Produksi Film Indonesia Meningkat, Joko Anwar Sempat Rebutan Kru

Tingginya minat masyarakat terhadap film Indonesia sempat membuat sutradara Joko Anwar kesulitan untuk mencari kru. Hal ini lantaran setiap rumah produksi berlomba-lomba untuk berkarya.
Joko mengatakan, saat ini dalam satu tahun, jumlah film indonesia bisa mencapai 180 judul. Dengan jumlah tersebut, maka dalam satu bulan, bisa saja ada belasan film Indonesia yang tayang di bioskop. Hal itu membuat para sineas--termasuk Joko--berlomba-lomba untuk memperebutkan kru.
"Nah, itu membuat kru-kru film Indonesia secara sumber daya manusia jadi rebutan," kata Joko Anwar saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, belum lama ini.
Kru, menurut pria berusia 42 tahun itu, menjadi rebutan karena jumlahnya yang terbatas. Makanya, Joko selalu menulis di media sosialnya mengenai kebutuhan akan kru di industri film Indonesia.
"Kalau misalnya ada yang mau masuk industri film indonesia sebagai kru, sekaranglah saatnya karena sedang sangat dibutuhkan," kata Joko.

Meski dibutuhkan, sutradara film 'Pengabdi Setan' itu mengimbau orang-orang yang ingin menjadi kru film harus memiliki kemampuan. Sebelum menggeluti profesi tersebut, mereka mesti memahami pekerjaan seorang kru.
"Tentunya harus melalui proses belajar, baik otodidak, kursus, sekolah atau segala macam, yang penting harus menguasai teknis biar bisa masuk industri film Indonesia," ucap sutradara yang sedang menggarap film 'Gundala' itu.
Di sisi lain, meningkatnya minat penonton film di Indonesia, diikuti pula dengan tren menonton film secara streaming di internet. Namun, di antara penyedia layanan streaming tersebut ada pula yang masih berstatus ilegal.
“Kalau service yang ilegal pasti menyakiti industri, kalau yang legal sih, enggak apa-apa,” ungkap Joko.

Sutradara kelahiran Medan itu, tak menyalahkan penikmat film lewat layanan streaming yang legal. Meski begitu, ia mengatakan, terdapat perbedaan mendasar yang dirasakan oleh penonton film di bioskop dan lewat layanan streaming.
“Karena dari segi pengalaman pasti penonton (bioskop) berasa berada dalam sebuah adegan jika menonton dalam layar lebar dengan suara yang lebih gitu, ya,” tandas Joko Anwar.
