kumparan
20 Desember 2017 9:27

Tasya Kamila: Kuliah di Kampus Obama dan Terobsesi Menjadi Menteri

Tasya Kamila
Tasya Kamila (Foto: Instagram @tasyakamila)
Siapa ingat dengan sosok Tasya Kamila? Gadis manis berambut panjang dan memiliki lesung pipi ini, memulai kariernya di industri hiburan Tanah Air pertama kali saat menjadi seorang bintang iklan di usianya yang masih menginjak 6 tahun.
ADVERTISEMENT
Namanya semakin dikenal saat beberapa kali membintangi judul sinetron, di antaranya berjudul ‘Kupu-kupu Ungu’ dan ‘Nyanyian Burung’, ‘Matahariku’, ‘Tasya’, dan ‘Jangan Menangis Adinda’. Selain itu, ia juga mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dapur rekaman pada tahun 2000.
Album perdananya kala itu berjudul ‘Libur T’lah Tiba’, ciptaan A.T Mahmud. Album tersebut berhasil terjual sebanyak 350 ribu kopi, kemudian satu tahun berikutnya, Tasya kembali menelurkan karya yang bertajuk ‘Gembira Berkumpul’. Kemudian, ia juga sempat berkolaborasi dengan grup band Sheila On 7, membawakan lagu ‘Jangan Takut Gelap’.
Sukses menjadi penyanyi dan aktris cilik, tak kemudian membuat Tasya melupakan kewajiban utamanya bersekolah. Saat beranjak dewasa, gadis berdarah Minangkabau, Sumatera Barat ini sempat vakum sejenak dari dunia hiburan dan mulai fokus untuk menyelesaikan pendidikannya.
ADVERTISEMENT
Kerja keras Tasya pun akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil masuk Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Akuntansi di tahun 2010.
Di pertengahan waktu kuliahnya, Tasya pun juga meluncurkan album remaja perdananya yang berjudul ‘Beranjak Dewasa’. Dalam album ini, Tasya mencoba melepas image cilik dengan membawakan lagu-lagu pop yang bertemakan cinta.
Meskipun sibuk bernyanyi, namun Tasya berhasil menyelesaikan studi S-1 nya tersebut dalam waktu 3,5 tahun. Ia berhasil mendapatkan predikat ‘Cumlaude’ dan ‘Lulusan Tercepat.'
“Wkwkwk seneng jg dapet predikat cumlaude dan “Lulusan Tercepat S-1 Reguler FE UI” Alhamdulillaaaah #yudisiumFEUI,” tulis Tasya dalam akun Instagramnya, beberapa tahun yang lalu.
Setelah lulus kuliah, Tasya kembali lagi berkarier ke dunia hiburan. Dan sepertinya, dara yang kini berusia 25 tahun tersebut tidak puas hanya menyandang gelar sarjana saja.
Tasya Kamila
Tasya Kamila (Foto: Instagram @tasyakamila)
Dua tahun kemudian setelah dinyatakan lulus dari studi S-1 nya, Tasya kembali mendaftar untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Ia mendaftar ke salah satu universitas terbaik di dunia, yakni Columbia University yang berada di Amerika Serikat dan mengambil jurusan Administrasi Publik.
ADVERTISEMENT
Tasya telah menyiapkan berbagai macam persyaratan, kemudian menyiapkan diri untuk ujian masuk universitas ternama tersebut sejak bulan Januari 2015. Satu tahun kemudian, tepatnya pada bulan Maret 2016, kerja keras Tasya selama ini pun akhirnya terbayarkan.
Ia secara resmi diterima sebagai mahasiswa Master of Public Administration program at the School of International and Public Affairs (SIPA) di Columbia University. Kebahagiaan itu pun ia bagikan kepada seluruh penggemarnya melalui sebuah postingan Instagram.
“Pagi ini aku mendapatkan sebuah kabar yang membahagiakan. Sepenggal surat dari Columbia University, New York. Satu2nya sekolah yang aku daftar utk lanjut S2 dam Alhamdulillaaaaah berhasil + dapet Full Scholarship dr LPDP lagi!! Yaa Allah, Engkau Maha Pengasih.. I’m beyond grateful,” tulisnya dalam kolom keterangan di foto tersebut.
ADVERTISEMENT
Beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) merupakan beasiswa yang diberikan dari pihak pemerintah di bawah naungan Kementerian Keuangan, yang diperuntukkan bagi anak-anak bangsa berprestasi yang hendak meneruskan studi master atau doktor di dalam maupun luar negeri.
