2 Siswa SD di Bekasi Tewas Tenggelam, Bagaimana Harusnya SOP Ekskul Renang?
·waktu baca 3 menit

Belum lama ini dua orang siswa kelas 1 SDIT Ibnul Jazari, Babelan, Kabupaten Bekasi, meninggal dunia karena tenggelam saat pertama kali ikut ekstrakurikuler berenang pada Senin (11/8) lalu.
Kepala Sekolah SDIT Ibnul Jazari, Unaiz, menyebut ada dua orang yang mengawasi kegiatan itu, yakni satu orang pelatih dan satu orang koordinator. Kedua orang tersebut bertugas mengawasi 25 siswa yang ikut dalam ekskul renang.
Saat kejadian, mereka tengah mengawasi siswa lainnya yang sedang pemanasan sehingga penglihatannya teralihkan.
“Intinya itu gurunya, pelatihnya itu mendapati anak muridnya tenggelam dari anak lain gitu. ‘Bu ada yang tenggelam’ gitu. Kemudian gurunya langsung melihat, langsung diangkat gitu,” jelas Unaiz.
Tanggapan Ahli soal Insiden Siswa Tenggelam saat Ekstrakurikuler Renang
Moms, renang merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang banyak diminati oleh siswa sekolah dasar. Namun, di balik manfaatnya bagi perkembangan fisik, aktivitas ini juga memiliki risiko tinggi jika tidak dikelola dengan benar.
Belajar dari kasus itu, penting untuk mengetahui apa saja standar keselamatan serta pengawasan yang seharusnya diberlakukan saat mengadakan ekstrakurikuler renang.
Inisiator SafeKids Indonesia, Wahyu Minarto alias Paman Billie, menyebut perlu dilakukan mitigasi atau tindakan pencegahan agar insiden itu tidak terulang.
“Kejadian yang mirisnya ini terjadi di sekolah ya atau pada aktivitas sekolah gitu. Jadi, langsung aja mungkin ke mitigasi atau tindakan pencegahan, supaya tidak terjadi lagi,” tutur Paman Billie saat dihubungi kumparanMOM, Rabu (13/8).
Prosedur yang Harus Dipahami Sekolah Seputar Ekstrakurikuler Renang
1. Pastikan Peralatan dan Fasilitas Sesuai dengan Kebutuhan Anak
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah kelayakan kolam renang sebagai tempat kegiatan. Apakah kolam tersebut sesuai dengan postur tubuh dan kemampuan anak-anak atau tidak. Untuk usia anak sekolah dasar, kolam renang idealnya tidak lebih dalam dari 1,2 meter.
“Terus peralatan juga adalah perlengkapan penyelamat, emergency buoy atau pelampung darurat itu seperti apa, ada atau tidak. Tempat berjalan di sekeliling kolam renang licin atau tidak. Apakah bisa menyebabkan cedera,” ujarnya.
2. Sumber Daya Manusia yang Kompeten
Poin kedua yang tak kalah penting adalah pengawasan dari orang-orang yang terlibat. Tidak cukup hanya ada guru pendamping, namun harus ada pelatih renang profesional yang memiliki sertifikasi atau pengalaman melatih anak. Anak-anak pun perlu dicek kemampuan berenangnya, tidak bisa disamaratakan.
“Guru olahraga pun guru olahraga yang memang menguasai olahraga renang. Anak-anaknya pun skillnya seperti apa, apakah sudah bisa berenang, belum bisa berenang sama sekali, apakah sudah belajar tapi belum baik,” imbuh Paman Billie
Selain itu, rasio pengawas terhadap murid juga menjadi perhatian. Idealnya, satu pengawas untuk lima anak 1 banding 5. Jika tidak memungkinkan, rasio maksimal yang bisa ditoleransi adalah satu pengawas untuk sepuluh anak 1 banding 10.
“Apakah ada prosedur-prosedur untuk ekskul berenang. Misalnya tentukan siapa pelatihnya, kelas berapa yang saat ini ekskul berenang supaya tidak menumpuk. Prosedur ini penting untuk menjaga hal-hal yang terlewat,” tutupnya.
