Kumparan Logo

Setelah Pagelaran Sabang Merauke 2026: Hikayat Srikandi Nusantara

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pagelaran Sabang Merauke 2026 mengusung tema 'Hikayat Srikandi Nusantara' digelar di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pagelaran Sabang Merauke 2026 mengusung tema 'Hikayat Srikandi Nusantara' digelar di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

"Saudara-saudaraku, saatnya telah tiba. Para Srikandi-Srikandi Nusantara, aku memanggilmu."

Saat Raisa yang menjadi Srikandi di "Pagelaran Sabang Merauke 2026: Hikayat Srikandi Nusantara" muncul, sejujurnya saya merasa merinding. Rasanya seperti benar-benar melihat sosok Srikandi dalam perang Bharatayudha melawan Kurawa.

Dalam epos Mahabharata, sebenarnya yang "punya hajat" di perang itu adalah Arjuna, suami Srikandi. Perang Bharatayudha adalah perang saudara antara keluarga Pandawa melawan sepupu mereka, Kurawa, untuk merebut tahta Kerajaan Hastinapura.

Srikandi diutus terjun tak cuma karena skill memanah dan keprajuritannya yang luar biasa--yang membuatnya jadi ksatria yang bertanggung jawab atas keamanan dan pertahanan Madukara, wilayah kekuasaan Arjuna. Prabu Sri Kresna mengutus Srikandi karena dua hal lainnya juga.

Pertama, Bisma, panglima terkuat Kurawa, punya sumpah sakti tak akan menyerang wanita. Kedua, Srikandi adalah reinkarnasi Dewi Amba yang dijanjikan oleh Siwa bisa mengalahkan Bisma. Srikandi akhirnya terjun ke medan perang, jadi "tameng" suaminya. Bisma tewas, Kurawa kalah, Dinasti Bharata berjaya.

Tapi setelah perang dan segala sepak terjangnya, Srikandi malah gugur dibunuh diam-diam di Istana Astina oleh Aswatama yang menyusup masuk. Saya tak suka ending kisah aslinya. Dan melihat sosok Srikandi dan para tokoh perempuan lain di pagelaran ini cukup mengobati rasa kesal saya.

Pagelaran Sabang Merauke 2026 mengusung tema 'Hikayat Srikandi Nusantara' digelar di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Raisa seperti bisa menghidupkan lagi Srikandi dengan segala amarahnya. Ia memanggil pasukannya yang tersebar di berbagai universe, membangkitkan keberanian yang lama terpendam, dan meneriakkan semangat persatuan untuk memerangi Yuyu Kangkang--yang jadi simbol pelaku kekerasan terhadap perempuan.

"Maju bersama, menuju kemenangan dan kemuliaan menghadapi bahaya laten yang mengancam negeri ini!"

Srikandi, Pagelaran Sabang Merauke 2026

Ia pergi bersama pengawal setianya, Limbuk. Sosok perempuan yang digambarkan punya self love tinggi, setia, punya etos kerja, dan punya banyak mimpi. Awalnya mereka mendatangi Kerajaan Sriwijaya yang terkenal akan peran perempuannya sebagai panglima diplomasi dan politik. Perempuan kerajaan ini diwakili oleh Alicia Hartono. Dalam catatan sejarah, bahkan di abad ke-10 ada penguasa perempuan yang memimpin wilayah regional Sriwijaya, Maharaja Sri Wijaya Mahadewi.

Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pendidikan Buddha Mahayana di Asia Tenggara. Itulah mengapa, di scene "Gending Sriwijaya" tak cuma diisi penari tradisional dengan gerakan sambutan selamat datang, tapi juga aksi barosangi, liong, dan pendekar wushu.

Pagelaran Sabang Merauke 2026 mengusung tema 'Hikayat Srikandi Nusantara' digelar di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Di Sumatera Barat, Srikandi bertemu dengan Mande Rubayah, ibu Malin Kundang. Di kisah aslinya, Mande Rubayah adalah single parent yang banting tulang membesarkan anak semata wayangnya, Malin Kundang.

Kisahnya berkutat pada rasa kecewa setelah sang anak yang sudah sukses lupa, menolak mengakuinya sebagai Ibu karena malu. Doa pun terucap. Malin Kundang dikutuk menjadi batu. Mande Rubayah jadi makin hancur dengan penyesalan abadi.

