Berbagai Pantangan Ibu Hamil, Mana yang Anda Ikuti?

Anda sering dapat saran dari orang tua dan kerabat untuk jangan melakukan hal-hal tertentu saat hamil? Bisa jadi pantangannya itu kurang masuk di akal, meski tujuan dari pemberi nasihat adalah demi keselamatan Anda dan janin.
Dari deretan pantangan dan anjuran di bawah ini misalnya, hitung yuk Anda kebagian yang mana saja:
Larangan Duduk:
Dilarang duduk di atas alu (antan), sebab kalau melahirkan nanti akan BAB.
Dilarang duduk/makan di muka pintu, karena nanti mulut si anak kelak juga besar.
Dilarang duduk di atas lumpang, karena akan menghambat kelahiran.
Larangan Makan:
Dilarang makan di tempat tidur, karena bila bersalin akan sulit dan nanti anaknya bisulan.
Dilarang makan dalam takir, sebab akan menutup jalannya bayi.
Dilarang duduk/makan di muka tungku karena anaknya nanti mulutnya lebar.
Larangan Kegiatan Lain:
Dilarang mengambil barang dengan berjinjit (berdiri pada ujung kaki), sebab akan mengakibatkan keguguran.
Dilarang mandi terlalu malam, karena akan memperpanjang saat kelahiran.
Dilarang berkalung handuk, sebab anaknya nanti akan kalungan usus.
Dilarang berselimut sarung, takut anaknya nanti akan lahir bungkus.
Dilarang menyumbat lubang karena akan menghambat kelahiran.
Dilarang melepas rambut pada waktu malam, karena mempersulit pada waktu melahirkan.
Tidak boleh membuang air panas, supaya bayinya tidak mudah kena penyakit sulet.
Pada waktu matahari terbenam tidak boleh keluar rumah supaya terhindar dari roh-roh jahat.
Tidak boleh membakar tempurung/ranting bambu supaya anaknya kelak tidak nakal.
Tidak boleh berziarah ke kubur dan makan selamatan orang meninggal supaya tidak terkena sawan mayat.
Tidak boleh makan dengan pinggan cekung karena bila dilanggar akan melahirkan sukar/sulit.
Tidak boleh memakai subang/cincin karena dapat menghambat kelahiran.
Memaki-maki atau membenci orang karena anaknya nanti akan seperti orang yang dibenci itu.
Dilarang menjahit dengan tangan, supaya tidak menghambat kelahiran.
Dilarang melihat sesuatu yang menakutkan atau mengerikan karena akan berakibat buruk terhadap bayinya.
Ibu hamil bila menyapu sampahnya harus lekas dibuang, supaya kalau melahirkan mudah.
Larangan untuk Suami:
Ada pula beberapa anjuran yang masih dipercaya ibu hamil dan suaminya. Karena menurut kepercayaan, apabila anjuran- anjuran itu ditaati akan membantu lancarnya kelahiran atau berakibat baik terhadap kelahiran. Anjuran-anjuran yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Selama isterinya hamil sebaiknya suami berpuasa Senin – Kamis. Di samping itu harus banyak beramal.
Selama isterinya hamil sebaiknya si suami kalau tidur malam sesudah jam 12.00 malam.
Anjuran:
Wanita yang sedang hamil dianjurkan makan daging burung kepodang (burung yang elok parasnya), supaya paras anaknya nanti elok.
Wanita hamil dianjurkan untuk minum air kelapa muda (Jawa: banyu degan), agar pada waktu anaknya lahir kulitnya bersih dan halus. Apabila kandungan sudah mencapai umur 6 bulan, ibu yang mengandung dianjurkan minum minyak kelapa murni 1 sendok setiap hari supaya kelahiran berjalan lancar.
Kalau mencuci pakaian air cucian harus lekas dibuang, supaya kelahiran berjalan lancar.
Ibu hamil dianjurkan untuk minum jamu tradisional.
Ibu hamil dianjurkan makan buah-buahan sisa burung atau kelelawar, agar nanti anaknya pandai makan sendiri, atau kalau sudah besar pandai mencari nafkah sendiri.
Ibu hamil dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan, misalnya bila akan mengerjakan sesuatu harus membersihkan kaki, tangan dan mukanya. Bahkan bilamana akan tidur, meskipun hanya merupakan syarat kuku kaki maupun tangan supaya dikerik dengan pisau atau silet. Hal ini menurut kepercayaan menyebabkan bayi yang akan dilahirkan nanti berparas cantik.
Ibu hamil bila akan tidur dianjurkan mencuci kakinya dengan air yang diberi garam, maksudnya supaya tidak didekati binatang berbisa seperti ular.
Pantangan dan anjuran di atas masih diterapkan pada sebagian masyarakat di Tulungagung. Sekalipun mereka mengetahui bahwa hal diatas banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang mereka anut. Sedangkan selamatan atau tradisi upacara saat hamil, juga masih banyak yang menjalankan meski banyak tradisi yang bertentangan dengan agama.
Lantas bagaimana dari sisi medisnya? kumparanMOM kemudian menanyakan deretan pantangan dan mitos tersebut ke dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi, dr. Dinda Derdameisya, SpOG dari Brawijaya Women & Children Hospital, Jakarta.
"Jadi semua yang ada di atas itu mitos. Enggak ada yang benar sesuai medis," katanya.
Tapi ia kemudian menambahkan, untuk tak cepat-cepat menentang pantangan dan anjuran itu, Moms. Menurutnya, sebagai masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi tradisi dan sebagai bentuk menghormati orang tua, maka mitos dan anjuran itu sebenarnya tidak masalah pula bila calon ibu ingin menjalaninya.
"Enggak apa-apa bila mau dijalankan, asalkan kita sebagai generasi muda tahu kalau secara medis itu enggak ada pengaruh. Jadi, melakukan yang dianjurkan nenek moyang, murni karena kita menghargai tradisi yang telah dibentuk. Selain itu penting pula bagi para ibu-ibu muda yang sedang hamil untuk tahu referensi medis dan ilmu pengetahuan terkait kehamilan. Jadi tradisi-tradisi itu nggak perlu ditentang," jelasnya.
Nah, bagaimana dengan Anda? Adakah lebih dari satu pantangan dan anjuran yang diterapkan?
