Kumparan Logo

Bersinar di Piala Dunia, Ini Pelajaran Parenting dari Orang Tua Erling Haaland

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain tim nasional Norwegia, Erling Haaland, merayakan gol kedua timnya dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Pantai Gading yang berlangsung di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Selasa (30/6/2026). Foto: Hannah McKay/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pemain tim nasional Norwegia, Erling Haaland, merayakan gol kedua timnya dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Pantai Gading yang berlangsung di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Selasa (30/6/2026). Foto: Hannah McKay/REUTERS

Nama Erling Haaland menjadi perbincangan dunia setelah tampil gemilang bersama Timnas Norwegia di Piala Dunia 2026. Striker berusia 25 tahun itu mencetak dua gol saat Norwegia menyingkirkan Brasil dengan skor 2-1 pada babak 16 besar, sekaligus mengantarkan negaranya melaju ke perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Di balik ketajamannya di lapangan, Haaland ternyata tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat mendukung. Ayahnya, Alf-Inge Haaland, merupakan mantan pesepak bola profesional yang pernah bermain di Premier League bersama Nottingham Forest, Leeds United, dan Manchester City. Sementara sang ibu, Gry Marita Braut, adalah mantan atlet heptathlon nasional Norwegia.

Latar belakang keluarga atlet membuat Haaland akrab dengan olahraga sejak kecil. Namun, yang menarik, orang tuanya tidak membesarkannya dengan target menjadi bintang sepak bola. Mereka justru memberi ruang bagi Haaland untuk menikmati proses dan menemukan minatnya sendiri.

Orang Tua Erling Haaland Tidak Memaksa, tetapi Selalu Mendukung

Erling Haaland dari Manchester City merayakan gol keempat mereka untuk melengkapi hattricknya pada pertandingan Piala FA antara Manchester City vs Liverpool di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, Sabtu (4/4/2026). Foto: Phil Noble/REUTERS

Dalam wawancara bersama GQ, Alf-Inge Haaland mengungkapkan bahwa ia sengaja tidak terlalu ikut campur ketika Erling mulai mengikuti latihan maupun pertandingan.

"I stayed in the background, especially around the organised training—and the matches. I didn't say a word."

Alih-alih terus memberi arahan dari pinggir lapangan, Alf-Inge memilih mempercayakan proses belajar putranya kepada pelatih. Menurutnya, anak membutuhkan ruang untuk berkembang, mengambil keputusan, dan belajar dari pengalaman.

Ia juga mengatakan bahwa sejak kecil, Erling memang menunjukkan kecintaan terhadap sepak bola.

"He wanted to play the game, and I could see the passion."

Bagi Alf-Inge, tugas orang tua bukan menciptakan minat pada anak, melainkan mengenali potensi yang sudah ada, lalu membantu anak mengembangkannya.

Disiplin Dibangun Menjadi Kebiasaan

Selebrasi Erling Haaland saat laga Man City vs Bournemouth di pekan 10 Liga Inggris 2025/26 di Stadion Etihad, Minggu (2/11). Foto: REUTERS/Phil Noble

Selain dukungan emosional, Haaland juga dibesarkan dengan kebiasaan hidup yang disiplin. Sejak usia muda, ia terbiasa menjaga pola makan, tidur cukup, serta berlatih secara konsisten.

Dalam beberapa wawancara, Haaland mengungkapkan bahwa kualitas tidur, asupan protein, hidrasi, dan pemulihan fisik merupakan bagian penting dari performanya sebagai atlet profesional. Kebiasaan tersebut tidak muncul secara instan, melainkan dibangun sejak ia masih remaja bersama dukungan keluarganya.

Tak hanya fokus pada sepak bola, Haaland juga sempat mencoba berbagai cabang olahraga lain, seperti atletik, handball, hingga golf. Pengalaman tersebut dipercaya membantu mengembangkan koordinasi tubuh, kekuatan, dan kemampuan motoriknya.

Menikmati Proses Menjadi Kunci

Erling Haaland dari Norwegia memimpin rekan-rekan setimnya dalam Viking Row untuk merayakan kemenangan 2-1 selama pertandingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Brasil dan Norwegia di Stadion New York New Jersey pada 05 Juli 2026. Foto: Dan Mullan/Getty Images/AFP

Haaland beberapa kali menegaskan bahwa menikmati proses merupakan salah satu prinsip yang selalu ia pegang.

"The biggest thing is to enjoy what you're doing."

Bagi Haaland, mencintai apa yang dikerjakan membuat seseorang mampu bertahan menghadapi latihan yang berat maupun tekanan di level tertinggi.

Kisah keluarga Haaland menunjukkan bahwa membesarkan anak berprestasi tidak selalu berarti memberikan tekanan sejak dini. Dukungan yang konsisten, kesempatan bagi anak untuk menemukan passion, serta kebiasaan hidup yang sehat justru menjadi fondasi yang membentuk karakter dan mental juara.

Pada akhirnya, keberhasilan Erling Haaland bukan hanya tentang bakat. Di balik pencapaiannya, ada orang tua yang memilih mendampingi tanpa mendominasi, memberi teladan tanpa memaksa, serta percaya bahwa proses sama pentingnya dengan hasil.