3 dari 5 Pengidap Kanker Serviks Meninggal Dunia, Ini Pentingnya Deteksi Dini

Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak menyerang perempuan. Meski berbahaya, penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga banyak kasus terlambat terdeteksi.
Melalui akun Instagram resminya, @ayosehat.kemkes, Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa setiap perempuan berisiko terkena kanker serviks (kanker leher rahim), terutama mereka yang sudah aktif secara seksual. Bahkan, 3 dari 5 perempuan yang terkena kanker serviks meninggal dunia.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena infeksi Human Papillomavirus (HPV), penyebab utama kanker serviks, sering kali tidak menimbulkan gejala. Akibatnya, banyak perempuan tidak menyadari telah terinfeksi hingga penyakit berkembang ke stadium yang lebih lanjut.
Padahal, jika kanker serviks ditemukan sejak dini, peluang untuk sembuh akan jauh lebih besar. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting yang tidak boleh dilewatkan.
Jenis Pemeriksaan untuk Deteksi Dini Kanker Serviks
Kementerian Kesehatan menjelaskan terdapat beberapa metode skrining yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker leher rahim sejak dini, yaitu:
1. Tes DNA HPV
Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel sel dari leher rahim atau vagina untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi virus HPV yang berisiko menyebabkan kanker serviks.
2. Tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
Pada pemeriksaan ini, tenaga kesehatan akan mengoleskan asam asetat ke leher rahim untuk melihat ada tidaknya lesi prakanker atau lesi acetowhite yang dapat menjadi tanda awal perubahan sel.
3. Pap Smear
Pap smear dilakukan dengan mengambil sampel sel dari leher rahim untuk mendeteksi adanya perubahan sel yang tidak normal (prakanker) maupun sel kanker.
Siapa yang Dianjurkan Melakukan Skrining?
Kementerian Kesehatan menganjurkan setiap perempuan berusia 30–69 tahun yang sudah pernah melakukan kontak seksual untuk menjalani deteksi dini kanker leher rahim secara rutin.
Deteksi dini penting dilakukan meskipun tidak mengalami keluhan. Sebab, infeksi HPV umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan skrining.
Dengan melakukan pemeriksaan secara berkala, perubahan sel yang berpotensi menjadi kanker dapat ditemukan lebih cepat sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan peluang kesembuhan pun meningkat.
