Cara Atasi Anak yang Suka Mengumpat

Suatu kali Anda mendengar anak mengumpat atau berkata kasar. Selain kaget dan ingin cepat-cepat mengoreksi, pahami dulu bahwa ia belajar kata-kata baru setiap harinya yang ia serap dari lingkungannya, Moms, termasuk kata yang kurang sopan didengar.
Umumnya, saat anak berkata kasar, ia belum benar-benar memahami yang ia ucapkan. Ia juga belum memahami, apa sebenarnya kata-kata itu pantas atau tidak pantas untuk diucapkan, atau mungkin merasa keren karena sering diucapkan temannya.
Gunakan cara seperti yang telah dirangkum kumparanMOM di bawah ini, untuk mengatasi anak yang suka mengumpat. Apa saja?
1. Jangan Menertawainya
Sering kali, anak yang mengumpat dengan keras terdengar lucu, terutama jika ia tidak menyadari arti kata-katanya. Hindari menertawainya ketika Anda mendengarkan umpatan anak. Jika Anda menertawainya, sebab seolah-olah Anda merasa terhibur, maka ini akan membuatnya lebih sering mengumpat, Moms.
2. Komunikasikan Pada Anak
Katakan pada anak bahwa yang tengah ia lakukan itu adalah perkataan yang buruk, sehingga tak perlu diteruskan. Selain itu, sampaikan pula tentang akibat mengumpat pada orang lain. Katakan padanya, mungkin diawal, teman-temannya akan menganggap hal itu terdengar lucu.
Namun lama-kelamaan, teman-temannya akan menjauhinya. Katakan juga pada anak bahwa teman-temannya juga juga akan merasa tidak nyaman dan sakit hati dengan bahasa yang ia gunakan.
3. Berikan Contoh yang Baik
Ingat Moms, anak mengumpat mungkin bukan karena ia bermaksud untuk berkata hal yang tidak baik. Tapi semata-mata hanya sekadar meniru. Oleh karena itu, pikirkan pilihan kata yang Anda gunakan di rumah. Seringkali, anak mengumpat karena ia mendengar kata-kata tersebut berulang-ulang di rumah.
4. Jangan Terima Alasan
Ia mungkin akan mengatakan pada Anda bahwa ia mengumpat karena ikut-ikutan teman. Namun, jelaskan padanya bahwa si kecil mesti bisa membedakan mana yang baik dan sebaliknya. Kalau yang baik, maka boleh dicontoh, tapi yang buruk maka tak perlu.
5. Mengeluarkan Emosi dengan Cara yang Tepat
Bila seseorang dalam keadaan tertekan atau kesal, biasanya mudah mengeluarkan emosi lewat umpatan. Meski emosi marah, kesal, dan kecewa juga wajar dialami anak, ketika ia tengah merasakan hal itu, lebih baik ajari anak untuk mengenali dan menerima sejumlah perasaan negatif itu, lalu mengkomunikasikannya kepada Anda dan bersama mencari jalan keluarnya.
Misalnya, anak merasa kecewa karena Anda tidak membiarkannya bermain di luar karena hujan. Biarkan anak mengenal emosi yang tengah dialaminya itu, dan menjelaskan kekesalannya kepada Anda. Lalu berilah solusi, seperti kita akan bermain sepeda saat hujannya telah selesai.
