari 478 korban pelecehan seksual Kitagawa. Dari jumlah itu, sebanyak 325 menuntut adanya kompensasi.

Kasus ini terungkap setelah BBC merilis dokumenter berjudul "Predator: The Secret Scandal of J-Pop" pada Maret 2023 yang merinci sejarah panjang dugaan pelecehan seksual kepada anak lagi-lagi di agensi milik Kitagawa, dan mengapa "sebagian besar media Jepang bungkam".

Pada April 2023, seorang penyanyi dan penulis lagu Jepang-Brasil, Kauan Okamoto, mengadakan konferensi pers dan mengaku pernah dilecehkan oleh Kitagawa berkali-kali di tahun 2012-2016. Setelah itu, sekelompok penggemar mulai mengirimkan petisi dan menuntut agensi melakukan penyelidikan dan meminta maaf.

Penyelidikan eksternal pun dibentuk pada Mei 2023. Hingga pada Agustus 2023, Kitagawa resmi dinyatakan pernah melakukan pelecehan seksual kepada sejumlah anggota agensinya selama beberapa dekade, agensinya menutupi perilaku tersebut, dan parahnya anggota keluarga Kitagawa diduga tahu tapi tidak melakukan apa pun.

Johnny Kitagawa (kanan), penemu band Arashi dan pemilik agensi hiburan Johnny & Associates Inc. Foto: AFP/BEHROUZ MEHRI

Meski kasus ini telah terungkap, sebenarnya Kitagawa sudah meninggal sejak Juli 2019 lalu karena stroke. Posisi Kitagawa sebagai presiden Johnny & Associates sempat digantikan oleh Fujishima pada September 2019.

Kitagawa mendirikan Johnny & Associates pada 1962 setelah mendirikan grup idol pria, Johnnys. Sepanjang kariernya, agensi ini telah menelurkan banyak grup idola pria populer seperti SMAP, Tokio, KinKi Kids, V6, Arashi, NEWS, KAT-TUN, hingga Hey! Say! JUMP.

Sebenarnya pada 1999 lalu pun Kitagawa pernah menghadapi tuduhan pelanggaran seksual setelah Majalan Shukan Bunshun menerbitkan laporan investigasi yang merinci dugaan pelecehan anak dan eksploitasi seksual. Tapi tuduhan itu tak berujung pada pidana. Kitagawa dan agensinya malah menggugat majalah tersebut dan sempat menang pada Maret 2002, meski kemudian kalah di tingkat banding Pengadilan Tinggi Tokyo.