Kumparan Logo

Rupiah Tembus Rp 18 Ribu per Dolar AS, Bimbim Slank Menjerit

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Musisi Bimbim Slank mengantarkan jenazah ayahnya Sidharta M Soemarno saat dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, Selasa (5/3/2024). Foto: Dok. Agus Apriyanto
zoom-in-whitePerbesar
Musisi Bimbim Slank mengantarkan jenazah ayahnya Sidharta M Soemarno saat dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, Selasa (5/3/2024). Foto: Dok. Agus Apriyanto

Lesunya nilai tukar rupiah yang dilaporkan menembus angka sekitar Rp 18.000 per dolar AS membuat banyak orang ketar ketir. Tak terkecuali bagi para pelaku industri musik Indonesia.

Dua musisi beda generasi, Bimbim Slank dan Baskara Putra (Hindia), mengaku khawatir melihat dampak domino anjloknya rupiah. Bagi mereka, hal ini jadi ancaman nyata terhadap dapur seni dan kehidupan sehari-hari.

"Iya, stick, senar, apa lagi? Dolar naik kita kena apa? Semua! Itu barang impor semua," ujar Bimbim di Markas Potlot, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Bimbim menjelaskan kenaikan dolar AS berdampak pada biaya operasional musisi. Kebutuhan seperti senar gitar hingga stik drum yang berkualitas masih harus didatangkan dari luar negeri dengan patokan harga dolar.

"Kami terdampak karena alat musik dan kebutuhan sehari-hari kayak senar atau stik drum itu masih impor. Jadi ya, jujur saja, kita menjerit kalau dolar naik setinggi ini," tambahnya.

Personel SLANK, Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim dalam acara peluncuran video klip #Barengjokowi di Markas Slank. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Lebih jauh, Bimbim merefleksikan kondisi ini dengan krisis moneter 1998. Namun, ia memberikan catatan penting soal stabilitas sosial.

"Hari ini, selama seni, budaya, lagu, dan kebebasan berekspresi enggak dibungkam, aku rasa masih bisa menenangkan masyarakat. Tapi kalau dilarang, dibungkam, sementara ekonomi sulit, itu mungkin bisa meledak," tegas Bimbim.

Keresahan Baskara Hindia

Senada dengan Bimbim, Baskara atau yang akrab disapa Hindia, juga menuangkan kegelisahannya melalui akun X. Baskara menyoroti bahwa kenaikan dolar tak hanya menyentuh alat musik, melainkan sudah ke arah urusan perut.

Baskara mengakui, sebagai musisi sukses, ia memiliki privilese secara ekonomi. Namun, kesulitan ternyata mulai terasa.

"Gue cukup pede untuk bilang bahwa gue 'mampu'. Ada privilege dari pekerjaan gue sebagai musisi yang—Puji Tuhan—berhasil dan uangnya lebih dari cukup. Tapi akhir-akhir ini, gue merasa terdampak banget dengan kenaikan harga barang karena rupiah melemah," tulis Baskara.

Musisi band Hindia, Daniel Baskara Putra Foto: econusa

Ia menambahkan, kekhawatirannya justru lebih besar kepada masyarakat kecil dan lebih rentan.

"Kalau gue aja terdampak, gue enggak kebayang kalian bakal gimana. Serem. Ini bukan cuma soal alat musik yang patokannya USD, tapi pengeluaran buat makan dan hal-hal esensial lainnya meningkat tajam dibanding kemarin," ungkap Baskara.