Review Resident Evil (2026): DNA Survival Horror yang Sebenarnya

Hari itu seharusnya menjadi hari kerja biasa bagi Bryan (Austin Abrams). Setelah menyelesaikan tugas mengantar organ medis, kurir ini menyanggupi satu pekerjaan tambahan: mengantar sebuah paket misterius ke Raccoon General Hospital di Raccoon City.
Sialnya, perjalanan ini justru menjadi tiket menuju neraka. Di tengah perjalanan, Bryan beradu argumen di telepon dengan kekasihnya, Michelle, perihal kehamilan.
Mobilnya menabrak seorang wanita yang menyeberang jalan. Wanita itu terluka parah namun bersikap dingin dan tak merespons. Ketika seorang polisi bernama Wilson menepi untuk menolong dan memindahkan wanita itu ke mobil patrolinya, kekacauan pecah. Mobil polisi tersebut mendadak oleng, terbalik hebat, dan menewaskan sang polisi.
Bryan mendekat, tapi wanita yang seharusnya tewas itu bangkit dan menyerangnya secara membabi buta. Terdesak, Bryan meraih pistol milik Wilson dan menembaknya.
Dari titik inilah, sutradara Zach Cregger memulai kegilaannya. Cregger menyeret penonton ke dalam Raccoon City yang mulai rusak perlahan.
Gore yang Matang
Bagi penonton yang terpukau oleh kelihaian Zach Cregger dalam Barbarian (2022) dan Weapons, sentuhan magis sang sutradara terasa sangat kental di sini.
Cregger membawa level gore yang matang, menjijikkan, sekaligus realistis. Bau anyir darah, suara tulang yang remuk, dan teror ruang sempit yang menjadi ciri khasnya berhasil dieksekusi dengan luar biasa, memberikan identitas visual baru yang sangat dibutuhkan oleh waralaba ini.
Kembali ke "Core" Game Resident Evil
Lupakan rentetan enam film Resident Evil versi Paul W.S. Anderson yang penuh fiksi ilmiah nan bombastis. Resident Evil (2026) adalah antitesis dari era Milla Jovovich.
Sebagai sebuah stand alone movie, film ini menjadi entri yang sangat segar. Penonton awam tak perlu pusing memikirkan hubungan film yang rumit atau mencari tumpukan referensi lawas. Kalian hanya perlu duduk, menahan napas, dan menikmati teror yang disajikan.
Meski berdiri sendiri, Cregger justru berhasil menangkap core utama dari versi video gamenya: esensi survival horror. Ketakutan di film ini bukan dibangun dari monster berukuran raksasa yang dihujani peluru senapan mesin, melainkan rasa putus asa yang manusiawi.
Menariknya, walau beberapa formula jumpscare-nya tergolong klasik dan mudah tertebak, eksekusinya tetap berhasil membuat jantung berdebar. Tata suaranya mencekam dan beberapa kali shoot kamera terasa klaustrofobik.
Sebagai jembatan bagi para gamer, Cregger mengonfirmasi bahwa garis waktu perjalanan Bryan berjalan berdampingan secara paralel dengan peristiwa legendaris yang dialami Leon S. Kennedy dan Claire Redfield di sudut lain kota.
Penonton memang tidak akan melihat Leon, tetapi atmosfer kota yang kacau balau, sirine, dan kepanikan Raccoon City menjadi latar yang mengikat film ini erat dengan lore aslinya.
Easter Egg dan Protagonis yang Rapuh
Cregger jelas memahami cara memanjakan penggemar fanatik tanpa membuat penonton baru merasa terasingkan. Penyebutan istilah T Virus diselipkan secara organik di tengah misteri paket yang dibawa Bryan.
Tak hanya itu, penonton akan tersenyum melihat berbagai atribut visual khas game: kemunculan kaleng First Aid Spray, tanaman herbal (green herb) yang tak sengaja tersorot di fasilitas medis, mesin tik (typewriter) berdebu yang teronggok di atas meja kantor terbengkalai, hingga teka-teki gembok kombinasi (padlock) yang harus dipecahkan Bryan untuk membuka sebuah pintu darurat.
Di atas semua itu, fondasi terkuat film ini terletak pada performa Austin Abrams. Abrams berhasil membawakan karakter Bryan sebagai manusia biasa di situasi paling gila.
Bryan bukan agen rahasia atau polisi terlatih. Ia hanya pemuda dengan jaket kurir yang terengah-engah, gemetar saat memegang senjata, dan menangis ketakutan saat melihat mayat hidup pertama kali.
Keputusan yang diambil Bryan sangat masuk akal bagi orang biasa yang terjebak di salah satu hari paling sial dalam hidupnya.
Kerentanan Bryan ini yang membuat penonton ikut merasakan setiap rasa sakit dan keputusasaannya untuk bertahan hidup demi bisa kembali kepada Michelle.
Satu Catatan Minus
Kendati berhasil membangun ketegangan yang konsisten, film ini memiliki pergeseran ritme di babak ketiga yang sedikit mencederai kerapuhan karakter utamanya.
Di paruh awal hingga pertengahan, Bryan digambarkan begitu rapuh dan realistis dalam bertahan hidup. Namun, saat mendekati klimaks di Rumah Sakit Umum Raccoon, tempo film mendadak terlampau cepat demi mengejar konklusi paket medis tersebut.
Bryan mendadak jadi terlalu lihai menghindar dari kepungan puluhan zombi dalam ruang yang sangat mustahil untuk diloloskan oleh manusia biasa.
Lonjakan dari pria biasa yang panik menjadi sosok yang seolah hafal navigasi sedikit mengurangi bobot ketegangan realistis yang sudah dibangun dengan sangat sabar sejak awal.
Secara keseluruhan, Resident Evil (2026) adalah film yang diarahkan oleh sutradara yang tepat untuk kembali ke akarnya. Lewat visi Zach Cregger dan penampilan Austin Abrams, film ini sukses mengembalikan kengerian Raccoon City: dingin, berdarah, dan benar-benar meneror.
