Reza Rahadian hingga Julie Estelle Bintangi Mereka yang Menunggu di Banda Naira
ยทwaktu baca 3 menit

Titimangsa Foundation dan Bakti Budaya Djarum Foundation siap mempersembahkan sebuah pementasan terbaru bertajuk Mereka yang Menunggu di Banda Naira.
Teater ini siap dipentaskan pada hari ini, Kamis (25/11), pukul 20.00 WIB, di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat. Nantinya, akan ada juga siaran ulang secara virtual mulai 17 Desember mendatang di kanal YouTube IndonesiaKaya.
"Di tengah pandemi, panggung seni pertunjukan Indonesia senantiasa beradaptasi dengan kondisi dan berbagai perubahan yang ada dengan menghadirkan berbagai pementasan secara virtual," ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation dalam siaran pers yang kumparan terima, Kamis (25/11).
"Kali ini, bersama dengan Titimangsa Foundation, kami ingin sedikit melepas kerinduan para penikmat seni dengan menyajikan sebuah pementasan yang dapat disaksikan secara virtual dan gratis di kanal YouTube kami," sambungnya.
Happy Salma, Founder Titimangsa Foundation dan produser pertunjukan, mengaku sangat optimistis, meski pandemi belum usai, pentas Mereka yang Menunggu di Banda Naira menjadi bukti bahwa kesenian bisa terus mengalir dan berjalan.
"Pentas ini juga merupakan kenang-kenangan yang sangat berarti, yang dititipkan Gunawan Maryanto kepada kami. Beberapa waktu lalu, ia telah pergi meninggalkan kita semua. Saya tahu, ketika berkarya, almarhum selalu bekerja dengan sepenuh hati. Dan kita akan meneruskan energi itu," kata Happy Salma.
Mereka yang Menunggu di Banda Naira diadaptasi dari novel karya Sergius Sutanto bertajuk Bung di Banda. Novel itu dialihwahanakan oleh almarhum Gunawan Maryanto sebagai naskah lakon pementasan.
Kemudian, pentas dari Gunawan Maryanto itu ditafsirkan ulang oleh Wawan Sofwan untuk pertunjukan Mereka yang Menunggu Di Banda Naira. Pentasnya berkisah tentang pertemuan Bung Syahrir, Bung Hatta, Bung Tjipto dan Bung Iwa di tanah pembuangan Banda Naira.
Tahun 1936, Sjahrir dan Hatta tiba di Banda Naira sebagai tahanan politik dan bertemu dengan Tjipto dan Iwa. Meski ada dalam pengasingan, mereka tak gentar meneruskan perjuangan di bidang sosial dan pendidikan.
Kesibukan ini tidak disukai oleh penguasa setempat Hindia Belanda, Kloosterhuis, yang akhirnya memberlakukan pembatasan-pembatasan ruang gerak. Di tengah perjuangannya selama berada di Banda Naira, Sjahrir terus diliputi perasaan gelisah karena terpisah dengan kekasih hatinya, Maria, yang berada di Belanda.
Pementasan teater ini menghadirkan nama-nama pemain yang berdedikasi di film dan teater, yaitu Reza Rahadian sebagai Sutan Sjahrir, Lukman Sardi sebagai dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Tanta Ginting sebagai Mohammad Hatta, Verdi Solaiman sebagai Iwa Koesoema Soemanteri, dan Willem Bevers sebagai Kloosterhuis.
Ada pula aktris yang memulai debutnya di panggung teater, Julie Estelle, sebagai Maria Duchtaeau, dan aktor cilik pendatang baru, Akiva Sardi sebagai Des Alwi. Pentas ini juga melibatkan jajaran kerabat kerja yang telah malang melintang di dunia seni pertunjukan, yaitu Deden Jalaludin Bulqini, Novi Purnama, Retno Ratih Damayanti, Aji Sangiaji, Yudin Fakhrudin, dan Ruby Roesli.
