Beda Golongan Darah dengan Ibu Bisa Bikin Bayi Kuning: Mitos atau Fakta?
·waktu baca 2 menit

Moms, pernah dengar anggapan bahwa perbedaan golongan darah antara ibu dan bayi bisa bikin si kecil kuning setelah lahir? Ternyata, ini bukan sekadar mitos.
Menurut Dokter Spesialis Anak yang juga expert kumparanMOM, dr. Reza Abdussalam, Sp.A, kondisi ini memang bisa terjadi dan dikenal sebagai ikterus akibat inkompatibilitas ABO.
Jadi, anggapan bahwa bayi yang memiliki golongan darah berbeda dengan ibu bisa atau berpeluang lebih besar mengalami penyakit kuning (jaundice) adalah fakta ya, Moms.
Apa Itu Ikterus Inkompatibilitas ABO?
Ikterus atau hiperbilirubin adalah kondisi saat kadar bilirubin dalam darah bayi meningkat, ditandai dengan warna kuning pada kulit, bagian putih mata (sklera), dan mukosa.
Salah satu penyebabnya adalah penyakit hemolitik akibat perbedaan golongan darah ibu dan bayi, yang memicu penghancuran sel darah merah (hemolisis).
Hal ini paling sering terjadi pada ibu dengan golongan darah O, sementara bayinya memiliki golongan darah A atau B. Ibu dengan golongan darah O memiliki antibodi anti-A dan anti-B yang bisa menyerang sel darah merah bayi, sehingga menyebabkan peningkatan bilirubin.
Kapan Gejala Muncul?
Gejala bisa mulai muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir, seperti:
-Kulit dan mata bayi tampak kuning
-Urine berwarna lebih gelap dari biasanya
-Bayi tampak lemas dan tidak mau menyusu
Namun, ada juga ikterus fisiologis yang umum terjadi pada bayi baru lahir dan muncul setelah hari pertama kehidupan, dengan puncaknya pada hari ke-3 hingga ke-5, dan biasanya mereda dalam waktu satu minggu.
“Ikterus fisiologis terjadi setelah hari pertama kehidupan dan dapat berlangsung selama satu minggu dan puncaknya terjadi pada hari ketiga sampai hari kelima,” ucap dr. Reza kepada kumparanMOM, Selasa (9/9).
Lantas, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
dr. Reza menyarankan beberapa langkah penting jika bayi mengalami kuning:
1. Berikan ASI secara rutin dan cukup, untuk membantu pengeluaran bilirubin lewat feses.
2. Pantau kadar bilirubin darah secara berkala, terutama jika muncul gejala lebih awal dari biasanya.
3. Lakukan skrining hipotiroid jika dianjurkan oleh dokter.
“Serta selalu berkonsultasi dengan dokter anaknya untuk mengevaluasi kondisi bayi apakah diperlukan tindakan seperti fototerapi atau pun transfusi tukar,” imbuh dr. Reza.
