Kumparan Logo

Reza Rahadian Buat Film Pendek “Anissa”, Terinspirasi Kisah Nyata Anak Tunanetra

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Reza Rahadian saat di Konferensi Pers Next Step Studio di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Reza Rahadian saat di Konferensi Pers Next Step Studio di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Aktor sekaligus sutradara Reza Rahadian menggarap film pendek berjudul Anissa untuk program Next Step Studio 2026. Film tersebut terinspirasi dari kisah nyata seorang anak tunanetra yang memiliki mimpi tampil dalam sebuah film.

Reza mengaku tergerak setelah bertemu langsung dengan sosok Anissa saat proses syuting film lain sebelumnya.

“Ini adalah cerita tentang seorang anak perempuan bernama Anissa. Dia seorang anak yang tidak bisa melihat. Saya bertemu ketika saya sedang syuting sebuah film, saya jatuh cinta pada anak ini, pada semangatnya, pada spirit hidupnya,” ujar Reza Rahadian saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Reza Rahadian dan para cast film Semua Akan Baik-baik Saja di BSD, Selasa (21/4/2026). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Menurut Reza, mimpi sederhana Anissa justru menjadi hal yang membekas baginya. Bukan soal panggung besar atau kecil, melainkan keberanian seorang anak untuk tetap bermimpi di tengah keterbatasan.

“Ini cerita tentang bagaimana seorang anak perempuan memiliki mimpi untuk bisa bernyanyi di sebuah panggung tanpa mengukur panggung besar atau kecil,” tuturnya.

Film Anissa sendiri menjadi salah satu dari empat film pendek Indonesia dan Asia Tenggara yang akan tayang di Critics’ Week Cannes 2026 melalui program Next Step Studio.

Dalam pengembangannya, Reza berkolaborasi dengan sineas asal Filipina, Sam Manacsa. Ia menyebut dirinya dan Sam banyak mendiskusikan soal lingkungan dan pengalaman hidup anak-anak di Asia Tenggara yang terasa dekat satu sama lain.

Reza Rahadian saat di Konferensi Pers Next Step Studio di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Selain itu, Reza juga melibatkan Nazira C. Noer sebagai pemeran ibu Anissa. Ia bahkan mengaku langsung teringat Nazira ketika pertama kali bertemu ibu asli Anissa.

“Pas melihat ibu dari anak ini, mukanya mirip banget sama Nazira. Jadi nggak ada kandidat lain waktu itu selain memilih Nazira sebagai ibunya,” kata Reza sambil tertawa.

Bagi Reza, film ini bukan sekadar tentang keterbatasan, tetapi tentang cara melihat kemampuan seseorang secara utuh.

Tak hanya bicara soal film, Reza juga menyampaikan harapannya kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia agar dukungan terhadap perfilman Indonesia bisa semakin serius, terutama untuk proyek-proyek kolaboratif seperti Next Step Studio.

Menurut Reza, proyek seperti ini idealnya tak lagi membuat para produser dan sineas harus sibuk mencari pendanaan ke berbagai tempat, karena film-film tersebut dibuat bukan semata untuk keuntungan pribadi, melainkan untuk membawa nama Indonesia ke panggung internasional.

“Ini adalah sebuah project kolaboratif. Harusnya hal-hal seperti ini sudah tidak lagi menempatkan para produser atau inisiator untuk kemudian kesibukan mencari funding ke sana dan kemari,” tegas Reza.

“Teman-teman di sini tidak membuat film ini untuk keuntungan. Mereka tidak mencari keuntungan. Ini untuk Indonesia, untuk negara kita,” lanjutnya.

Reza juga berharap Kementerian Kebudayaan bisa menjadi ruang dukungan bagi sineas-sineas muda Indonesia di masa depan.

“Saya berharap sekali ke depannya ketika ada teman-teman lain, produser-produser lain seperti Yulia, semoga ini bisa jadi sesuatu yang baru lagi,” tandasnya.

Next Step Studio merupakan program inisiatif untuk berkolaborasi mengembangkan karya-karya kreatif, salah satunya film pendek. Lewat program ini, empat film pendek hasil kolaborasi sineas Indonesia dan Asia Tenggara dijadwalkan tayang di Cannes’ Critics’ Week 2026.

Sebanyak delapan sutradara terpilih, empat dari Indonesia dan empat dari Asia Tenggara, berkolaborasi untuk mengembangkan empat film pendek dengan pendekatan kreatif yang berbeda.

Keempat film pendek itu, antara lain, Holy Crowd karya M. Reza Fahriyansyah (Indonesia) dan Anath Subramaniam (Malaysia), Original Wound karya Shelby Kho (Indonesia) dan Sein Lyan Tun (Myanmar), Annisa karya Reza Rahadian (Indonesia) dan Sam Manacsa (Filipina), serta Mothers Are Mothering karya Khozy Rizal (Indonesia) dan Lam Li Shuen (Singapura).