Kumparan Logo

Widyawati Raih Penghargaan di 'Asia Pacific Film Festival'

kumparanHITSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Widyawati di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/1). Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Widyawati di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/1). Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan

Kabar membanggakan datang dari insan perfilman Tanah Air. Dalam 'Asia Pacific Film Festival' ke-59 yang digelar pada 8 Januari lalu, aktris senior Widyawati dan sutradara Garin Nugroho berhasil membawa pulang penghargaan di ajang tersebut.

Widyawati menang dalam kategori 'Best Supporting Actress' atas perannya sebagai Ambu Misnah dalam film 'Ambu'. Dalam acara 'Penyerahan Penghargaan 59th Asia Pacific Film Festival' di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Widyawati mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini.

"Tentunya pasti siapapun yang mendapatkan ini bersyukur, dan saya pun bersyukur. Film yang mewakili Indonesia dua-duanya membawa kemenangan," ujar Widyawati, Kamis (16/1).

Widyawati di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/1). Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan

Namun, di balik rasa bahagianya, ada perasaan sedih yang dirasakan oleh istri mendiang Sophan Sophiaan itu.

"Tapi, ada tapinya, karena saya sedih film 'Ambu' tidak tayang di seluruh Indonesia. Ini catatan khusus sedih banget, hanya tayang di Jawa Barat," ujar Widyawati.

Sementara itu, Garin juga berhasil mendapatkan penghargaan di ajang 'Asia Pacific Film Festival' ke-59 dalam kategori 'Best Original Screenplay' lewat film 'Kucumbu Tubuh Indahku'.

Garin Nugroho, sutradara. Foto: Munady Widjaja/kumparan

Sayangnya, Garin berhalangan hadir dalam acara hari ini. Penerimaan piala dan penghargaan diwakilkan oleh salah satu pemain film 'Kucumbu Tubuh Indahku', Teuku Rifnu Wikana.

"Maaf Mas Garin dan Mas Ifa (Ifa Isfansyah, produser) tidak bisa hadir, tapi salam dari mereka berdua. Tapi, yang pasti, karya ini dengan apapun yang dikerjakan Mas Garin itu benar-benar dari sudut pandang yang ingin menggambarkan perjalanan manusia," ujar Rifnu.

"Ada sisi humaniora, dan sebagainya. Yang ingin disajikan adalah ada dulu Lengger yang tersisa dan ada isu politik yang disampaikan oleh film yang digarap beliau. Lewat film ini ada metafor yang kita tangkap, bahwa film menjadi sesuatu yang bermakna bagi penonton," tutupnya.