Tak Kesulitan Riset Jadi Koruptor, Agus Kuncoro: Di Negeri Ini Banyak Referensi

Aktor Agus Kuncoro terlibat dalam film berjudul Jembatan Shiratal Mustaqim. Di film arahan Bounty Umbara itu, Agus memerankan karakter pejabat yang korupsi.
Bukan sebuah kesulitan bagi Agus mencari bahan riset koruptor. Kata Agus, di Indonesia banyak sekali sosok yang bisa menjadi bahan risetnya di film ini.
"Nah yang enaknya saya tinggal di negeri yang banyak sekali referensinya untuk saya ambil gitu lho," ujar Agus Kuncoro saat berkunjung ke kumparan belum lama ini.
Lewat beberapa koruptor yang ada di negeri ini, Agus bisa mempelajari bagaimana mereka bersikap sebagai bahan riset karakternya di film tersebut.
"Mudah sekali, banyak sekali contoh yang bisa saya pelajari, entah dari gesture dari cara dia bicara, hampir semuanya kan bermuka dua mereka," tutur Agus.
Dari hasil pengamatannya, para koruptor memiliki gelagat yang serupa. Agus menilai mereka merupakan sosok bermuka dua.
"Mereka terlihat baik di hadapan kita pada akhirnya ketika di kesendirian mereka beda sekali dengan apa yang mereka tampilkan di depan umum," ungkap Agus.
"Dan itu orang pintar kebanyakan tapi tidak di adabnya," tambahnya.
Film garapan produser Dheeraj Kalwani ini mengangkat isu korupsi dan balasan di akhirat. Film ini dilengkapi dengan visual neraka, Padang Mahsyar, Surga, hingga jembatan Shiratal Mustaqim, jembatan yang disebut paling menakutkan karena terbentang di atas neraka dan hanya bisa dilalui dengan amal serta doa keluarga.
Film ini bercerita tentang Arya (Raihan Khan), seorang pemuda korban tsunami yang terseret dalam misteri penggelapan dana bantuan. Bersama sang ibu (Imelda Therinne), ia mencoba mengungkap kebenaran, namun justru diteror penglihatan mengerikan tentang jembatan Shiratal Mustaqim.
Film Jembatan Shiratal Mustaqim digarap dengan serius, terutama dalam menghadirkan visual akhirat. Proses CGI memakan waktu setahun demi memberikan pengalaman sinematik yang belum pernah ada di film horor Indonesia.
Jembatan Shiratal Mustaqim akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 9 Oktober 2025. Film ini dinilai bukan hanya sebagai tontonan horor, melainkan juga ajakan refleksi bagi penonton tentang makna amal, doa, dan konsekuensi perbuatan di dunia.
