'Spider-Man: Homecoming', Cowok Puber Belum Pantas Masuk The Avengers

Ada hikmah dari setiap kejadian. Ketika komputer Sony Pictures diretas pada 2014 lalu, banyak yang gusar akan kelanjutan proyek film Spider-Man.
Andrew Garfield yang menjadi suksesor Tobey McGuire sebagai Manusia Laba-laba di The Amazing Spider-Man, dinilai tak cukup baik untuk mengangkat franchise tersebut agar sejajar secara komersial dengan para superhero seperti Iron Man, Thor dan Captain America.
Akhirnya Sony dan Marvel mengumumkan kerjasama mereka untuk membawa Spidey ke dalam Marvel Cinematic Universe (MCU). Kursi produser diambil alih Kevin Feige, bos Marvel Studios yang bertanggung jawab atas kesuksesan para karakter superhero Marvel di layar lebar. Tak ada lagi nama Avi Arad yang sebelumnya menangani semua film Spider-Man, mulai dari trilogi garapan Sam Raimi hingga arahan Marc Webb.
Feige menunjuk Jon Watts yang sebenarnya tak punya portofolio bagus-bagus amat. Tapi hasilnya, 'Spider-Man: Homecoming' memiliki racikan pas untuk membawa Tom Holland menjadi Spider-Man paling asyik, keren, dan proporsional melebihi para pendahulunya.

Peter Parker diceritakan sedang puber, dan memang seperti itulah sosok Spidey sebaiknya ditampilkan. Bukan versi laki-laki dewasa yang galau seperti dibawakan Tobey McGuire atau Andrew Garfield yang berada di tengah-tengah rentang usia remaja dan dewasa.
Peter Parker versi Tom Holland memiliki alasan kuat atas semua perilakunya sebagai superhero yang baru akil baligh, sehingga cerita 'Spider-Man: Homecoming' terasa lebih relevan. Peter juga mulai menyukai lawan jenis, memberikan bumbu-bumbu penyedap cinta monyet ala remaja.
Dengan hormon testosteron yang mulai membuncah, wajar jika Peter Parker terlihat norak ketika diajak Iron Man untuk bertempur menghadapi Captain America di Berlin (dia membuat vlog keseluruhan perjalanannya).
Aktualisasi diri menjadi isu penting dalam film. Peter tak lagi fokus belajar dan mengabaikan kejuaraan nasional di bidang pendidikan. Dia hanya ingin menumpas kejahatan agar dilihat Tony Stark. Syukur-syukur diajak bergabung dengan kelompok elite The Avengers.
Lagu 'Hey Ho, Let's Go' dari The Ramones menggambarkan pribadi Peter yang cheerful sekaligus sedikit rebel.

Di tengah hari-harinya yang membosankan sebagai superhero, Peter melihat sekumpulan perampok di ATM dengan topeng anggota The Avengers. Tanpa pikir panjang, dia langsung beraksi dan baru sadar bahwa para begundal itu menggunakan senjata teknologi alien. Kerusakan besar akibar pertarungan itu tak cukup mengingatkan Peter untuk lebih berhati-hati dan bertanggung jawab.
Penyelidikan dengan bantuan kostum supercanggih buatan Tony Stark, membawa Peter pada karakter jahat The Vulture (Michael Keaton). Sedikit tentang The Vulture, dia adalah mekanik yang kecewa dengan sistem dan bagaimana dunia berjalan di bawah kekuasaan orang-orang kaya dan berpengaruh seperti Tony Stark.
Orang seperti kamu dan aku hanya memakan remah-remah dari meja mereka
Penjahat bersayap itu sangat benci dengan Iron Man dan pemerintah. Filosofinya tentang hidup cukup menarik, meskipun cara yang diambil salah. The Vulture adalah gambaran dari kaum marginal putus asa yang akan melakukan apapun untuk mengisi perut dan melindungi keluarganya.
Ambisi Peter untuk terlihat penting dan berguna sebagai superhero harus dibayar mahal. Dan itu menunjukkan bahwa cowok yang sedang puber memang belum pantas masuk The Avengers... (kecuali dia lulus tes protokol berlapis dari Tony Stark).

'Spider-Man: Homecoming' adalah tontonan wajib yang menghibur dan menyenangkan seperti naik roller coaster. Jika dirasakan ada yang kurang, mungkin pertarungan akhir yang kurang klimaks antara Spidey dan The Vulture. Perasaan seperti ditinggal kekasih saat sedang sayang-sayangnya.
Beberapa hal menarik lainnya dari film ini adalah keberagaman karakternya. Selain itu kemunculan Bibi May (Marisa Tomei) tak lagi digambarkan konservatif, melainkan tante gaul yang asyik bagi generasi milenial.
'Spider-Man: Homecoming' mulai tayang di bioskop hari ini. Tunggu sampai credit title selesai, dan kamu akan menemukan post-credit scene paling mengejutkan yang pernah dibuat Marvel.
