Banyak Kasus Positif COVID-19 di Sekolah, Simak Tips Aman PTM dari IDAI
·waktu baca 4 menit

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) penuh atau 100 persen sudah dilaksanakan di sejumlah wilayah di Indonesia. Hanya saja, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pihak sekolah perlu memahami bahwa kesehatan anak adalah hal yang perlu diutamakan.
“Sejatinya anak-anak itu dilindungi, dijaga kesehatannya, lalu memperoleh pendidikan,” kata Dokter Spesialis Anak sekaligus Ketua Satgas Covid-19 IDAI, dr. Yogi Prawira, Sp.A(K) dalam Tanya Jawab di Instagram Live IDAI, Sabtu (23/7).
Terlebih sejumlah sekolah harus kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk beberapa kelas atau bahkan lockdown satu sekolah karena ada kasus positif COVID-19. Umumnya sekolah di Jabodetabek baru masuk sekitar 1-2 minggu namun terpaksa kembali PJJ karena penularan COVID-19.
Namun, dr. Yogi menegaskan bahwa IDAI sangat mendukung PTM dilaksanakan 100 persen. Sebab, menurut pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekolah adalah tempat yang harus terakhir ditutup dan tempat pertama yang dibuka saat pandemi berlangsung.
“Secara prinsip IDAI sangat mendukung PTM, bahkan WHO menyatakan pada kondisi pandemi pun sekolah adalah tempat yang harus ditutup terakhir dan pertama dibuka, karena tidak semua anak memiliki akses untuk sekolah dari rumah,” tegas dr. Yogi.
Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan agar PTM 100 persen aman dilaksanakan?
Yang Perlu Diperhatikan Agar PTM 100 Persen Aman Dilaksanakan
Menurut dr. Yogi, hal utama yang perlu diperhatikan dan dipahami oleh orang tua dan guru adalah efek atau jangka panjang virus corona jika anak-anak terinfeksi. Sebab, dr. Yogi melihat bahwa virus corona sudah dianggap sebagai fenomena batuk pilek biasa.
“Saya melihat sekarang COVID-19 itu hanya batuk pilek biasa. Jadi, mindsetnya harus diubah dulu. Orang tua (dan guru) harus paham bahwa ini (virus corona) masih terus dipelajari,” ungkap dr. Yogi.
Dalam beberapa kasus, gejala COVID-19 pada anak-anak tergolong ringan. Namun, bukan berarti anak yang terinfeksi virus corona dapat disepelekan karena anak-anak tetap berisiko mengalami gejala sedang hingga berat, terlebih jika punya penyakit bawaan atau masalah imunitas (autoimun).
dr. Yogi menambahkan, orang tua perlu mengetahui dan memahami istilah pasca-COVID dan long COVID. Ya, ketua Satgas COVID-19 IDAI itu mengaku sering mendengar keluhan orang tua bahwa anaknya masih mengalami gejala COVID-19 saat hasil swab dinyatakan negatif.
Kondisi itu disebut long COVID dan hampir 65 persen terjadi pada orang yang terinfeksi COVID-19 dengan gejala ringan. Artinya, anak-anak sangat berisiko mengalami kondisi itu, Moms. Efek long COVID pada anak membuatnya susah berkonsentrasi hingga napasnya mudah ngos-ngosan.
“Ada yang namanya pascacovid, walaupun gejala berat sangat kecil kejadiannya pada anak, tetapi tidak menutup kemungkinan bisa jadi berat. Akibatnya anak bisa mengalami NISC atau peradangan tubuh. Jadi, jangan menggampangkan COVID,” tegas dr. Yogi.
Lalu, apa saja cara yang bisa dilakukan guru dan orang tua agar PTM 100 persen aman dilaksanakan?
Cara Agar PTM 100 Persen di Sekolah Aman
Harus ada data akurat jumlah kasus positif di wilayah atau lingkungan sekolah. Hal ini menjadi tugas pemerintah untuk terus menunjukkan transparansi kepada masyarakat agar dapat dilakukan contact tracing.
Jika siswa ataupun guru mengalami atau menunjukkan adanya gejala COVID-19 seperti batuk, pilek, demam, dan diare, segera lapor kepada pihak sekolah agar dilakukan swab.
Lakukan skrining sebelum masuk ke lingkungan sekolah seperti mengukur suhu tubuh, dan evaluasi kondisi kesehatan. Jika memungkinkan, sediakan fasilitas swab antigen sebelum masuk ke lingkungan sekolah.
Terapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan melakukan vaksinasi sebelum PTM dilaksanakan.
Belajar untuk menggunakan masker sebagai gaya hidup, bukan sebagai sesuatu yang aneh. Hindari untuk saling meledek atau mengucilkan satu dengan yang lain saat menggunakan masker.
Buka ventilasi selama PTM berlangsung agar aliran udara berganti. Hindari juga untuk berkerumun di lapangan atau area terbuka.
Gunakan dan ganti masker medis setiap 4-6 jam sekali. Jika sulit dilakukan, sebaiknya jangan memaksakan untuk PTM dilakukan 100 persen. Misalnya, 3 jam belajar di sekolah, 3 jam melalui online.
Hindari makan bersama saat jam istirahat.
Lakukan tracing pada guru atau siswa jika dari luar kota.
Pisahkan ruang kelas antara anak yang sakit, baik Covid-19 atau tidak, dan yang tidak sakit.
