The Longest Wait Tak Fokus pada Individu, tapi Perjuangan Kolektif Timnas Indonesia

Co-director film dokumenter The Longest Wait, Arief Soeliscane Affandi, menjelaskan pendekatan cerita yang digunakan dalam film tersebut. Ia menyebut, film ini tidak disusun berdasarkan urutan kronologis pertandingan, melainkan mengikuti emosi dan perjalanan para pemain Timnas Indonesia.
Arief mengatakan, sebagai filmmaker, tim produksi memiliki sudut pandang tersendiri dalam mengangkat kisah perjuangan tim. Fokus mereka bukan hanya pada pertandingan, tetapi juga cerita di balik para pemain, keluarga, penggemar, dan suporter.
“Kami menceritakan dari lensa kami. Jadi lensa yang kami tampilkan di sini adalah satu, perjuangan para pemain, cerita di balik keluarga para pemain, fan, dan suporter,” kata Arief saat ditemui di kawasan Barito, Jakarta Selatan.
Ia menyadari adanya sorotan publik mengenai sejumlah fakta yang dianggap tidak ditampilkan dalam film. Namun, Arief menegaskan, The Longest Wait menggunakan pendekatan nonlinear narrative atau penceritaan yang tidak mengikuti urutan kejadian dari awal hingga akhir.
“Yang kami coba angkat di sini adalah nonlinear narrative. Jadi yang kami ikuti adalah emosinya, lalu momen apa di balik kejadian atau fakta itu yang menarik untuk disampaikan,” tuturnya.
Arief juga memastikan bahwa tim produksi tidak mengubah fakta dalam film. Ia menyebut, informasi waktu dalam sejumlah pertandingan tetap ditampilkan agar penonton dapat memahami konteks kejadian.
“Tentu tidak mungkin sama sekali kami bisa mengubah fakta, karena itu gampang sekali dicek. Kita buka internet dalam waktu lima detik, urutan pertandingan atau segala macam pasti gampang dicek,” ucapnya.
Menurut Arief, cerita yang ingin disampaikan adalah bagaimana para pemain mampu bangkit setelah mengalami rentetan kekalahan. Ia menilai, kebersamaan dan ikatan persaudaraan di antara mereka menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kemenangan.
“Ketika tim ini sedang jatuh karena rentetan kekalahan, lalu momen apa yang bikin mereka bangkit lagi, yaitu momen kebersamaan, brotherhood antara mereka yang saling menguatkan,” ucap Arief.
Arief menyebut, film tersebut tidak berfokus pada kontribusi individu tertentu, melainkan pada semangat kolektif para pemain. Ia ingin perjuangan Timnas Indonesia menjadi gambaran bagaimana sebuah bangsa dapat bangkit ketika bersatu.
“Fokus kami adalah menceritakan tentang ini adalah sebuah cerminan perjuangan bangsa bahwa anak-anak muda ini bisa jatuh, tapi ketika mereka bersatu, mereka bangkit lagi,” ungkap Arief.
Ia pun menegaskan bahwa pendekatan tersebut merupakan pilihan bercerita dari sudut pandang filmmaker, tanpa mengubah fakta yang terjadi.
“Jadi sebenarnya opsi narasi itulah yang kami coba sampaikan tanpa mengubah fakta sedikit pun. Jadi ini adalah sebuah gaya bercerita dari lensa seorang filmmaker,” tutupnya.
