Putri Ayudya Angkat Kegelisahan Perempuan Jawa Milenial lewat Dapur Sumur Tutur
ยทwaktu baca 3 menit

Galeri Indonesia Kaya sukses menghadirkan pertunjukan seni melalui pementasan pertunjukan satu orang (one man show) berjudul Dapur Sumur Tutur. Pementasan ini merupakan sebuah karya yang menyoroti dinamika perempuan lintas generasi di tengah perubahan nilai dan tradisi.
Pementasan Dapur Sumur Tutur diproduseri oleh Nosa Nurmanda dan disutradarai oleh Ben Bening dan dipentaskan oleh Putri Ayudya. Putri Ayudya selaku aktor tunggal di pertunjukan ini menuturkan bahwa karya ini lahir dari pengalaman personal dan hasil riset bersama tim kreatif.
"Kisah ini berangkat dari kegelisahan sebagai perempuan Jawa generasi milenial. Sebagian materi berasal dari pengalaman pribadi kami dan sebagian lainnya dari riset tentang perempuan Jawa, generational trauma, serta proses re-parenting," kata Putri dalam keterangan rilis yang diterima kumparan, Senin (27/4).
Aktris peraih Piala Maya itu juga mengungkapkan makna di balik judul pementasan tersebut. Kata Putri, Dapur Sumur Tutur menyajikan perubahan peran perempuan dari masa lalu ke masa sekarang.
"Judul Dapur Sumur Tutur sendiri menggambarkan perubahan peran perempuan, dari yang semula terbatas di ranah domestik menjadi ruang bertutur dan menyuarakan pengalaman," ujarnya.
Selama kurang lebih satu jam, penikmat seni diajak menyelami kisah tiga generasi perempuan Jawa dalam satu keluarga yang hadir dalam momen sakral peringatan seribu hari wafatnya Eyang Kakung.
Melalui sudut pandang YangTi, Ibuk, dan Mbak, pertunjukan ini menghadirkan dialog batin tentang tradisi, relasi keluarga, serta pengalaman yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dengan pendekatan pertunjukan satu orang yang bersifat imersif, karya ini menghadirkan pengalaman yang intim dan reflektif bagi penonton.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan bahwa pementasan Dapur Sumur Tutur sejalan dengan komitmen Galeri Indonesia Kaya untuk menghadirkan karya seni pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Melalui cerita yang personal dan pendekatan artistik yang kuat, kami berharap pertunjukan ini dapat membuka ruang refleksi bagi penikmat seni tentang dinamika keluarga, peran perempuan, serta perubahan nilai budaya yang terus berlangsung," ujar Renitasari.
Pertunjukan Dapur Sumur Tutur berangkat dari kegelisahan generasi milenial perempuan Jawa terhadap tradisi yang seringkali diwariskan tanpa pemaknaan ulang. Dalam banyak kisah, nilai-nilai tersebut diteruskan tanpa memahami akar dan konteksnya, sehingga sulit diadaptasi dengan perubahan zaman dan berpotensi menimbulkan generational trauma.
Pergeseran ranah perempuan dari konco wingking menjadi mitra sejajar dalam kehidupan modern turut menjadi benang merah dalam pertunjukan ini. Selain itu, isu sandwich generation dan ageism diangkat sebagai refleksi kondisi sosial saat ini.
Nosa Nurmanda sebagai Produser menjelaskan soal Pemilihan tiga generasi perempuan dan latar peringatan seribu hari kematian yang memiliki makna simbolis di baliknya. Kata Nosa, Momen ini adalah ruang refleksi keluarga, ketika duka sudah mengendap dan bisa dimaknai ulang.
"Di situ lah kita melihat bagaimana nilai, luka, dan cara pandang diwariskan antar generasi, terkadang tanpa disadari. Harapannya, melalui pertunjukan ini penonton dapat lebih memahami bahwa tradisi dapat terus hidup dan relevan jika disikapi secara bijaksana," tandasnya.
Pertunjukan Dapur Sumur Tutur juga menjadi penutup rangkaian pertunjukan seni akhir pekan di Galeri Indonesia Kaya sepanjang bulan April. Sebelumnya, Galeri Indonesia Kaya telah menghadirkan pertunjukan Bukan Kartini oleh Wulangreh Omah Budaya, Makkunrai Nusanusa oleh Kinarya GSP, serta Close Friends oleh Shafiq Husein dan Ufa Sofura.
Ke depannya, Galeri Indonesia Kaya akan terus menghadirkan beragam pertunjukan seni setiap akhir pekan dengan informasi lebih lanjut yang dapat diakses melalui situs resmi Indonesia Kaya.
