7 Risiko yang Mengintai Bila Anak Sering Gigit Kuku

Ada anak yang suka menggigiti kuku-kukunya. Bila tak dihentikan, hal ini bisa jadi kebiasaan dan bukan tak mungkin terbawa hingga anak remaja bahkan dewasa.
Mengutip laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), agak sulit menentukan yang menjadi pencetus kebiasaan ini pada anak. Seringnya, didapati saat si kecil sedang dilanda rasa cemas atau dalam keadaan stres.
Karena itu, Anda perlu membantu si kecil menghentikan kebiasaannya menggigit kuku, Moms. Hal ini juga penting agar anak terhindar dari beberapa risiko ini:
Laman IDAI menyebut kebiasaan menggigit kuku dapat meningkatkan risiko perubahan susunan gigi (maloklusi). Hal ini terutama terjadi pada deretan gigi bagian depan.
Bila dilakukan secara berkepanjangan bisa sebabkan retakan kecil pada gigi maupun radang gusi.
Jika terjadi infeksi pada kuku akibat jamur atau bakteri, maka dengan menggigiti kuku bisa menyebarkan infeksi ke rongga mulut.
Risiko tersedak saat kuku yang digigit terlepas dan tak sengaja termakan anak.
Orang tua tak tahu persis, tangan anak kebetulan sedang kotor atau tidaknya. Bila kotor, maka bisa memasukan kotoran dan kuman ke dalam mulut. Dampak selanjutnya, anak berisiko sakit perut, Moms.
Merusak tampilan kuku menjadi jauh lebih pendek, pertumbuhan kuku terganggu, kadang anak menggigit sampai berdarah, hingga meradang.
Muncul jerawat yang terjadi karena setelah anak menggigit kuku, lalu menyentuh wajahnya. Akibat kuman dan infeksi bisa memunculkan jerawat.
