Anak Stunting, Apa Bisa Diatasi Setelah Usia 2 Tahun?

Stunting menurut World Health Organization (WHO) adalah ganguan tumbuh kembang yang dialami oleh anak akibat dari gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupan. Anak stunting memiliki tubuh lebih pendek dari standar anak seusianya.
Namun tak hanya bertubuh pendek, stunting juga sebabkan anak rentan terkena penyakit degeneratif. Itulah kenapa kondisi stunting pada anak, perlu segera diatasi karena dapat berdampak hingga si kecil dewasa. Penanganan anak stunting sebaiknya dilakukan sebelum usia anak mencapai dua tahun.
Ya Moms, bila belum berusia 2 tahun, stunting belum terlambat untuk ditangani sebab si kecil masih menjalani 1000 hari pertama kehidupan. Pada periode ini, tumbuh kembang anak masih dapat dikejar lewat nutrisi dan stimulasi.
Penanganan atau intervensi stunting pada anak di bawah 2 tahun dapat dilakukan dengan memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan, lalu dilanjutkan dengan tambahan memberikan makanan pendamping ASI hingga usianya 2 tahun atau lebih.
Namun bagaimana dengan anak stunting yang sudah berusia lebih dari 2 tahun?
Cara Atasi Anak Stunting Setelah Usia 2 Tahun
Mengutip laman Adoption Nutrition, bila anak stunting lebih dari usia 2 tahun maka ada risiko tidak bisa memenuhi potensi pertumbuhan yang hilang meski nutrisinya dipenuhi setelah itu. Anak-anak dengan riwayat stunting juga berisiko mengalami keterlambatan kognitif dan kemampuan belajar.
Hal ini juga pernah dipaparkan oleh Menteri Kesehatan Nila F Moeloek pada acara Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) tahun 2018 yang lalu. “Kalau sampai 5 tahun (anak stunting) ini baru dicecar makanan, bukannya tinggi malah besar ke samping. Nanti korelasinya ke penyakit tidak menular makin meningkat,” ungkap Nila.
Tapi bukan berarti anak stunting usia 2 tahun ke atas sudah tidak punya harapan dan tidak perlu diatasi, Moms. Ia juga bisa tumbuh meski lebih pendek daripada teman-teman sebayanya. Hanya, pemenuhan nutrisi sehari-hari harus lebih waspada agar tak terkena obesitas.