Saat menantikan waktu keberangkatannya ke New York, Tasya juga sempat berkumpul bersama beberapa penyanyi cilik lainnya, seperti Joshua Suherman, Leony, Dea Ananda, Rachel Amanda, dan masih banyak lagi untuk merancang sebuah kampanye bertajuk #SaveLaguAnak.
Kampanye tersebut dilakukan karena keprihatinan yang timbul dari penyanyi cilik era 90-an akan lagu-lagu anak Indonesia yang bisa dibilang sudah cukup jarang terdengar bahkan tidak ada sama sekali.
Tasya pun akhirnya bertolak ke New York, Amerika Serikat di awal bulan Agustus 2016. Seluruh keluarga dan juga kekasih tercinta pun turut mengantarkan kepergian Tasya kala itu. Ia juga sempat diberikan kejutan berupa farewell party dari orang-orang terdekatnya.
ADVERTISEMENT
Di New York, ternyata Tasya tinggal seorang diri. Awalnya ia tinggal di sebuah asrama, sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke apartemen.
“Kalau di dorm enaknya ada tetangga gitu, tapi lebih banyak enggak enaknya menurut aku. Karena kamar mandinya di luar, yang mana enggak semua orang bersih, terus kitchennya juga sharing, dan ya itu tadi enggak semua bersih, jarak dari dorm ke sekolah juga cukup jauh, sama biaya sewa juga ternyata enggak terlalu beda,” ungkapnya dalam sebuah vlog yang diunggah ke YouTube, saat itu.
Tasya Kamila
Tasya Kamila (Foto: Instagram @tasyakamila)
Perjuangan Tasya untuk dapat menembus kampus Obama tersebut memang bukan hal yang mudah. Tasya benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi serangkaian tes seleksi mahasiswa baru di Columbia University. Salah satunya adalah tes GRE--untuk mengetahui kemampuan memahami bacaan yang yang rumit--.
ADVERTISEMENT
"Kalau di Amerika ada tes GRE/ Yang spesifik ada matematika dan bahasa Inggris. TOEFL dan ada essay juga," jelas Tasya dalam sebuah sesi wawancara.
Beberapa waktu lalu, Tasya juga sempat mengaku bersyukur mendapat beasiswa penuh dari LPDP mengingat biaya kuliah di kampus bergengsi tersebut ternyata tidak murah. Ya, Tasya mengungkapkan biaya kuliah per semester sebesar USD 29.696 atau sekitar Rp 400 juta.
"Makanya aku bersyukur banget udah dikasih kesempatan sekolah disini dengan biaya penuh #terimakasihLPDP (emoticon nangis). Goodluck buat pejuang dan hunter beasiswa lainnya," ujarnya.
Curhat Tasya Kamila soal biaya kuliah
Curhat Tasya Kamila soal biaya kuliah (Foto: Instagram stories @tasyakamila)
Prestasi Tasya tak sampai di situ saja. Ia juga ternyata sudah menjadi seorang Duta Lingkungan Hidup sejak tahun 2006, lho. Awal tahun ini, Tasya sempat kembali ke Indonesia, dan berkunjung ke Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
ADVERTISEMENT
Bukan untuk berlibur, kedatangannya ke sana ternyata untuk melakukan survey untuk mengerjakan proyek pembangunan desa swadaya energi.
“Sedang survey untuk mengerjakan proyek pembangunan desa swadaya energi “Energy Empowered Village” yg menggunakan resources lokal untuk dimanfaatkan sbg renewable energy. So happy and proud to be a part of SIPA Columbia’s #GlobalCollaboratoryProject and contribute to human development in my home country,” tulisnya dalam sebuah unggahan foto bersama masyarakat Sumba.
Tak hanya itu saja, Tasya ternyata juga selalu menyempatkan diri untuk menanam pohon di tiap-tiap kota yang ia kunjungi.
“Tiap kota yg ku kunjungi, disempatkan buat tanam pohon #DutaLingkungan,” tulisnya.
Tasya sadar jika dirinya merupakan seorang pecinta lingkungan dan begitu mengenali potensinya di bidang tersebut. Ia berharap, berbekal dengan pengalaman dan juga pendidikan yang ditempuhnya saat ini, suatu hari Tasya bisa mewujudkan mimpi dan obsesinya untuk menjadi seorang menteri, dan kemudian membangun Indonesia untuk menjadi negara yang lebih baik.
ADVERTISEMENT
"Aku punya obsesi jadi menteri. Mungkin karena sering jadi duta lingkungan, sosialisasi bareng metenteri dan ngobrol sama orang-orang hebat makanya terinspirasi seperti mereka. Jadi sekarang belajar dulu yang bener," ujarnya sambil tersenyum.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan