Kumparan Logo

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Mengalami Child Grooming?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu dan anak remaja. Foto: worawit_j/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu dan anak remaja. Foto: worawit_j/Shutterstock

Kasus child grooming menjadi salah satu ancaman yang perlu semakin diwaspadai oleh orang tua, terutama di era digital ketika anak mudah berinteraksi dengan orang lain lewat media sosial, chat, hingga game online.

Masalahnya, child grooming sering kali tidak terlihat seperti ancaman di awal. Pelaku biasanya mendekati anak secara perlahan, membangun kepercayaan, lalu memanipulasi emosi anak hingga akhirnya mengarah pada eksploitasi.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika orang tua mengetahui anak diduga menjadi korban child grooming?

Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, dalam acara webinar IDAI, Selasa (31/3). Foto: dok. Tangkapan Layar

Menurut Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, respons awal orang tua sangat penting dalam membantu anak keluar dari situasi tersebut.

-Tetap Tenang saat Anak Bercerita

Menurut dr. Ariani, reaksi pertama orang tua memang sangat mungkin adalah marah, kaget, atau tidak terima. Namun, orang tua tetap perlu berusaha tenang saat anak mulai bercerita. Sikap tenang ini penting agar anak tidak merasa takut, malu, atau menyesal, karena sudah jujur kepada orang tuanya.

“Dan berusaha mempercayai anak meskipun kadang tidak logis ya,” kata dr. Ariani dalam webinar bersama IDAI, Selasa (31/3).

-Percayai Anak, Jangan Menghakimi

Ilustrasi ibu dan anak remaja. Foto: Twinsterphoto/Shutterstock

Hal lain yang tak kalah penting adalah mempercayai cerita anak, meskipun apa yang ia sampaikan mungkin terdengar tidak masuk akal bagi orang dewasa. dr Ariani menjelaskan, anak yang mengalami grooming bisa saja memiliki pemahaman yang sudah dibentuk oleh pelaku.

Mereka mungkin tidak lagi melihat tindakan tersebut sebagai sesuatu yang salah karena sebelumnya telah dinormalisasi secara bertahap. Sehingga orang tua sebaiknya tidak menyalahkan, menghakimi, atau mempertanyakan anak dengan nada menyudutkan.

-Penuhi Rasa Aman dan Kasih Sayang Anak

Setelah mengetahui anak diduga menjadi korban grooming, orang tua juga perlu fokus membangun kembali rasa aman, nyaman, dan dicintai pada diri anak. Dalam banyak kasus, pelaku grooming memang sering memanfaatkan kebutuhan emosional anak yang tidak terpenuhi, seperti kebutuhan untuk didengar, diperhatikan, atau merasa dianggap spesial.

Ilustrasi Anak Remaja Menggunakan Gadget. Foto: Odua Images/Shutterstock

“Penuhi rasa cinta dan nyaman pada anak. Jadi tidak mungkin hal-hal yang tidak dia dapatkan itu yang harus kita berikan,” ucapnya.

-Segera Konsultasi dengan Profesional

Selain itu, dr. Ariani juga menyarankan agar orang tua tidak menangani masalah ini sendirian, terutama jika anak sudah menunjukkan dampak emosional, perubahan perilaku, atau tekanan psikologis.

“Bisa dokter anak, psikolog, konselor atau guru atau di unit perlindungan perempuan dan anak. Jika dibutuhkan ada KPAI, di tingkat kabupaten kota itu pasti ada pusat pelayan terpadu perlindungan perempuan dan anak,” tutur dr. Ariani.

Cara Melindungi Anak dari Grooming Online

Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Studio Romantic/Shutterstock

Berikut beberapa langkah yang disarankan dr. Ariani untuk membantu melindungi anak dari kejahatan grooming online:

1. Gunakan pengaturan privasi di media sosial dan game online

Pastikan akun media sosial dan platform game anak memiliki pengaturan privasi yang aman, sehingga tidak semua orang bisa dengan mudah menghubungi atau berinteraksi dengan mereka.

2. Ajari anak untuk tidak membagikan informasi pribadi

Ilustrasi ibu dan anak perempuan. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Anak perlu dibiasakan sejak dini untuk tidak sembarangan membagikan identitas, alamat rumah, nomor telepon, sekolah, atau data pribadi lain kepada orang asing di internet.

3. Pantau aktivitas online anak

Orang tua juga bisa melakukan pengawasan dengan cara yang sehat, misalnya dengan memeriksa aktivitas online anak secara berkala.

“Kita bisa pakai perangkat lunak pemantauan untuk aktivitas online anak dari HP kita misalnya,” sambungnya.

4. Segera laporkan jika ada hal mencurigakan

Ilustrasi Ibu dan anak. Foto: Shutter Stock

Jika orang tua menemukan chat, ajakan, hadiah, atau interaksi yang mencurigakan, jangan ragu untuk segera melapor ke pihak yang berwenang atau lembaga perlindungan anak.

Semakin cepat situasi dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah dampak yang lebih jauh pada anak, Moms.

kumparan post embed