Kumparan Logo

Venice Biennale 2026 Sajikan Kisah Armada Nusantara dari Danau Toba

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 hadir dengan pameran bertajuk "Printing the Unprinted". Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 hadir dengan pameran bertajuk "Printing the Unprinted". Foto: Dok. Istimewa

Venice Biennale 2026 bakal jadi panggung besar bagi Indonesia lewat pameran bertajuk Printing the Unprinted. Bukan sekadar pameran seni biasa, proyek ini menghadirkan kisah epik pelayaran Nusantara abad ke-15 yang dibalut mitologi, sejarah, hingga imajinasi lintas budaya.

Paviliun Indonesia menghadirkan tujuh perupa lintas generasi, yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Pameran ini dikuratori oleh Aminudin TH Siregar dan berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia.

Yang bikin menarik, seluruh karya dalam pameran ini dibangun dari sebuah manuskrip fiksi tentang pelayaran besar armada Nusantara selama 14 tahun, dari 1472 hingga 1486. Ceritanya dimulai dari Danau Toba, menyusuri Sumatera Barat, Malaka, Gujarat, Laut Merah, hingga akhirnya mencapai Venesia dan Eropa Tengah.

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 hadir dengan pameran bertajuk "Printing the Unprinted". Foto: Dok. Istimewa

Dalam kisah tersebut, armada terdiri dari tiga kapal imajinatif bernama Siboru Deak Parujar, Naga Padoha, dan Sahala ni Ombak. Semua perjalanan didokumentasikan oleh tokoh arsiparis fiksi bernama Datu Na Tolu Hamonangan lewat manuskrip berjudul Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage.

Narasi besar itu kemudian diterjemahkan menjadi 21 karya etsa yang terbagi dalam tujuh babak cerita berbeda.

Salah satu bagian paling mencuri perhatian adalah kisah Raja Uti Marbun Pusuk yang berlayar demi membuktikan apakah negeri-negeri di luar cakrawala masih bagian dari dunia yang sama dengan Banua Tonga. Kisah ini divisualisasikan Agus Suwage lewat karya etsa bernuansa spiritual dan diplomasi.

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 hadir dengan pameran bertajuk "Printing the Unprinted". Foto: Dok. Istimewa

Sementara itu, R.E. Hartanto menghadirkan cerita tentang armada laut dan badai besar di Selat Hormuz. Ada juga Syahrizal Pahlevi yang membayangkan ulang peta dunia dengan Danau Toba sebagai pusat peradaban.

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 hadir dengan pameran bertajuk "Printing the Unprinted". Foto: Dok. Istimewa
Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 hadir dengan pameran bertajuk "Printing the Unprinted". Foto: Dok. Istimewa

Nuansa lintas budaya terasa kuat lewat karya Mariam Sofrina yang menggambarkan pertemuan pelaut Batak dengan masyarakat Venesia. Mulai dari orang Eropa yang penasaran melihat ulos hingga pelaut Nusantara yang mencicipi roti gandum dan keju untuk pertama kalinya.

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 hadir dengan pameran bertajuk "Printing the Unprinted". Foto: Dok. Istimewa

Tak hanya soal sejarah dan pelayaran, pameran ini juga menyentuh tema spiritual, teknologi, hingga pertukaran budaya yang membentuk identitas baru.

Melalui Printing the Unprinted, Paviliun Indonesia mencoba menunjukkan bahwa Nusantara bukan sekadar objek sejarah, melainkan pusat gagasan yang aktif berdialog dengan dunia.

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 hadir dengan pameran bertajuk "Printing the Unprinted". Foto: Dok. Istimewa

Partisipasi Indonesia di Venice Biennale 2026 sekaligus menjadi penegasan bahwa seni dan budaya bisa menjadi jembatan penting untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.