Apa itu Child Grooming? Mengenal Bahaya Kekerasan Seksual Terselubung
·waktu baca 3 menit

Child grooming menjadi salah satu bentuk kekerasan terhadap anak yang semakin perlu diwaspadai, terutama di era digital saat ini. Kasusnya sering kali tidak terlihat secara kasat mata karena berlangsung secara halus, bertahap, dan manipulatif. Inilah yang membuat banyak anak maupun orang tua tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam situasi berbahaya.
Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, menjelaskan, child grooming merupakan proses manipulatif yang dilakukan pelaku terhadap anak dengan tujuan akhir eksploitasi seksual.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming adalah proses pendekatan yang dilakukan secara bertahap oleh pelaku untuk membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan anak. Anak dalam konteks ini umumnya berusia di bawah 18 tahun, Moms.
Berbeda dengan kekerasan fisik yang terlihat jelas, grooming berlangsung secara perlahan dan terencana.
“Dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan dan kedekatan emosional. Ini yang disasar memang kedekatan emosionalnya terlebih dahulu agar anak tidak merasa kalau dia dimanipulasi. Tetapi dia merasa ‘oh aku aman, oh aku percaya dengan orang ini’ tetapi tujuan akhir dari pelaku itu adalah eksploitasi seksual,” tegas dr. Ariani dalam acara webinar bersama IDAI, Rabu (31/3).
5 Poin Penting Child Grooming
Untuk memahami child grooming lebih dalam, berikut lima ciri utama yang perlu dikenali:
1. Proses Bertahap
Grooming tidak terjadi secara instan. Pelaku membutuhkan waktu untuk mendekati korban, membangun hubungan, dan memanipulasi secara perlahan hingga anak merasa nyaman.
2. Membangun Kepercayaan
Pelaku tidak hanya mendekati anak, tetapi juga lingkungan sekitarnya seperti keluarga dan teman. Mereka sering tampil sebagai sosok yang baik dan dapat dipercaya, sehingga sulit dicurigai.
3. Manipulasi Emosional
Pelaku memanfaatkan kondisi emosional anak yang masih labil. Anak dibuat merasa dihargai, istimewa, dan diperhatikan, hal yang mungkin tidak ia dapatkan sebelumnya. Ini membuat anak semakin terikat secara emosional.
4. Terjadi Secara Daring maupun Langsung
Grooming bisa terjadi secara langsung (tatap muka) maupun melalui dunia digital, seperti media sosial, aplikasi chat, hingga game online. Percakapan yang tampak biasa bisa menjadi pintu masuk manipulasi.
5. Berujung pada Eksploitasi Seksual
Tujuan akhir dari grooming adalah eksploitasi seksual. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga jangka panjang, termasuk gangguan mental, sosial, dan perkembangan otak anak.
Data menunjukkan, anak masih menjadi kelompok paling rentan terhadap kekerasan seksual. Sepanjang tahun 2025, tercatat ribuan anak menjadi korban kekerasan. Jumlah korban anak bahkan lebih tinggi dibandingkan korban dewasa.
“Beberapa laporan dari KPAI sepanjang tahun lalu tercatat 2.063 anak menjadi korban kekerasan, jadi memang anak ini masih menjadi kelompok yang lemah, kelompok yang rentan. Kalau data dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban sepanjang tahun lalu dari korban anak mencapai 1.464 pemohon, kalau dewasanya 312,” tutupnya.
