Kumparan Logo

Cara Asyik Ajari Balita Berhitung Selama di Rumah Aja

kumparanMOMverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak balita belajar - Potrait Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak balita belajar - Potrait Foto: Shutterstock

Keputusan work from home (WFH), membuat Anda bertemu balita seharian dari pagi sampai malam? Jangan sampai mati gaya, Moms! Ajari dirinya berhitung, yuk! Bisa dilakukan saat waktu istirahat Anda misalnya dan tentunya disesuaikan dengan usia si kecil.

Bagi balita berusia 3-4 tahun, ia sudah dapat memahami gagasan dengan menambah benda artinya ada peningkatan jumlah, dan sebaliknya bila ada benda yang diambil maka berkurang jumlahnya. Perlu diketahui, menurut dosen matematika di Universitas Sampoerna, Jakarta, Dhitta Puti Sarasvati, matematika juga merupakan soal kemampuan nalar dan gagasan untuk menyelesaikan sebuah masalah.

Mengutip Keluarga Kita Kemdikbud, berikut adalah 5 cara sederhana yang bisa Anda lakukan di rumah, dalam mengenalkan matematika serta menghitung dasar pada anak.

Ilustrasi anak belajar sejak dini Foto: Shutterstock

1. Berlatih Mengelompokkan Benda

Untuk mulai mengenalkan pada si kecil, pertama, Anda bisa mengajarinya mengelompokkan sebuah benda, suara, atau hal lainnya yang memiliki kesamaan. Misalnya buat kartu-kartu bergambar seperti celana harus dengan baju, sendok berpasangan dengan garpu.

Kedua, Anda bisa melatih anak balita Anda untuk mengelompokkan sesuatu berdasarkan kategori dan kriteria lebih kompleks. Seperti mainan atau baju yang punya kesamaan warna, dan lain sebagainya.

2. Berlatih Mengelompokkan Bentuk dan Pola

Bagi anak berusia 5 tahun, ajari ia soal pengelompokkan bentuk yang dimaksudkan melatih kemampuan si kecil membedakan objek yang saling berhubungan, Moms. Belajar pola juga akan mengajarkan anak untuk bisa menemukan hal-hal baru.

Pertama, Anda bisa mengajarkan pola seperti memisahkan warna dengan konsep ABAB (merah-hitam, merah-hitam), konsep ABC (mobil-truk-pesawat, mobil-truk-pesawat), atau konsep AAB (permen-permen-coklat, permen-permen-coklat).

Kedua, bisa juga mempelajari pola sederhana dengan mengenalkan bentuk yang ditemui di sekitarnya. Misalnya belajar pola dengan gerakan, seperti "Ayo main lompat, melangkah ke depan, lompat lagi, dan melangkah ke depan". Bisa juga pakai tepuk tangan, seperti "Tepuk tangan satu kali, tepuk tangan dua kali, tepuk tangan satu kali, dan tepuk tangan dua kali".

Ilustrasi anak belajar sejak dini Foto: Shutterstock

3. Berlatih Kombinasi Jumlah

Anda bisa mengajarkan anak berhitung dengan menggunakan donat susun, Moms. Misalnya ajarkan dia memasukkan 3 buah bulatan donat yang berwarna merah tempat yang pertama, kemudian selanjutnya minta dia memasukkan lagi bulatan 2 donat yang berwarna biru di tempat kedua dan selanjutnya. Tidak usah banyak-banyak, misalnya minta anak menghitung 1-3, dilanjutkan 1-5.

4. Berlatih Memasangkan Objek yang Sama

One-to-one correspondence atau memasangkan objek yang sama adalah salah satu permainan sederhana yang bisa diajarkan di rumah. Misalnya, dengan mengajak anak balita Anda untuk bermain permainan congklak. Ketika Anda mengajaknya bermain permainan tersebut, pastikan bantu ia untuk menghitung berapa biji yang dia masukan ke dalam lubang satu demi satu.

Anak bermain congklak. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

5. Berlatih Konservasi

Latihan konservasi adalah melatih anak tentang jumlah atau ukuran suatu benda tetap sama walaupun posisinya sudah berbeda. Kegiatan yang bisa Anda lakukan pada anak adalah memasak kue. Misalnya minta anak untuk menuangkan choco chips yang ada di dalam gelas ke mangkuk adonan.

Sebelum menuangkannya, ajak anak balita Anda untuk menghitungnya satu per satu ada berapa choco chip dalam gelas tersebut, lalu hitung kembali ketika ia menuangkannya ke dalam mangkuk. Dengan begitu dia akan memahami konsep tersebut, Moms.

Tapi ingat ya, mengajarkan anak berhitung tentu perlu kesabaran. Jadi wajar bila satu atau dua kali si kecil belum memahami. Sebab jika anak frustrasi karena sulit, hal itu akan membuatnya trauma. Namun bila Anda mengulang kegiatan tersebut dengan anak, mungkin lambat laun anak akan memahaminya, Moms.

kumparan post embed