Kumparan Logo

Anak Takut Lihat Darah, Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua?

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak fobia. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak fobia. Foto: Shutter Stock

Selain orang dewasa, fobia juga bisa dialami oleh anak balita. Ya Moms, tentunya hal ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi si kecil. Salah satu fobia yang bisa terjadi adalah hemofobia atau ketakutan saat melihat darah.

Healthline melansir, hemofobia adalah kondisi di mana seseorang takut melihat darah. Biasanya, anak yang memiliki hemofobia akan menunjukkan gejala tertentu bila melihat darah di sekitarnya, seperti mengamuk, berlindung dekat orang tua, menangis, dan enggan untuk ditinggal.

Ilustrasi tes darah. Foto: Shutterstock

Hemofobia cukup sering dikaitkan dengan gangguan psikoneurotik lainnya, seperti agorafobia atau takut di tempat terbuka, fobia hewan, dan gangguan panik. Selain itu, beberapa faktor yang bisa memicu hemofobia pada anak misalnya, seperti faktor genetika, pola pengasuhan orang tua, dan trauma yang dimiliki anak. Hal ini biasanya diketahui saat usia 9 tahun untuk anak laki-laki, dan 7,5 tahun untuk anak perempuan.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Cara Atasi Hemofobia pada Anak

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi hemofobia pada anak, yaitu:

1. Terapi paparan

Terapi paparan termasuk salah satu jenis terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi hemofobia pada anak. Ya Moms, terapi ini melibatkan visualisasi anak untuk melihat objek ketakutan dari dekat untuk mengurangi rasa takut.

Hanya saja, terapi ini memerlukan jangka waktu panjang untuk hasil yang optimal. Terapi ini juga baru bisa dilakukan saat anak menunjukkan gejala yang lebih ringan ketika melihat darah.

2. Terapi kognitif

Selain terapi paparan, terapi kognitif juga dapat mengatasi hemofobia pada anak. Terapi ini berfokus untuk mengatasi rasa takut anak.

Ilustrasi anak fobia. Foto: Shutter Stock

3. Terapi ketegangan

Terapi ketegangan dilakukan untuk mencegah anak kehilangan kesadaran saat menghadapi rasa takut ini. Jenis terapi ini dilakukan dengan cara mengencangkan otot-otot di lengan, dada, dan kaki saat pemicu fobia atau darah muncul. Salah satu cara yang kerap dilakukan, yakni menonton video proses operasi.

4. Relaksasi

Anak dengan hemofobia disarankan untuk rajin melakukan relaksasi, seperti yoga, meditasi, pijat, dan terapi musik untuk melawan rasa takut tersebut.

5. Konsumsi obat

Ada beberapa kasus anak dengan hemofobia yang memerlukan bantuan obat-obatan. Hanya saja, dokter perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum menyarankan perawatan ini.

kumparan post embed