Bisakah Menyusui Lagi Setelah Lama Berhenti?

Ada berbagai kondisi yang bisa saja dihadapi dan jadi tantangan bagi ibu menyusui. Termasuk beragam alasan dan hambatan yang membuat ibu terpaksa berhenti menyusui selama beberapa waktu.
Terlepas dari alasan yang melatarinya, berhentinya kegiatan menyusui tentu membawa dampak bagi bayi. Sebab meski bayi dapat minum ASI perah atau susu formula sebagai pengganti, menyusui secara langsung jauh lebih baik dan sangat banyak manfaatnya.
Lantas, bolehkah ibu menyusui kembali setelah lama berhenti?
Menyusui setelah Lama Tidak Menyusui, Mungkin Enggak Ya?
Jawabannya: mungkin dan bisa! Setelah berhenti ibu dapat menyusui bayi kembali dengan praktik yang disebut relaktasi. Mengutip laman Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), relaktasi adalah praktik menyusui kembali langsung dari payudara ibu, setelah dalam kurun waktu tertentu tidak menyusui.
AIMI juga menjelaskan, semakin muda usia bayi maka semakin mudah pula relaktasi dilakukan. Sementara untuk memulai relaktasi, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan ibu, yaitu:
1. Sering-sering kontak kulit dengan bayi
Melakukan kontak kulit atau skin to skin dengan bayi dapat merangsang hormon laktasi melalui isapan bayi. Manfaat lainnya, bayi dapat mencium bau ibunya dan mengakrabkan diri dengan ibu.
2. Hentikan total penggunaan dot dan botol
Alih-alih menggunakan dot dan botol, beri bayi susu atau makanan lain dengan menggunakan gelas atau sendok, agar ia lupa pada dotnya, dan mau mengisap payudara ibu.
3. Bantu dengan pipet
Bila bayi sudah mau memasukkan puting ibu ke dalam mulutnya, siapkan pipet untuk meneteskan cairan dari dalam wadah. Wadah bisa berisi ASI perah (ASIP) atau susu formula yang sedang dikonsumsi bayi saat itu.
Tahapan ini dilakukan agar ketika bayi ada dalam posisi menyusu, ia tidak akan frustrasi dengan jumlah ASI yang masih sedikit. Ini juga dilakukan untuk memancing produksi, karena isapan bayi dapat merangsang hormon laktasi bekerja.
4. Kurangi susu formula, perlahan ganti dengan ASI
Jika selama ini bayi mendapatkan cairan selain ASI, susu formula misalnya, gunakan susu formula tersebut sebagai cairan dalam wadah relaktasi. Secara perlahan kurangi jumlahnya dan ganti dengan ASI perah. Seiring stimulasi yang dilakukan oleh bayi dan ibu, ASI pun lebih banyak diproduksi dan dapat diperah.
5. Perbaiki posisi dan pelekatan saat menyusui bayi
Cari posisi yang tepat dan nyaman untuk ibu maupun bayi. Jika bayi merasa tidak nyaman dengan posisinya (biasanya karena tidak terbiasa disusui), maka sediakan waktu untuk berdekatan lebih lama.
Jangan lupa juga untuk selalu berkomunikasi dengan bayi. Ajak bayi bicara tentang proses relaktasi yang harus dilalui bersama. Meski belum bisa bicara, bayi senang diajak ngobrol lho, Moms.
6. Minta bantuan
Minta lah orang lain untuk memegang wadah berisi ASIP atau susu formula tersebut supaya jalannya lancar. Ia dapat membantu meneteskan cairan tepat diatas puting. Pastikan tetesan itu tidak berhenti, agar bayi tidak kembali frustrasi.
7. Rajin memerah ASI
Memerah ASI dari payudara dapat menstimulasi hormon laktasi untuk mulai bekerja kembali dan meningkatkan persediaan ASI. Memerah ASI dilakukan setelah menyusui bayi secara langsung (bukan sebelum). Memerah dapat dilakukan dengan tangan atau pompa ASI.
8. Sabar, sabar, sabar!
Siapkan waktu dan kesabaran yang tinggi dalam menjalani proses relaktasi karena proses ini tidak bisa diukur jangka waktunya. Semua bergantung pada niat dan usaha masing-masing ibu.
9. Temui konselor laktasi
Jangan ragu untuk menemui konselor laktasi jika merasa butuh bantuan dalam menerapkan langkah-langkah kembali menyusui ini.
Ingat, relaktasi dapat dilakukan dengan diawali niat yang kuat untuk kembali menyusui. Jadi ajak lah suami dan orang-orang terdekat untuk mendukung Anda melakukan relaktasi.
****
Saksikan video menarik di bawah ini:
