Kumparan Logo

Benarkah Suami Lebih Drama saat Sakit Dibanding Istri? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pria sakit flu. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pria sakit flu. Foto: Shutterstock

Pernahkah Anda mengalami sakit demam atau flu dan tetap bisa beraktivitas seperti biasa, namun suami justru sebaliknya? Ketika mulai merasa badannya sakit, suami cenderung lebih sulit untuk bangun dari istirahatnya. Apa benar suami memang lebih 'drama' ketika sedang sakit?

Meski mungkin Anda menganggap suami manja dan drama saat sakit, namun para peneliti menyebutnya sebagai 'man flu'. Istilah ini merujuk pada kondisi pria yang mengalami flu atau demam, namun terlihat sangat menderita pada gejala yang dialaminya.

Dikutip dari Very Well Health, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh wanita mungkin bereaksi secara berbeda. Sehingga, ketika ibu lagi sakit, gejala yang dialami mungkin lebih ringan dibandingkan pria. Meski begitu, penelitian lain menunjukkan wanita yang terkena flu tetap berkemungkinan memiliki gejala yang sama dari pria, atau bahkan lebih parah.

Tidak hanya digunakan untuk menggambarkan respons berlebihan terhadap gejala pilek dan flu, peneliti juga mendefinisikan 'man flu' sebagai hipersensitivitas terhadap rinosinusitis (infeksi sinus) pada pria. Infeksi sinus bisa menyebabkan gejala yang mirip dengan pilek dan flu biasa, seperti hidung tersumbat, kelelahan, dan terkadang disertai demam.

Meski begitu, 'man flu' juga sempat mendapat sanggahan dari peneliti lainnya. Sebuah studi tahun 2022 menentang konsep ini karena berpendapat bahwa gejala flu dan pilek sangat bervariasi, dan tidak boleh dikaitkan dengan perbedaan gender.

Jadi, Apa Penjelasan Ilmiah 'Man Flu'?

Mengingat penelitian seputar 'man flu' masih belum mendapat hasil yang mendukung, seorang profesor dan ketua departemen keluarga dan kesehatan masyarakat di Robert Wood Johnson Medical School, Rutgers University, Alfred F. Tallia, MD, MPH, menyebut persepsi gejala flu dapat bervariasi dari orang ke orang. Bervariasinya gejala sakit yang dialami disebabkan oleh berbagai faktor, namun tidak berakar pada perbedaan sistem kekebalan tubuh wanita dan pria.

"Persepsi terhadap gejala sakit dipengaruhi oleh banyak hal. [Termasuk] kondisi kesehatan umum seseorang, kondisi lain yang dapat memperburuk atau meringankan gejala, pola asuh keluarga, atau budaya masyarakat tentang bagaimana merespons terjadinya penyakit," ujar Tallia.

Ilustrasi pria sakit. Foto: Suthida Phensri/Shutterstock

Bahkan, Tallia menjelaskan tidak ada perbedaan dalam bagaimana sistem kekebalan tubuh wanita dan pria dalam menghadapi gejala flu. Dalam beberapa kasus, wanita mungkin bisa lebih rentan terhadap flu.

"Insiden flu bervariasi menurun usia dan jenis kelamin. Tingkat influenza pada wanita --terutama usia produktif 18-49 tahun-- lebih tinggi daripada pria, dan rawat inap yang lebih tinggi dibandingkan pria pada usia yang sama," tuturnya.

Sementara dikutip dari laman Harvard Health Publishing, Harvard Medical School, ada beberapa hal penting yang perlu Anda ketahui. Salah satunya adalah kemungkinan lain bahwa pria benar-benar mengalami penyakit pernapasan yang berbeda dari wanita, atau nyeri akibat penyakit arteri koroner seperti serangan jantung. Selain itu, hal penting lainnya adalah:

  1. Vaksinasi influenza cenderung menyebabkan reaksi yang lebih lokal (kulit) dan sistemik (seluruh tubuh), serta respons antibodi yang lebih baik pada wanita. Hormon testosteron mungkin berperan, karena pria dengan kadar testosteron tertinggi cenderung memiliki respons antibodi yang lebih rendah. Respons antibodi yang lebih baik dapat mengurangi keparahan flu. Jadi ada kemungkinan pria yang divaksinasi influenza mengalami gejala yang lebih parah daripada wanita, karena mereka tidak merespons vaksinasi dengan baik.

  2. Dalam penelitian tabung reaksi terhadap sel hidung yang terinfeksi influenza, paparan hormon estradiol pada wanita mengurangi respons imun ketika sel tersebut berasal dari wanita, tetapi tidak pada sel dari pria. Pengobatan dengan obat anti-estrogen mengurangi efek ini. Karena gejala flu sebagian besar disebabkan oleh reaksi imun tubuh, respons imun yang berkurang pada wanita dapat menyebabkan gejala yang lebih ringan.

  3. Dalam setidaknya satu studi yang meninjau data selama enam tahun, pria lebih sering dirawat di rumah sakit karena flu daripada wanita. Studi lain melaporkan lebih banyak kematian di kalangan pria daripada wanita akibat flu.

Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa mungkin ada hal lain yang menyebabkan 'man flu' selain sebagai pria yang melebih-lebihkan gejala mereka atau tidak berdaya saat sakit. Meskipun buktinya tidak pasti, bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa flu mungkin lebih parah pada pria.

Pria Lebih Drama saat Sakit karena Hasil Konstruksi Sosial?

Ilustrasi pria sakit flu. Foto: Shutterstock

Di sisi lain, ada kemungkinan faktor sosiologis dan psikologis bisa menjelaskan mengapa beberapa pria tampak lebih lemah saat demam atau flu. Salah satu alasannya mungkin adalah ekspektasi masyarakat, menurut Patrice Le Goy, PhD, MBA, LMFT, seorang psikolog internasional dan terapis perkawinan dan keluarga berlisensi yang berbasis di California.

"Saya merasa anak perempuan dibesarkan dengan cara yang berbeda, menjadi lebih penyayang, dan menjadi orang yang mengurus orang lain dibandingkan yang diurus," kata Le Goy.

Kepercayaan ini mungkin membuat wanita cenderung tidak mau beristirahat yang lama atau mengambil cuti kerja saat mereka sakit. Sementara pria mungkin dikondisikan untuk mengasumsikan peran sebagai pasien daripada merawat diri mereka sendiri.

Kemudian faktor lain yang melatarbelakangi 'man flu' adalah kemungkinan adanya larangan pada pria untuk mengungkapkan ketidaknyamanan emosional saat mereka sakit.

"Banyak pria diajarkan bahwa satu-satunya [keluhan] yang sah adalah keluhan fisik. Ketika mereka sakit, [sering kali] mereka mengalami bencana besar yang bercampur dengan gejolak emosi dan stres yang tidak bisa mereka ungkapkan," ucap psikolog Justin Puder, PhD.