Kumparan Logo

5 Faktor yang Pengaruhi Kesehatan Mental Anak Praremaja

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak praremaja depresi. Foto: Studio Romantic/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak praremaja depresi. Foto: Studio Romantic/Shutterstock

Kesehatan mental anak juga perlu diperhatikan ibu dan ayah, terutama saat sudah menginjak usia praremaja. Ya Moms, anak yang hendak menginjak usia remaja ini akan mengalami berbagai perubahan. Mulai dari pikiran, perasaan, perilaku, hingga suasana hatinya.

Jika diabaikan, hal ini bisa memicu terjadinya depresi. National Institute of Mental Health (NIMH) menyatakan, sekitar 4,1 juta anak-anak berusia 12-17 tahun mengalami satu kali episode depresi berat pada 2020. Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperkirakan anak-anak SMA memiliki perasaan sedih terus menerus pada 2019.

Apa Saja yang Pengaruhi Kesehatan Mental Anak Praremaja?

Ilustrasi anak praremaja stres. Foto: Shutterstock

Mengutip Health Cleveland Clinic, beberapa bagian otak anak yang akan menginjak usia remaja sudah berkembang sempurna, terutama pada bagian yang bertanggung jawab untuk membangkitkan emosi. Namun, fungsi otak lainnya masih dalam tahap perkembangan, termasuk kemampuan untuk mengelola dan mengatur emosi tersebut. Artinya, anak praremaja dan remaja mengalami gejolak atau perubahan besar pada tubuhnya, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.

Di samping itu, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhinya, yaitu:

1. Ketidakpastian di sekolah

Pandemi virus corona yang mengubah struktur, jadwal, dan metode pembelajaran jarak jauh dapat mempengaruhi kesehatan mental anak.

2. Kekhawatiran sosiopolitik

Rasisme sistemik, kekerasan bersenjata, perubahan iklim, dan sejenisnya dapat mempersulit anak praremaja untuk bereksplorasi.

Ilustrasi rasis. Foto: Getty Images

3. Ketidakstabilan ekonomi keluarga

Orang tua yang kehilangan pekerjaan atau tidak bisa mendapatkan pekerjaan kerap membuat anak stres. Hal ini pun berdampak pada makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari sehingga mempengaruhi kesehatan anak.

4. Pelecehan di rumah

Studi 2021 menemukan bahwa lebih dari 10 anak mengalami pelecehan emosional dari orang tua mereka dan 11 persen melaporkan kekerasan fisik.

Ilustrasi kekerasan pada anak. Foto: Master1305/Shutterstock

5. Kematian orang yang dicintai

Kehilangan orang yang dicintai, seperti orang tua, saudara kandung, dan kerabat, mungkin membuat anak sedih berkelanjutan dan mengalami perubahan suasana hati.

Sementara itu, tekanan untuk berprestasi secara akademik, tekanan sosial, termasuk intimidasi, eksposur berlebihan ke media sosial, dan kebiasaan tidur yang buruk, juga bisa mempengaruhi kesehatan mental anak, Moms.

kumparan post embed