Kumparan Logo

4 Gangguan Tidur pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak tidur. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak tidur. Foto: Shutterstock

Tidur yang cukup sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Setidaknya, anak-anak harus tidur selama kurang lebih 9 jam agar kesehatannya tak terganggu.

Menurut WebMD, jika anak kekurangan tidur, suasana hatinya (mood) bisa buruk sepanjang hari. Tidak hanya itu, gangguan tidur juga dapat memicu masalah memori, konsentrasi, hingga perilakunya.

Kabar buruknya, dilaporkan American Academy Family Physician (AAFP), 50% anak-anak di dunia mengalami masalah tidur. Apa saja gangguan tidur pada anak yang umum terjadi?

Jenis Gangguan Tidur pada Anak

Ilustrasi Anak Tidur. Foto: Hung Chung Chih/Shutterstock

Merangkum laman Sleep Foundation, berikut ini beberapa jenis gangguan tidur yang biasanya menimpa anak-anak dan perlu diwaspadai orang tua.

1. Insomnia

Insomnia adalah gangguan tidur yang menyerang 20-30% anak kecil di dunia. Gejalanya dapat berupa kesulitan tidur, sering terbangun, atau keduanya. Pakar medis membagi insomnia pada anak menjadi tiga kategori, yaitu:

  • Insomnia perilaku: Kondisi ini paling sering dialami balita. Gejalanya berupa tidak bisa tidur, butuh waktu lama untuk tertidur, atau sering terbangun di malam hari. Gangguan ini bisa terjadi sesekali ataupun terus-menerus hingga akhirnya mengganggu aktivitas harian si kecil.

  • Insomnia terkondisi: Kondisi ini lebih umum dialami anak-anak usia sekolah hingga remaja. Insomnia terkondisi terjadi ketika anak tidak bisa tidur dengan nyenyak karena perasaan cemas.

  • Gangguan tidur sementara: Gangguan ini terjadi saat anak bepergian, sakit, atau antusias terhadap sesuatu sehingga menyebabkan serangan insomnia jangka pendek.

2. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

OSA terjadi ketika jaringan di tenggorokan menghalangi jalannya udara menuju hidung saat tidur. Hal ini dapat menyebabkan henti napas sesaat dan mengganggu kualitas tidur secara signifikan.

Sekitar 1-5% anak-anak mengalami sleep apnea. Penyebab umumnya meliputi pembesaran amandel, obesitas, kondisi gigi, atau cacat lahir tertentu.

Pengobatan sleep apnea bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Namun, biasanya anak-anak akan diberikan terapi Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) atau menggunakan pelindung mulut di malam hari.

3. Mendengkur

Ilustrasi anak tidur mendengkur. Foto: Shutter Stock

Mayoritas anak-anak yang mengalami sleep apnea biasanya akan mendengkur. Namun, perlu diingat bahwa mendengkur tidak selalu menunjukkan masalah kesehatan yang serius.

Hanya saja, tak ada salahnya mendiskusikan kondisi anak dengan dokter jika mereka mendengkur terlalu keras. Dokter mungkin akan merekomendasikan tes studi tidur untuk mengevaluasi lebih lanjut dengkuran dan tidur anak.

4. Berjalan Sambil Tidur

Berjalan sambil tidur alias sleep walking dikenal juga dengan istilah somnambulisme. Sesuai namanya, gangguan tidur ini melibatkan aktivitas berjalan ataupun perilaku kompleks lainnya saat anak tertidur.

Somnambulisme lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Perbandingannya sekitar 5% pada anak-anak dan hanya 1,5% pada orang dewasa.

Jika anak Anda mengalami kejadian ini secara terus-menerus, sebaiknya segera konsultasi ke dokter, Moms. Dokter dapat mencari tahu penyebab yang mendasarinya untuk memberikan perawatan yang efektif.

Baca Juga: Sampai Umur Berapa Normalnya Anak Masih Tidur dengan Orang Tua?