The Groove: Bertahan 20 Tahun Tuh Susahnya Minta Ampun

Beberapa waktu belakangan ini, banyak personel grup band Indonesia yang memutuskan untuk keluar dari band yang telah membesarkan namanya di industri hiburan Tanah Air. Sebut saja beberapa diantaranya seperti The Titans, Payung Teduh, hingga Ada Band, yang memiliki nasib yang sama, yaitu ditinggal sang vokalis.
Namun hal berbeda justru dirasakan oleh salah satu grup band asal Bandung, Jawa Barat, yaitu The Groove. Band yang memiliki 7 orang personel di dalamnya ini telah eksis di belantika musik Indonesia sejak tahun 1997.
Perjalanan karier The Groove tentu tak berjalan mulus begitu saja. Mereka juga pernah mengalami jatuh-bangun, dan beberapa kali gonta-ganti personel. Bahkan, mereka juga sempat memutuskan untuk vakum sejenak dan fokus kepada kesibukan masing-masing.
Kini, mereka pun hanya bisa bersyukur saat kembali menengok ke belakang melalui masa-masa sulit tersebut. Hingga pada tahun 2010, The Groove kembali reuni lewat single 'Let's Go Reunion'.
"Bersyukur dikasih karunia bisa tetap bertahan meskipun sempat vakum lima tahun, tapi kita sih meresponsnya dengan terus berkarya, kasih yang terbaik. Karena ini sebagai ungkapan syukur kita, Tuhan kasih kesempatan untuk kita masih eksis sampai sekarang," ungkap Reza, selaku vokalis saat dijumpai di Pisa Kafe, Menteng, Jakarta Pusat.

Kemudian, Reza Jozef alias Rejos, yang berada di samping Reza pun sedikit bercerita tentang kilas balik The Groove saat memutuskan untuk vakum selama lima tahun, tepatnya pada tahun 2011 hingga tahun 2016 lalu.
"Waktu itu kita ngalamin banget (jatuh-bangun jadi anak band), makanya kita sempat vakum lima tahun di mana itu waktu yang enggak sebentar. Saat itu, ada yang kerja kantoran, ada yang full di musik. Kayak saya, aktif di Glenn (Fredly), di Maliq & D'essentials gitu, Reza juga tampil solo, pernah kerja di label juga, Rieka solo juga," kenang Rejos.
"Tapi itu ya, once kita ada waktu vakum lima tahun, ternyata baru kita disadarkan bahwa rumah kita tuh tetap di The Groove. Jadi once kita kumpul, eh main sama orang lain, kayaknya ada sesuatu yang kurang. Kita bisa dipake oleh orang lain pun karena kita ada di The Groove gitu. Energi itu kita kumpulin bareng, sampai akhirnya bisa kumpul lagi," lanjutnya.
Untuk mengenang masa-masa sulit itu, akhirnya The Groove pun menorehkan perjalanan karier mereka selama hampir 20 tahun melalui buku yang berjudul 'Forever U'll Be Mine' yang rilis di tahun 2016.

"Nah, ini kenapa kita salah satunya untuk menerangkan fase-fase yang pernah kita alamin kan kita ngeluarin buku juga. Di situ waktu itu tahun lalu 19 tahun kita berkarya. Di situ ada tuh diterangin gimana sih suka dukanya ngejalanin ini dengan berantem-berantemnya, susah senangnya," kata Rejos.
Melalui buku itu, The Groove berharap ada musisi yang bisa belajar dari pengalaman mereka, bagaimana caranya bertahan melewati berbagai jenis rintangan selama bertahun-tahun. Selama karier bermusik, The Groove mengeluarkan empat album
"Kita berharap dengan apa yang kita alami bisa reunian lagi, bisa jalan terus jadi patokan untuk orang, terutama generasi sekarang yang pengin mencoba untuk ada di industri musik lumayan lah bisa dilihat," ujar Rejos.
"Pengalaman The Groove tuh bisa jadi contoh sebenernya karena untuk mempertahankan 20 tahun sampai sekarang tuh luar biasa susahnya minta ampun, tapi bersyukur bisa bertahan, hopefully mungkin nanti bisa dilihat dari bukunya, 'Oh, ternyata ini kiat-kiatnya akan nanti rekaman akan alami ini, terus up and down-nya akan ngalamin ini mungkin di situ sih," lanjut pemain perkusi itu sembari mengakhiri obrolan.