Di pagelaran ini, Malin Kundang "kembali jadi manusia". Ia memohon ampun kepada ibunya. Srikandi lalu hadir, mengajak Mande Rubayah yang telah sembuh dari duka ikut dalam pasukannya.

Pagelaran Sabang Merauke 2026 mengusung tema 'Hikayat Srikandi Nusantara' digelar di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dari Sriwijaya dan Sumatera Barat, Srikandi pergi bertemu dengan Dayang Sumbi yang diperankan oleh Christine Tambunan. Jika Srikandi berjuang dengan panah dan kekuatan, Dayang Sumbi adalah perempuan yang berjuang dengan cinta.

Dalam kisah aslinya, Dayang Sumbi sesungguhnya adalah kumpulan dari cerita tragis. Ia harus terpisah dari latar belakang kerajaan, menerima suaminya dalam bentuk anjing, kehilangan suami karena ulah anak sendiri, terpisah puluhan tahun dengan anak, dan nyaris jadi korban pernikahan sedarah.

Tapi setelah itu semua, Dayang Sumbi tak pernah sekali pun digambarkan meratapi nasibnya. Ia selalu tegar, aktif melindungi diri dan menjaga norma moral serta prinsipnya.

Di pagelaran ini, Dayang Sumbi tak setragis kisah aslinya. Ia masih bersama Tumang, si laki-laki anjing. Meski hidupnya relatif lebih "tenang", tapi Dayang Sumbi tetap berkenan ketika Srikandi memanggil dan memintanya bergabung melawan Yuyu Kangkang.

Pagelaran Sabang Merauke 2026 mengusung tema 'Hikayat Srikandi Nusantara' digelar di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Setelah bertemu Mahadewi Durga, mereka lanjut ke Bali dan bertemu Calonarang. Dalam kisah aslinya, Calonarang menurut saya adalah penggambaran amarah dan penolakan terhadap diskriminasi.

Calonarang adalah seorang janda di era Kerajaan Kahuripan yang ada di bawah kepemimpinan Raja Airlangga. Ia adalah janda sakti dari Desa Girah yang punya putri cantik bernama Ratna Manggali.

Karena hal itu, tak ada satu pun pemuda yang berani melamar Ratna. Mereka takut pada ilmu leak yang dikuasai Calonarang. Ratna ditolak dan dijauhi masyarakat. Diskriminasi itu membuat Calongarang marah, membalas dendam dengan menebarkan wabah penyakit.

Raja Airlangga akhirnya meminta bantuan pandita sakti, EMpu Bharada. Untuk melumpuhkan Calonarang, Empu Bharada meminta muridnya, Empu Bahula, melamar Ratna. Anaknya menikah, Calonarang lengah. Empu Bharada lalu mengalahkan Calonarang dan menyucikan jiwanya.

Di pagelaran ini, kisah Calonarang menitikberatkan pada keseimbangan antara sekala dan niskala, bahwa hidup tak selalu hitam dan putih. Sosok barong, celuluk, dan rangda dihadirkan bukan jadi pembawa pertentangan antara kebaikan dan keburukan, tapi justru pengingat bahwa hidup selalu punya dua sisi yang berjalan berdampingan.

Calonarang yang selama ini dianggap jahat, sejatinya hanya perempuan biasa dengan cinta kasih yang besar kepada anaknya. Ia adalah perempuan biasa yang marah dan melawan saat anaknya mendapat diskriminasi.

Pagelaran Sabang Merauke 2026 mengusung tema 'Hikayat Srikandi Nusantara' digelar di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pagelaran Sabang Merauke tahun ini bagi saya bukan cuma kumpulan gambaran perempuan hebat di Nusantara. Ini adalah obat bagi segala kisah dan image buruk serta tragis yang disematkan kepada para perempuan ini.

Kisah ini bukan cuma soal Srikandi yang berkeliling Nusantara, mencari bala bantuan, untuk mengalahkan Yuyu Kangkang. Ini adalah gambaran dari sebuah perlawanan terhadap diskriminasi, ketidakadilan, dan penguat bagi para perempuan agar berani menghadapi dunia.

Rasanya senang sekali bisa melihat Srikandi yang berjaya memimpin pasukannya.

Mande Rubayah yang tak lagi terikat pada kutukan duka abadi dan rasa bersalah.

Dayang Sumbi dengan kehidupan cinta dan kasih sayang yang ia inginkan.

Calonarang yang dibersihkan nama baiknya.

Hingga Mahadewi yang menguasai semesta dengan kelembutannya.