Apa itu Disabilitas? Begini Cara Menjelaskannya pada Anak

Sudahkah Anda mengajak si kecil menyaksikan berbagai pertandingan yang ada di gelaran Asian Para Games 2018, Moms? Pesta olahraga disabilitas terbesar se-Asia ini berlangsung pada 6-13 Oktober 2018 di Jakarta dan memang sayang untuk dilewatkan.
Baik mengajak anak nonton langsung di venue atau lewat layar kaca, momen ini bisa jadi kesempatan berharga untuk Anda menjelaskan pada si kecil makna dari disabilitas sekaligus mengajarkan anak bagaimana ia harus menyikapinya. Melalui kumparanMOM, Orissa Anggita Rinjani, psikolog pendidikan dari Rumah Dandelion, memberi panduan bagaimana cara melakukannya:
Disabilitas itu, apa sih?
Jelaskanlah makna disabilitas pada anak dengan sederhana, disesuaikan dengan usia pada anak. Ini adalah hal pertama yang dipesankan Orissa.
Anda bisa menyampaikan bahwa penyandang disabilitas artinya mereka memiliki perbedaan dari kita, sehingga mungkin lebih sulit untuk mengerjakan sesuatu yang bagi kita biasa saja. Kondisi ini, membuat mereka mungkin membutuhkan bantuan dari orang lain, termasuk kita.

“Beri contoh, misalnya ada anak yang untuk berjalan harus dengan kursi roda atau tongkat. Ada anak yang butuh alat bantu dengar untuk bisa mendengar dengan baik. Setelah menjelaskan tentang perbedaannya, mulailah fokus pada kekuatan mereka,” jelas Orissa.
Anda bisa menekankan pada anak, penyandang disabilitas juga punya banyak kelebihan. Ada yang bisa lari cepat, bisa main bulu tangkis, judo, dan lain-lain. Jadi anak bisa mengerti bahwa ia pun sepatutnya berfokus pada kelebihan, bukan kekurangan seseorang, termasuk para penyandang disabilitas.
Kenapa bisa terjadi pada mereka?
Anak bisa saja bertanya pada Anda, kenapa ada orang yang tidak punya kaki atau tidak bisa mendengar? Cobalah menjawabnya dengan bijak, Moms.
Jawab bahwa kekurangan pada penyandang disabilitas bukanlah salah mereka maupun orang tuanya. Jelaskan juga pada anak bahwa ada yang terlahir dengan kondisi seperti itu, ada yang mengalaminya karena sakit, ada juga karena kecelakaan.
Sekali lagi, tetap fokuskan diskusi Anda dengan anak pada kelebihan dan kemampuan para atlet disabilitas Asian Para Games. Pilihlah kata-kata positif dan hindari menggunakan kata 'cacat'.

Orissa juga memberi contoh, "Tanyakan pada anak. Ada enggak kesamaan dengan kamu? Mungkin sama-sama suka main puzzle, suka makan es krim. Disabilitas juga punya keunikan dan kelebihan seperti kamu lho!”
Kita harus bersikap bagaimana?
Jika anak bertanya bagaimana harus bersikap, tanyakan balik padanya, “Menurutmu harus bagaimana?" Ini bisa membantu Anda menilai sejauh apa anak mengerti.
Dengarkan jawaban anak, beri pujian bila menurut Anda sudah cukup tepat, dan luruskan bila belum. Anda juga bisa mengatakan, “Mereka sama lho, kayak kamu. Kalau kamu dilihatin orang gimana rasanya? Kalau diomongin di belakang gimana? Kalau kamu enggak nyaman, berarti mereka juga sama,” saran Orissa.
Selain itu, Anda bisa menyarankan bahwa penyandang disabilitas juga ingin diajak bicara, diajak bermain dengan orang yang seusianya, diberi semangat atau dukungan saat lomba, dan dihargai karyanya. Sama seperti semua orang pasti ingin seperti itu juga.

Mungkin Anda perlu menjelaskannya berkali-kali, namun jangan menyerah. Menjelaskan disabilitas pada anak berarti Anda harus terus mengajak anak menyoroti kelebihan orang lain dan persamaannya dengan kita.. Dengan begitu si kecil tidak fokus bahwa ada yang berbeda di antara para penyandang disabilitas dan dirinya.
Kenapa ada penyandang disabilitas yang hebat dan berprestasi, tapi ada juga yang tidak?
Jika si kecil menanyakan ini, Anda bisa mengambil pengalamannya sendiri sebagai contoh. Jelaskan bahwa latihan, kerja keras, kesempatan dan dukungan adalah kunci untuk siapa pun agar bisa berprestasi.
“Bisa diberi contoh, dulu anak belum bisa berjalan, karena sering latihan akhirnya bisa berjalan bahkan lari. Dulu enggak bisa main sepatu roda, sekarang bisa. Semua karena latihan, dukungan, dan enggak patah semangat,” papar Orissa.

Anda bisa juga menjelaskan bahwa penyandang disabilitas mungkin butuh waktu lebih lama untuk melakukan sesuatu, atau perlu berusaha lebih keras. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa.
Bila perlu, Anak bisa mengajak anak mencoba membayangkan bagaimana rasanya jadi penyandang disabilitas. Misalnya dengan meminta anak makan sesuatu dengan kedua tangan anak dikaitkan ke belakang. Atau berdiri selama beberapa saat dengan satu kaki. Cara ini akan lebih mudah membuat anak paham sekaligus menumbuhkan empati.
