Kumparan Logo

Tayang Perdana di JAFF, Film Kuyank Hadirkan Pendekatan Budaya yang Kuat

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Film Kuyank resmi diputar perdana dalam Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20, beberapa waktu lalu. Foto: Dok. DHF Pictures
zoom-in-whitePerbesar
Film Kuyank resmi diputar perdana dalam Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20, beberapa waktu lalu. Foto: Dok. DHF Pictures

Semesta film Saranjana: Kota Gaib kembali diperluas dengan hadirnya film terbaru berjudul Kuyank. Prekuel resmi ini diputar perdana dalam Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20, beberapa waktu lalu.

Disutradarai Johansyah Jumberan, Kuyank jadi salah satu film yang paling dinantikan setelah Saranjana sukses meraih 1,2 juta penonton Indonesia.

Dalam penggarapan Kuyank, Johansyah mengaku menggali lebih dalam legenda ilmu kuyang, salah satu urban legend paling terkenal dan melekat di masyarakat Kalimantan.

"Film ini tak hanya menyajikan teror, tetapi juga menghadirkan pendekatan budaya yang kuat melalui riset mendalam dan proses produksi yang sepenuhnya dilakukan di Kalimantan," kata Johansyah, lewat keterangan resmi.

Film Kuyank resmi diputar perdana dalam Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20, beberapa waktu lalu. Foto: Dok. DHF Pictures

Proses Syuting Film Kuyank Dilakukan di Kalimantan

Untuk menghadirkan atmosfer yang otentik, proses syuting Kuyank dilakukan di berbagai lokasi di Kalimantan serta menggunakan 50 persen Bahasa Banjar, bahasa daerah yang banyak digunakan masyarakat Kalimantan.

Keterlibatan talenta lokal Kalimantan juga menjadi kekuatan film ini, mulai dari para aktor hingga kreator lokal. Termasuk ada musisi Jeff Banjar, yang menciptakan soundtrack dalam bahasa Banjar setelah Saranjana.

Film Kuyank juga menampilkan deretan aktor dan aktris papan atas Indonesia yaitu Rio Dewanto, Barry Prima, Jollene Marie, Ochi Rosdiana, Dayu Wijanto, Ananda George, hingga Hazman Al Idrus. Ada juga talenta aktor lokal Kalimantan yang memperkaya kedalaman budaya dan karakter dalam film.

Film Kuyank resmi diputar perdana dalam Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20, beberapa waktu lalu. Foto: Dok. DHF Pictures

Dibanding Saranjana, Johansyah memastikan Kuyank diproduksi dengan skala yang lebih besar, terutama pada pengerjaan visual dan efek gaib. Efek CGI film ini digarap oleh LMN Studio, salah satu studio VFX terbaik di Indonesia yang telah menangani berbagai film besar nasional maupun internasional.

"Sentuhan visual tersebut diharapkan dapat menghadirkan sosok Kuyank yang lebih nyata, mencekam, dan berkualitas tinggi, sekaligus mengangkat standar film horor lokal ke level yang lebih premium," tutur Johansyah.

Johansyah membocorkan, selain horor, Kuyank menyimpan cerita tentang perjuangan seorang perempuan mempertahankan keutuhan rumah tangganya di tengah tekanan adat, keluarga, serta ancaman gaib.

Perpaduan horor, drama, dan budaya ini membuat Kuyank hadir sebagai pengalaman sinema yang lebih kaya, bukan sekadar tontonan horor.

Pemutaran Kuyank di JAFF ke-20 jadi penanda penting bagi film Kuyank sebagai karya yang mengangkat kekayaan budaya Kalimantan ke panggung internasional. Setelah tayang perdana di JAFF, film Kuyank akan dirilis mulai 29 Januari 2026 di seluruh bioskop Indonesia.