Kumparan Logo

4 Jenis Kebiasaan Anak yang Bisa Berdampak Buruk dan Cara Mengatasinya

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak kebiasaan gigit pulpen. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak kebiasaan gigit pulpen. Foto: Shutter Stock

Setiap orang tua ingin anak yang dilahirkan memiliki karakter dan kebiasaan yang positif. Namun, seiring berjalannya waktu, anak kerap melakukan berbagai hal dan terus berlanjut menjadi kebiasaan sehari-harinya.

Nah Moms, kebiasaan yang dilakukan si kecil tak melulu positif, terkadang juga berdampak negatif. Biasanya, kebiasaan negatif yang dilakukan merupakan tanda anak sedang mengalami stres, kecemasan, atau merasa tidak nyaman.

Dikutip dari Mom Junction, berikut beberapa kebiasaan negatif yang umum dilakukan anak, beserta dengan cara mengatasinya.

Menghisap jempol anak

Orang tua perlu bersikap bijak atasi kebiasaan anak mengisap jempol Foto: Shutterstock

Kebiasaan menghisap jempol biasanya dimulai saat anak berusia 2 - 4 tahun. Kebiasaan ini disebabkan karena refleks alami pada anak yang membuat mereka menyimpan ibu jari atau jari tangan lainnya ke dalam mulut. Biasanya, kebiasaan ini dilakukan saat si kecil tidur atau melamun.

Namun, bila kebiasaan ini dibiarkan begitu saja, maka dapat memengaruhi susunan dan masalah gigi anak kemudian hari. Oleh karena itu, cobalah untuk menjelaskan bahwa hal yang mereka lakukan adalah salah satu bentuk kebiasaan buruk. Selain itu, saat hendak menghentikan kebiasaan si kecil, sering-seringlah berada di sampingnya. Bila anak menunjukkan tanda-tanda akan menghisap jempol, segera cari aktivitas lain untuk menghindarinya.

Menggigit kuku

Anak menggigit kuku Foto: Shutter Stock

Selain orang dewasa, anak-anak juga memiliki kebiasaan menggigit kuku saat sedang stres. Menurut Nemours Foundation yang berbasis di AS, sekitar 30 - 60 persen anak-anak menggigit lebih dari satu kuku. Meskipun belum diketahui secara pasti penyebab anak menggigit kuku, banyak yang percaya bahwa hal itu disebabkan karena faktor stres dan kecemasan.

Meski demikian, kebiasaan itu perlu dihentikan sedini mungkin, Moms. Salah satu cara untuk mencegahnya dengan cara membuat anak tetap sibuk dengan menggunakan kedua tangannya. Misalnya, membuat kerajinan tangan, melukis, dan menggunakan kuteks pada jari anak perempuan.

Menggertakkan gigi

Gertakan gigi umumnya terjadi saat anak sedang tidur nyenyak atau stres. Alasan lain anak melakukan kebiasaan itu karena sedang tumbuh gigi, ketidaksejajaran gigi atas dan bawah, serta rasa nyeri pada gigi atau gusi.

Ilustrasi gigi anak. Foto: Shutterstock

Menurut Nemours Foundation, 2 hingga 3 dari 10 anak memiliki kebiasaan menggertakkan gigi atau mengatupkan rahang. Dalam istilah medis, kebiasaan ini disebut sebagai bruxism.

Jika kebiasaan ini terjadi sebelum tidur atau saat tidur, cobalah untuk membuat si kecil merasa rileks dengan mandi air hangat atau membaca buku. Namun, dalam beberapa kasus, konsultasi dengan dokter gigi bisa membantu orang tua untuk mengatasi kebiasaan tersebut.

Bermain gadget

Salah satu kebiasaan lain yang kerap dilakukan anak adalah bermain gadget. Ya Moms, gadget memang dapat membantu untuk menenangkan si kecil saat rewel ataupun saat tidak mau makan. Tetapi, bila kebiasaan ini dilakukan terus menerus, maka dapat memengaruhi pertumbuhan otak anak. Ya Moms, 90 persen pertumbuhan otak anak terjadi sebelum usia lima tahun. Jika lebih tertarik dan sudah terbiasa dengan layar gadget, maka mereka akan kurang tertarik pada lingkungan sekitar, sehingga dapat mengganggu kemampuan belajar anak. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan anak berusia 2 - 5 tahun hanya disarankan menggunakan gadget selama satu jam per hari.

Ilustrasi anak main gadget sambil makan. Foto: Shutter Stock

Oleh karena itu, sebaiknya berikan gadget pada si kecil hanya untuk tujuan pendidikan, seperti nonton film yang mengedukasi, mencari latihan soal, ataupun mencari penjelasan atau informasi tambahan tentang materi pelajaran. Di samping itu, sebaiknya orang tua membatasi pemberian gadget saat si kecil tidak ingin melakukan hal tertentu, seperti makan atau saat rewel. Sebagai gantinya, cobalah untuk membuat aktivitas yang lebih menarik, atau berikan rewards bila mereka bisa menyelesaikannya.

kumparan post embed