Kumparan Logo

Suami Siri Cucu Mpok Nori Disebut Cemburuan, Awasi Rumah Sebelum Pembunuhan

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kontrakan korban diduga pembunuhan terhadap cucu seniman Mpok Nori, Dwintha Anggary di Jalan Daman I, Kelurahan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (22/3/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kontrakan korban diduga pembunuhan terhadap cucu seniman Mpok Nori, Dwintha Anggary di Jalan Daman I, Kelurahan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (22/3/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Cucu Mpok Nori, Dwintha Anggary (37) menjadi korban pembunuhan suami sirinya yang merupakan WNA asal Irak bernama Fuad. Dwintha ditemukan tak bernyawa pada Sabtu (20/3) dini hari di kontrakannya, Jl. Gg. Daman I, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.

Keluarga Dwintha mengungkap bahwa Fuad memiliki sifat cemburuan.

“Dia (pelaku) agak cemburuan. Jadi almarhum enggak boleh komunikasi sama yang lain, kayak dikekang,” kata Dian kepada kumparan, Minggu (22/3).

Menurut Dian, sikap tersebut semakin terlihat saat Dwintha mulai aktif bekerja dan memiliki banyak teman, termasuk rekan kerja laki-laki.

Dian, kakak dari Dwintha Anggary. Foto: Nauval Pratama/kumparan

Tak hanya itu, keluarga juga mengungkap bahwa Fuad masih terus berupaya mendekati korban meski hubungan keduanya telah berakhir. Ia disebut kerap mengajak Dwintha untuk kembali rujuk.

Sebelum insiden pembunuhan terjadi, Fuad juga diduga kerap memantau aktivitas korban di sekitar tempat tinggal. Bahkan, pada hari kejadian, Fuad disebut sempat berkeliling di sekitar lokasi menggunakan sepeda motor pada malam hari.

“Dia mantau terus,” ujar Dian.

Mpok Nori. Foto: YouTube IndonesiaKaya

Saat ini, kasus tersebut telah ditangani pihak kepolisian. Keluarga berharap pelaku dapat dihukum seadil-adilnya atas perbuatannya.

Usai ditemukan, jenazah Dwintha sempat dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk diautopsi. Jenazah lalu dimakamkan di TPU Pondok Ranggon.

Reporter: Muhammad Pratama