Review Obsession: Ketika Obsesi Lebih Menakutkan dari Hantu

Sejak 10 menit pertama, film ini langsung membuat saya tidak nyaman. Saya terus memaki Curry Barker, sang sutradara, dan menilainya sosok yang anti kucing.
Namun, sutradara berusia 26 tahun itu sepertinya sangat tahu apa yang dia mau kerjakan. Kemarahan saya memudar, seiring setiap menit film berubah jadi ajaib. Sesuatu yang menakutkan, sekaligus menarik untuk diikuti.
Curry Barker membuat film Obsession seperti benih kecil yang tumbuh di celah beton industri Hollywood. Film ini dibuat dengan biaya hanya 750 ribu dolar AS, atau Rp 12 miliar, mungil untuk standar Hollywood. Syutingnya pun selesai hanya dalam 20 hari.
Namun, hasilnya melampaui logika. Pada minggu ketiga rilis, Obsession telah meraup lebih dari Rp 4,7 triliun atau 300 juta dolar AS di seluruh dunia. Keuntungannya 400 kali lipat, menjadikan Focus Features mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah mereka.
Premis: Mainan Kayu
Cerita Obsession berpusat pada Bear (Michael Johnston) dan Nikki (Inde Navarrette). Mereka selama ini bekerja di toko musik bersama teman-teman mereka, Ian (Cooper Tomlinson) dan Sarah (Megan Lawless).
Namun di perjalanan, ternyata Bear sangat jatuh cinta kepada Nikki (Inde Navarrette). Ada ruang besar dalam hati yang hanya ingin ia isi dengan Nikki, tetapi sulit sekali untuk diungkapkannya.
Segalanya berubah ketika Bear mematahkan One Wish Willow, sebuah mainan yang konon bisa mengabulkan satu permintaan.
Keinginan Bear terkabul. Nikki "didapatkannya". Namun, film ini dengan cerdas menunjukkan bahwa ada harga yang harus dibayar saat kita mencoba memaksakan takdir. Teror mulai menggerogoti nyawa mereka, satu per satu.
Penampilan Inde Navarrette
Jelas nama Inde Navarrette harus saya sebut di awal sebagai kelebihan film ini. Inde mampu bertransisi dari sosok yang hangat menjadi entitas yang mengerikan dalam sekejap mata.
Inde jadi contoh pemilihan pemain (casting) yang jadi kunci keberhasilan sebuah film. Peran Nikki menuntutnya tampil menawan, menggelisahkan, simpatik, sekaligus mengerikan. Hebatnya, semua emosi itu bisa muncul sempurna dalam satu adegan.
Di akhir film, saya pikir rasanya mustahil membayangkan ada aktris lain yang mampu memerankan Nikki sehebat Inde Navarrette.
Visual Mendukung
Obsession punya banyak momen jumpscare, termasuk satu adegan brutal yang datang tiba-tiba hingga membuat saya terpaku. Namun, Barker nampaknya percaya diri membangun ketegangan secara perlahan agar atmosfer mencekamnya makin terasa.
Dengan budget minim, Barker lihai memanfaatkan cahaya sekitar set jadi satu yang utuh dengan naskahnya. Rumah nenek Bear sengaja terlihat gelap, remang, dan sangat dingin. Ada efek mistis di beberapa benda, seperti bunga, lilin, dan altar kecil.
Meski begitu, kengerian yang ia bangun sepertinya terasa terlalu lambat, sehingga durasi film 108 menit bisa dipersingkat sedikit.
Gali Hubungan Asmara Gen Z
Hal yang membuat Obsession begitu menarik sekaligus mengganggu adalah cerita yang sangat kuat. Barker menggali sisi negatif dari hubungan asmara yang tidak sehat, lalu membawanya ke titik ekstrem. Awalnya terasa gemas, namun berakhir mengerikan.
Film ini jadi kompleks karena karakter Bear tidak digambarkan sebagai korban yang murni patut dikasihani. Ia justru seolah "terlibat" karena awalnya menikmati perhatian dari Nikki, meski tahu perhatian itu tidak tulus.
Segalanya baru menjadi masalah ketika situasi mulai lepas kendali. Johnston (pemeran Bear) juga patut dipuji karena berani membuat karakternya menyedihkan, alih-alih tampil sebagai sosok yang disukai penonton.
Antagonis Sebenarnya Adalah Ego Karakter Bear
Horor pada film Obsession bukan terletak pada hantu atau kutukan. Tak ada satu pun hantu atau sosok entitas aneh yang muncul dalam film. Horor atau antagonis sesungguhnya film ini terletak pada hati Bear.
Ada satu momen yang menyayat: saat Nikki yang asli muncul di tengah malam, saat terbaring. Di tengah keadaan tersiksa, Nikki memohon Bear untuk membunuhnya demi mengakhiri penderitaan dalam film.
"Ini aku, Nikki, dia (entitas) sedang tidur. Bisa kah kamu membunuhku saja agar semua ini berakhir? Bunuh saja aku," kata Nikki kepada Bear.
Alih-alih merasa iba, Bear justru bertanya, "Apa sesulit itu mencintaiku?"
Di titik itulah saya sadar: Bear tidak mencintai Nikki. Ia hanya ingin diinginkan. Ia hanya mencintai dirinya sendiri. Mungkin ini jadi alasan kenapa judulnya adalah Obsession, bukan Love.
Masa Depan Sang Sutradara
Curry Barker membuktikan bahwa keterbatasan budget dan alat bukanlah halangan bagi karya yang besar. Dari YouTuber yang membuat film pendek gratis, kini ia dipercaya A24 untuk menggarap waralaba legendaris Texas Chainsaw.
Dengan skor 94% di Rotten Tomatoes, Obsession jadi pengingat kita semua: hati-hati dengan apa yang kamu inginkan, karena terkadang, hantu paling menakutkan adalah obsesi yang kita pelihara sendiri.
